Benarkah Anak bukan Kertas Kosong?

Kamis, 30 Juni 2022


  

Benarkah Anak Bukan Kertas Kosong

Buku ini saya beli 2016, karena tertarik dengan judulnya. Namun, dalam hati beberapa pertanyaan muncul. Salah satunya adalah, benarkah anak bukan kertas kosong? Selama ini yang saya ketahui adalah anak ibarat kertas putih, orangtuanya lah yang memberikan warna pada anak tersebut.

Beberapa komentar positif tentang buku ini disematkan di bagian awal buku dan di sampul belakang buku. Salah satu komentarnya yaitu dari Rene Suhardono, Penulis dan Pemerhati Pendidikan, Pendiri @LimitlessCampus, "Buku ini jauh dari kesan mengajari, tetapi sudah pasti kita akan tercolek untuk menghadirkan perspektif baru dalam memandang anak, pendidikan, dan dinamika proses tumbuh kembang."


Spesifikasi Buku

Judul : Anak Bukan Kertas Kosong, Panduan Eksplorasi, Belajar, dan Berkarya di Zaman Kreatif

Penulis : Bukik Setiawan

Penerbit : panda media

Jumlah Halaman : 224

Cetakan ketiga 2016

ISBN : 978-979-780-782-5


Tentang Penulis

Bukik Setiawan adalah mantan dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Beliau menyelesaikan pendidikan master psikolologinya di Universitas Airlangga dengan tesis yang menggunakan pendekatan positif. Hal tersebut dipraktikkanya dalam mendiidk putrinya, Ayunda Damai. 

Setiap anak istimewa, sehingga beliau menstimulasi keistimewaan putrinya agar tumbuh dan berkembang. Keyakinannya semakin kuat ketika beliau mempelajari ajaran Ki Hajar Dewantara.

Buku Anak Bukan Kertas Kosong ini merupakan perpaduan antara ajaran Ki Hajar Dewantara, kajian dari tesis, pengalaman sebagai dosen, dan pengalaman mendidik anak. Semakin penasaran dengan isi bukunya.


Ki Hajar Dewantara

Pemikiran Ki hajar Dewantara menginspirasi penulis dalam menyusun buku ini. Setidaknya ada tiga pemikiran Ki Hajar Dewantara yang digunakan sebagai rujukan, yaitu :

Setiap anak istimewa

Anak bukan kertas kosong. Anak mempunyai kodratnya sendiri yang tidak bisa diubah oleh pendidik. Pendidik hanya dapat mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut.

Belajar bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke anak

Belajar adalah proses membentuk pengetahuan, menyusun pemahaman. Belajar bukan menanamkan pengetahuan, tetapi menumbuhkan potensi anak. Pendidik tidak bisa mengubah kodrat anak, tetapi hanya dapat mengarahkan tumbuhnya kodrat tersebut.

Pentingnya peran keluarga dalam pendidikan keluarga

Keluarga adalah pusat pendidikan. Pendidikan anak tetap menjadi tanggung jawab orang tua, walaupun orang tua mendelegasikan pengajaran pada orang yang lebih ahli.

Peran orang tua tidak tergantikan oleh sekolah, lembaga pendidikan atau pun lembaga bakat.



Penutup

Anak bukan kertas kosong melainkan benih kehidupan yang utuh. Setiap anak dianugerahi kemampuan belajar sejak lahir.

Pendidikan adalah proses menumbuhkan benih kehidupan yang utuh untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri dan masyarakat.








 


2 komentar

  1. Aku serius penasaran banget sama bukunya Pak Bukik.
    Dan uda ngincer buku ini sejak lama, kak Dy..
    Cari di iPusnas, terakhir belum ada. Cari versi cetaknya, sudah langka banget.

    Ternyata esensi mendidik anak bukan kertas kosong adalah mereka sudah diberi bakat dari benih kehidupan tersebut yaa, kak Dy.
    Apakah di buku Pak Bukik ini juga dijelaskan secara detil mengarahkan bakat anak?

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih