Aku Wariskan Moral Bagi Anakku

Senin, 27 Juni 2022

 

Resensi Buku Aku Wariskan Moral Bagi Anakku

-Hari ini mungkin kita sudah mulai memikirkan apa yang dapat kita wariskn ke pada anak-anak kita. Tidak ada salahnya bagi kita untuk berpikir tentang warisan tersebut. Namun, pastikan dalam deretan catatan warisan tersebut tertulis warisan warisan moral atau karakter.- Aku Wariskan Moral Bagi Anakku


Itulah sebagian blurb yang tertulis di bagian belakang buku Aku Wariskan Moral Bagi Anakku. Menurut saya kata-kata yang terdapat dalam blurb benar adanya. Moral adalah hal yang terpenting yang dapat kita wariskan pada anak cucu, karena itulah salah tugas kita sebagai kalifah di muka bumi ini. Itulah hal yang mendasari mengapa saya ingin membaca dan menulis resensinya. 

"Sesungguhnya sesuatu yang paling berat timbangannya adalah budi pekerti yang agung." Hadits

Sebetulnya saya membeli buku ini satu paket dengan buku lainnya. Bertahap nanti saya coba buat resensinya ya. Beberapa buku ini dulu rencananya sebagai bekal mendidik anak, tetapi ada saja yang membuat saya urung membaca. Semoga buku ini tetap bermakna walaupun dibaca saat ini.


Spesifikasi Buku

Judul : Aku Wariskan Moral Bagi Anakku

Penulis : Miftahul Jinan

Jumlah Halaman : 158

Penerbit : Filla Press

Cetakan : Mei 2009

ISBN : 9794222690

Jenis buku : Nonfiksi - Parenting 


Ada Apa Dengan Moral?

"Kita dapat mewariskan apa saja dari harta yang berupa rumah, tanah, mobil, saham, deposito, perusahaan dan lain-lain. Namun, pastikan dalam  setiap hal yang kita wariskan terdapat nilai atai moral yang menyertainya. Tanpa nilai atau moral yang kita wariskan kepada anak-cucu, maka harta yang kita berikan justru akan menjadi fitnah bagi mereka di kemudian hari."

Banyak lo kisah tentang beberapa hartawan yang usai mewariskan hartanya, justru menjadi alasan sengketa diantara mereka. Sedangkan, bagi mereka yang mewariskan harta dengan wujud pendidikan moral dan kompetensi bagi anak-cucu, hartanya dapat lebih berkembang dan lebih banyak memberi manfaat bagi sekitarnya.

Beberapa contoh tokoh yang mewariskan moral adalah :

Umar bin Abdul Azis

Beliau mewariskan moral ketakwaan dan taaffuf (menahan untuk menerima bantuan dari orang lain). Moral inilah yang akhirnya dapat menjamin anak cucunya hidup dalam kebenaran dan mempunyai harga diri yang tinggi.

Kennedy

Rose Kennedylah yang meletakkan moral mulia yaitu melayani publik adalah tradisi keluarga terhormat. Dalam sebuah pertemuan keluarga rutin ada semacam sosialisasi moral. Bapak ibu mereka mengajarkan bahwa politik adalah jalan lurus melayani masyarakat.

Suku Synqithy di Mauritania

Suku yang terletak di pantai Atlantik, Afrika Barat ini memiliki budaya unik, yaitu mereka membiasakan anak-anak kecil menghafalkan Al Qur'an, hadits, syair-syair dan ilmu-ilmu agama.


Moral apa saja yang perlu dijadikan wadah anak sehingga ia mampu menjalani hidupnya dengan wadah tersebut? Ustadz Anis Matta dalam bukunya Membentuk Karakter Cara Islam menyebutkan beberapa karakter yang perlu ditanamkan pada anak adalah cinta kebenaran, kekuatan kehendak, kesabaran, rasa kay, naluri sosial, cinta manusia, kedermawanan dan kemurahan hati.




Penutup

Bagaimana Sobat Dy? Sudahkah menentukan apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu nantinya? Apapun itu, pastikan sesuai dengan visi misi keluarga kita. Setiap keluarga itu unik, tidak sama antara satu dan yang lainnya.








Read More

Ani dan Danti

Minggu, 26 Juni 2022

  
cerita pendek ani dan danti


Pepohonan yang berdiri tegak di tepian danau menyejukkan siang yang terik. Melindungi pengunjung kedai dari teriknya mentari.

Petrichor hujan beberapa menit yang lalu masih tersisa. Bau khas antara sengatan matahari dan petrichor bercampur menjadi satu. Hujan di bulan Juni ini belum berakhir.

Beberapa pengunjung ada yang memilih duduk di bangku di bawah pohon karena ingin mendekati danau. Warna birunya air danau memantul, memberikan kedamaian pengunjung yang memandangnya.

Tampak beberapa pengunjung kedai menikmati makan siang. Ada pula yang hanya duduk dan bercengkrama dengan rekannya. Ada pula yang duduk menyendiri seolah menjauhi kerumunan.

"Permisi, jajannya, Tante?" ujar  Ani menawarkan dagangannya pada wanita yang sedang duduk di bangku tepi danau.

Danti, nama wanita tersebut menoleh memandangi gadis yang menawarkan dagangan padanya. Tanpa sepatah kata yang keluar dari bibir tipisnya. Netranya memandangi gadis di sampingnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. 

Ani merasa dirinya tidak diterima Danti, mengangkat kakinya perlahan dan melangkah mundur. Belum genap langkahnya mundur. Sebuah kalimat meluncur dari bibir mungilnya, "Jual apa, Dik?"

"Hmm, ada pastel, pisang goreng, lumpia, tahu isi, Tante" jawab Ani sambil menyodorkan keranjang dagangannya.

"Tinggal ini aja, silakan Tante," lanjut Ani.

"Siapa namanya?" tanya Danti.

"Ani, tante," jawab Ani.

"Kamu enggak sekolah?" tanya Danti.

"Sudah pulang Tante, tandi pulang awal, karena sudah selesai penilaian akhiir semester," jawab Ani.

"Enggak malu jualan seperti ini?" tanya Danti penuh selidik.

"Enggak, kan halal, kenapa harus malu?" jawab Ani sambil menggelengkan kepala.

"Aku hanya bisa membantu ibu dengan membantu ibu berjualan seperti ini. Aku berjualan sepulang sekolah. Aku bawa sebagian ke sekolah. Saat istirahat, aku bisa berjualan ke teman-teman," lanjut Ani.

"Tidak dilarang Guru kalau berjualan di sekolah?" tanya Danti lagi.

"Enggak, Aku minta izin dulu sebelum berjualan dan Bu Guru mengizinkan selama tidak mengganggu pelajaran. Aku kasihan sama Ibu kalau harus berjualan sendiri," jawab Ani.

"Permisi dulu ya Tante," pamit Ani.

"Eh saya kan belum beli, semuanya berapa?" tanya Danti.

"Maksudnya, Te?" tanya Ani tergagap.

"Iya saya beli semuanya, tolong dibungkus ya," lanjut Danti.

Ani pun segera memindahlan dagangannya ke dalam kantong-kantong plastik. Dikelompokkannya berdasarkan jenis kue. 

"Ini Tante," ujar Ani sambil menyodorkan kantong plastiknya.

Sejumlah uangpun disodorkan Danti.

"Banyaknya, Te," ujar Ani menanyakan sejumlah uang yang diberikan Danti.

"Sudah tidak apa-apa, untuk Ani saja ya. Salam untuk Ibu. Rajin belajar dan tetap bantu ibu ya," pesan Danti.

"Terima kasih banyak Tante," ujar Ani kegirangan dan beranjak meninggalkan Danti.

Danti terdiam, angannya teringat beberapa tahun yang lalu saat ia menjajakan dagangannya di pasar. Kisah Ani mirip dengan kisahnya dulu. Dini hari dia berjualan sebelum ke sekolah. Menjajakan gorengan  buatan neneknya.

Ayah dan ibunya meninggal karena sebuah kecelakaan maut. Kecelakaan karena ibunya berusaha mempertahankan tasnya saat dicopet. Namun naas, motor yang ditumpangi kedua orangtuanya terjatuh dan terlindas bus. 

Kini dia tinggal sendiri, neneknya telah meninggal sebulan yang lalu. Tepat seminggu setelah dia wisuda dari Universitas Terbuka.

Dia pun beranjak meninggalkan danau, kembali menuju kantor karena jam istirahat telah selesai. Kantong plastik yang dibawanya diberikan kepada teman-temanya yang telah selesai merayakan keberhasilan seorang teman yang mendapat jabatan baru.




Read More

Tahapan Perkembangan Motorik Anak

Sabtu, 25 Juni 2022

 

tahapan perkembangan motorik anak
Tahukah Sobat Dy bahwa bayi berguling, merangkak, berlatih berdiri, berjalan adalah bagian dari tahapan perkembangan motorik anak? Tahukah Sobat Dy bahwa merangkak adalah tahapan penting untuk membangun konsentrasi belajar anak? Tahukah Sobat Dy bahwa latihan melempar bola dapat berdampak pada tulisan tangan anak?

Pertanyaan di atas di atas boleh lo ditanggapi dengan, "Ah masa?" atau boleh juga ditanggapi, "Ah sudah tahu!" Tiga pertanyaan di atas hanyalah untuk mengingatkan betapa pentingnya perkembangan motorik anak. Sebab jika kemampuan motorik yang seharusnya mereka kuasai sejak dini ini belum tuntas, betapa banyak hutang kita sebagai orangtua yang harus dibayar kelak di kemudian hari.


Motorik anak

Motorik adalah kegiatan yang menggunakan otot dalam tubuh anak. Sedangkan perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak.

Pada dasarnya perkembangannya sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Sehingga setiap gerakan merupakan pola hasil interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikendalikan oleh otak.

Tahapan perkembangan motorik setiap anak tidaklah sama, tetapi tergantung pada proses kematangan tiap anak. Hal ini penting untuk diperhatikan agar segala keterlambatan dan gangguan pada perkembangan motorik anak bisa segera terdeteksi dan diperbaiki.

Keterlambatan yang tidak diperhatikan mungkin akan berpengaruh ke perkembangan motoriknya.

Perkembangan motorik anak terbagi menjadi dua, yaitu :

Motorik kasar

Motorik kasar adalah gerakan yang dilakukan anak dengan melibatkan otit besar, seperti lengan, kaki, betis atau seluruh tubuh anak. Contoh gerakan motorik kasar merangkak, berlari, melompat, melempar dan lainnya.

Motorik halus

Motorik halus adalah gerakan yang melibatkan otot kecil, seperti tangan, jari, pergelangan tangan. Contoh gerakan motorik halus mencoret kertas, menggambar, menyusun lego dan lainnya.


Tahapan perkembangan motorik anak

Perkembangan motorik terkait dengan pengendalian gerak tubuh yang terkoordinasi antara susunan syaraf, otot, otak dan spinal cord.

Berikut tahapan perkembangan motorik anak secara umum :

Usia 0-3 bulan

Saat memasuki usia tiga bulan bayi akan belajar mengangkat kepala dan dadanya dari lantai saat tengkurap. Hal ini untuk memperkuat otot lehernya. Selain itu bayi mulai senang menendang-nendangkan kakinya. Hal ini untuk memperkuat otot kakinya.

Selama tiga bulan pertama kehidupannya, bayi akan mulai mengembangkan kemampuan dan kekuatan yang akan dibutuhkannya untuk bergerak nantinya. Refleks bayi juga mulai ada dengan cara mengulurkan tangan dan merentangkan jari saat merespon suara.

Untuk melatih motorik halusnya, dapat dilakukan dengan memberikan benda yang dapat digenggam atau menyilangkan tangannya dengan lembut untuk menguatkan otot lengannya.

Usia 4-6 bulan

Pada usia ini, keseimbangan dan gerakan bayi meningkat drastis. Bayi mulai memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan, berguling. Bayi dapat mengangkat kepala dan dadanya ketika dibaringkan dalam posisi tengkurap. Kemampuan mendorong kepala dan dadanya lebih tinggi.

Kekuatan leher dan tubuhnya semakin berkembang. Bayi mulai belajar duduk dengan menggunakan tangannya untuk membantunya duduk dengan bantuan ibu. Sobat Dy, juga dapat membantunya dengan menyandarkan bayi pada bantal atau tubuh Sobat Dy.

Selain itu motorik halusnya mulai berkembang. Bayi mulai mengeksplorasi mainan dengan menggenggam serta menggapainya. Sobat Dy perlu memastikan mainan yang digenggamnya tidak membahayakan, karena mungkin akan dimasukkan ke dalam mulutnya.

Usia 7-9 bulan

Pada usia ini perkembangan motorik anak adalah koneksi sistem saraf yang terus terbentuk sehingga semakin dapat mengendalikan ototnya. Kaki bayi pun semakin kuat, Sobat Dy dapat membantu menguatkan otot kakinya dengan melatihnya berdiri sambil menopang tubuhnya. Namun, jangan dipaksa ya jika ia tampak belum siap dan kuat.

Bayi dapat dilatih berdiri dengan cara membantu bayi berdiri dari posisi duduknya dan topang badannya dalam tiga hitungan. Bayi akan memantulkan tubuhnya beberapa saat kemudian kembalikan lagi ke posisi duduk. Kebanyakan pada usia tujuh  bayi suka berdiri dan memantulkan tubuhnya naik turun atau biasa disebut bouncing.

Selain motorik kasarnya yang berkembang, motorik halusnya juga mengalami perkembangan. Bayi dapat menggunakan tangannya sebagai penyangga  keseimbangan saat duduk. Bayi pun dapat menggapai mainan dengan kedua tangannya serta mengambil benda yang lebih kecil  dengan ibu jari dan jari telunjuknya.

Usia 10-12 bulan

Pada tahap ini, motorik kasar bayi meningkat, bayi sudah dapat mengubah posisi sendiri, misalnya dari tengkurap ke posisi merangkak. Saat terungkap bayi dapat mendorong tangan dan lututnya ke posisi dasar merangkak dan bergerak maju mundur tanpa melangkah. Kemampuan merangkakdapat dilatih dengan cara meletakkan mainan di depannya untuk diraih.

Saat mendekati usia satu tahun, kakinya bertambah kuat sehingga ia sudah pandai berdiri dan melangkahkan kakinya untuk belajar berjalan. Sambil berpegangan pada benda apapun yang ada di sekitarnya untuk membantunya menjaga keseimbangan.

Sedangkan untuk motorik halusnya, bayi sudha dapat mengambil benda-benda kecil, melempar bola dan bertepuk tangan.

Usia 1-2 tahun

Pada tahap ini, motorik kasar  anak semakin berkembang . Anak sudah mampu berjalan dengan baik, naik tangga, menarik dan mendorong benda berat serta berdiri di kursi tanpa pegangan.

Mendekati usia dua tahun, perkembangan motoriknya semakin baik didukung dengan kemampuannya untuk melompat, menendang hingga melempar bola.

Sedangkan untuk motorik halusnya, anak dapat meraih benda di depannya. Selain itu anak juga sudah dapat menggenggam benda di tangannya.  Menjelang usia dua tahun, anak dapat menyusun menara dari balok, mencoret coret dan membuka lembaran buku.

Usia 2-3 tahun

Pada usia ini, perkembangan motorik kasarnya semakin baik. Anak dapat menaiki tangga, menendang bola, membuak dan memakai baju sendiri, mengambil barang di lantai dengan menekuk lututnya. 

Sedangkan untuk perkembangan motorik halusnya. Anak dapat melakukan coret-coretan, menggunting kertas.

Usia 3-4 tahun

Pada usia ini anak sudah semakin mahir berjalan dengan mengayunkan tangan, mampu menuruni tangga dengan dua kaki.

Sedangkan untuk motorik halusnya, anak sudah dapat meronce, menyusun puzzle dan menuangkan cairan ke dalam botol


Penutup

Demikian tahapan perkembangan motorik anak berdasarkan usianya dan cara menstimulasinya. Perkembangan motorik kasar bayi secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan motorik halusnya. Jangan lupa untuk memenuhi asupan kebutuhan nutrisi anak, agar id dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

 

Referensi

https://morinagaplatinum.com/id/milestone/tahapan-perkembangan-motorik-anak-dan-cara-menstimulasinya

https://www.wyethnutrition.co.id/7-tahap-perkembangan-motorik-anak 

https://www.halodoc.com/artikel/4-tahap-perkembangan-motorik-anak-usia-0-12-bulan

https://hellosehat.com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/perkembangan-balita/perkembangan-motorik-balita/

Read More

IIDN, Komunitas Perempuan Inspiratif

Jumat, 24 Juni 2022

 

IIDN, Komunitas Perempuan Inspiratif

Pertemuan tak sengaja itu bermula saat jemari ini berselancar di media sosial. Algoritma yang mengarahkan saya menemukan sebuah komunitas perempuan. IIDN atau Ibu-Ibu Doyan Nulis Sebuah komunitas yang diketuai oleh Widyanti Yuliandari, yang akrab dipanggil Bu Ketu.

Sejak awal mula bergabung dalam grup media sosialnya, banyak hal yang diinformasikan. Diantaranya ada tema yang dibahas setiap hari, yaitu Senin Semangat, Selasa Blog, Rabu Buku, Kamis Kuis, Jumat FIksi, Sabtu Puebi. 

Selain tulisan berteman yang diadakan setiap hari, ada beberapa program IIDN yang mengajak anggotanya untuk aktif, kreatif dan produktif. Sesuai dengan tagline yang diusung oleh IIDN.

 

Kesan Pertama

Pepatah mengatakan "Tak kenal maka tak sayang". Maka saya berkenalan dengan IIDN lebih dekat saat pertemuan luring yang diadakan di AJBS, Surabaya. Pertemuan pertama dengan pengurus dan anggota IIDN.

Banyak kesan yang saya peroleh saat itu sehingga membuat saya semakin menyadari bahwa menulis itu asyik, seru dan banyak manfaat yang diperoleh. Bertemu Bu Ketu yang energik sepertinya energinya tidak ada habisnya, padahal waktu itu baru datang dari Bondowoso, tempat tinggal beliau.

Ada mbak Fitria Rahma dari Lamongan yang kalem. Mbak Fu yang banyak menjuarai lomba menulis dan telah menghasilkan banyak karya. Selain itu ada beberapa anggota IIDN yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya. Ada juga yang dari Papua, lo. Saat itu beliau sedang berada di Surabaya, sehingga menyempatkan untuk hadir.

Pertemuan singkat yang banyak meninggalkan kesan mendalam hingga saat ini. Walaupun saat ini komunikasi daring sangat mudah dilakukan. Namun, pertemuan luring bagi saya lebih meninggalkan jejak. Semangat para pengurus dan anggota yang datang membawa aura yang positif bagi saya. 


Wadah Belajar

Belajar itu sepanjang hayat, selama hayat masih dikandung badan pantang untuk berhenti belajar, karena kehidupan tak pernah berhenti mengajarkan kita banyak hal. Salah satu prinsip hidup yang saya pegang hingga saat ini.

IIDN tidak hanya komunitas perempuan, tetapi juga komunitas menulis, yang memberi wadah bagi perempuan untuk belajar menulis. Salah satunya adalah dengan mengadakan berbagai macam kelas. Setiap manusia itu mempunyai potensi untuk berkembang, termasuk wanita. Bukan berarti setelah menikah dan mempunyai anak mimpi seorang wanita dimatikan. Namun, disesuaikan dengan kedaan yang terjadi, sehingga mimpi tetap tercapai dan keluarga tetap terawat.

Beberapa kelas yang pernah saya ikuti untuk mengembangkan diri adalah nulis dari nol, ngeblog dari nol. Kelas Nulis dari Nol diampu oleh Bu Ketu dan mbak Fu, sedangkan kelas Ngeblog dari Nol diampu oleh Bu Ketu dan Mbak Nunu. Salah satu tahapan yang menguatkan saya di dunia literasi. Walaupun saat itu saya masih belum konsisten menulis. Namun, jejak yang ditinggalakan masih menginspirasi.


Peluang yang Diberikan IIDN

Saya telah mengenal blog cukup lama, sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan sempat mengikuti kelas ngeblog dari nol. Namun, baru akhir tahun 2021 saya mulai serius. Saat semangat sedang ada di puncak, datanglah informasi lomba blog dari IIDN yang bekerja sama dengan Kraft. Saya nekat mengikuti lomba Kenali Keju Melalui Kampanye #KejuAsliCheck dan kesempatan lain pun berdatangan.

Kampanye keju asli check

Walaupun nekat, alhamdulillah saya termasuk dalam 70 peserta tercepat yang mengumpulkan dan tulisannya sesuai dengan kriteria yang diminta Kraft. Alhamdulillah, hadiahnya dapat digunakan untuk membayar perpanjangan domain.tahun berikutnya.

KRAFT Crolette

Sama seperti kampanye keju asli Check, saat lomba  KRAFT Crolette saya termasuk dalam 70 peserta tercepat yang mengumpulkan dan tulisannya sesuai dengan kriteria yang diminta Kraft.

Tim Buku

Saya terlibat untuk memeriksa buku ngeblog dari nol sebelum cetak. Dan saya dibuat takjub dengan bahasan yang runut dan mudah dipahami.

Saya belum mengambil kesempatan untuk menulis bareng yang diadakan IIDN karena saya saat ini masih fokus untuk menjadi blogger. Sehingga peluang perbaikan diri baik itu mengikuti kelas atau yang menghasilkan cuan adalah peluang yang terkait dnegan blog.

Dan masih banyak lagi kesempatan yang diberikan IIDN agar perempuan berdaya, tidak bergantung pada orang lain untuk memutuskan apa yang terjadi pada dirinya.


Belajar, Berkarya, Berbagi, Berdampak

Kesempatan belajar yang diberikan IIDN luas pada setiap anggotanya. Kembali kepada individu masing-masing mau berusaha seberapa keras untuk mencapainya. Karena untuk sukses tentu saja harus mau berproses.

Kelas-kelas yang diberikan IIDN ada yang berbayar dan tak berbayar. Untuk kelas tak berbayar ini hanya dibebankan komitmen dan usaha peserta untuk berusaha memenuhi beberapa persyaratan kelas. Menurut saya persyaratan yang diberikan adalah persyaratn yang mendidik peserta untuk komitmen belajar, sehingga akhirnya menghasilkan karya. Berbagi karya dan berdampak pada sekitar.

 

Penutup 

IIDN, komunitas perempuan yang telah menginspirasi saya untuk menjadi perempuan yang berdaya. Perempuan berdaya adalah perempuan yang mempunyai jati diri, mandiri dan berdaulat penuh atas keputusan yang diambilnya.

Terima kasih IIDN. Teruslah menginspirasi perempuan Indonesia.


Read More

Kucing Berbulu Kuning

 
cerita anak kucing berbulu kuning


Tampak seekor kucing di dekat pagar rumah Amanda. Kucing itu terlihat lesu. Sudah beberapa hari ini dia berkeliaran di sekitar rumah Amanda. Entah dari mana datangnya. Sepertinya dia bukan kucing liar, karena kucing itu bersih, tidak kucel seperti kuciang liar pada umumnya.

"Bu, kucing itu bagus ya bulunya?" ujar Amanda pada Ibunya yang sedang merajut. Seperti biasa setelah mandi sore mereka berdua duduk di teras, menunggu ayah pulang kerja.

Ibu menghentikan merajut dan mencari kucing yang dimaksud Amanda, "Iya, lucu," jawab ibu mengiyakan pendapat Amanda.

“Ibu, bolehkah aku merawat kucing itu?” tanya Amanda pada ibunya, sambil menunjuk ke arah kucing yang dimaksud.

“Kasihan bu sepertinya dia lapar,” lanjutnya kemudian. 

“Amanda suka kucing?” tanya ibunya. 

Amanda mengangguk, “Kucingnya lucu bu, warna bulunya kuning, bagus ya,” tambah Amanda. 

“Boleh ya bu?” tanyanya lagi sambal merajuk.

“Boleh, asal Amanda berjanji mau merawatnya, memberi makan dan memandikannya,” jawab Ibu kemudian. 

“Mengapa Amanda harus memberi makan dan merawatnya?” tanya ibu penuh selidik. 

“Karena kucing juga butuh makan Bu,” jawab Amanda. 

“Betul sekali, kucing adalah makhluk Allah yang harus dijaga dan dirawat jika kita memeliharanya’” tutur Ibu kemudian. 

“Yuk kita beri makan kucing itu, sepertinya masih ada ikan goreng di dapur,” ajak Ibu.

Amanda mengikuti langkah ibu menuju dapur. Ikan goreng diletakkan di atas karton dan dibawanya ke teras.

"Pus, sini," panggil Amanda sambil melambaikan tangannya memanggil kucing berbulu kuning itu. Karton yang berisi ikan diletakkannya di lantai.

Kucing itu mendekat, memenuhi panggilan Amanda. Dia mendekati ikan goreng, mengendusnya dan mulai makan sedikit. Selanjutnya dia makan dengan lahap. 

“Wah, kucingnya lapar, Bu. Ikannya langsung habis. Sekarang mungkin sudah kenyang, Bu,” kata Amanda. 

Kucing itu mendekati kaki Amanda dan mengelilinginya.

“Sepertinya dia mengucapkan terima kasih, karena Amanda telah memberinya makan. Yuk sekarang cari kardus untuk tidur kucing itu,” ajak ibu kemudian. 

"Sebentar ya, Pus. Aku cari kardus dulu," pamit gadis kecil itu

“Ini Bu, Amanda menemukan kardus bekas di gudang’” kata Amanda. 

“Yuk letakkan kucingnya di situ,” kata ibu sambil menunjuk area di sudut dapur.

“Ini, supaya dia bisa tidur dengan nyenyak,” tambah Ibu. 

“Kalau Amanda merawat hewan, harus diberi makan dan tempat yang aman ya, tidak boleh disiksa,” pesan ibu kemudian.

Read More

Melompat Lebih Tinggi, Yuk

melompat lebih tinggi



Udara pagi yang sejuk membuat Ani enggan bangun pagi. Apalagi hari ini adalah hari Minggu. Badan Ani tertutup selimutnya yang lembut dan nyaman.

Ana, kakaknya berusaha membangunkan Ani-adiknya dengan cara menggoyangkan tubuh Ani perlahan-lahan. 

"Ani, yuk bangun. Kita jalan-jalan mengelilingi perumahan," ajak Ana sambil berbisik di telinga Ani. Ana duduk di tepi tempat tidur  menunggu Ani terbangun.

"Kata Ayah, kita tidak boleh tidur setelah salat subuh, karena Allah menurunkan rezeki setelah salat Subuh," lanjut Ana.

Ani pun terbangun dan duduk menghadap Ana.

"Iya, Kak," jawab Ani menganggukan kepala dan menahan kantuk.

Tak berapa lama Ani beranjak bangun dan merapikan tempat tidurnya. Kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan dan merapikan diri.

Ayah dan ibu yang telah menunggu mereka berdua di teras rumah segera berdiri dan berjalan menuju pagar. Ayah memberikan kode agar mereka berdua mengikuti langkahnya.

"Udaranya sejuk ya, Kak," ujar Ani

Ana mengangguk tanda setuju. Udara pagi itu segar sekali, tidak banyak polusi udara karena tidak banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang.  

Ana dan Ani berjalan berdampingan, mengikuti kedua orang tuanya menuju fasilitas umum perumahan.

“Yah, beli bubur ayam itu, ya. Aku lapar, nih,” pinta Ana pada Ayahnya saat melihat penjual bubur ayam yang ramai dikunjungi pembeli. 

Ayah pun mengangguk menyetujui permintaan Ana. Mereka berempat menikmati bubur ayam di warung penjual bubur ayam yang terletak di tepi lapangan. Lapangan yang terletak di tengah perumahan ramai dikunjungi penduduk sekitar di  hari Minggu pagi. Ada yang berjalan atau berlari mengelilingi lapangan. Ada yang duduk-duduk di bangku taman. Ada pula ya yang bermain, termasuk lompat tali.

“Bismillah,” ucap Ana dan Ani hampir bersamaan sebelum menikmati bubur ayam. Ayah, ibu, Ana dan Ani menyantap bubur ayam yang dipesannya.

"Kak, Aku ingin main lompat tali seperti anak-anak di sana," ujar Ani. Tampak sekelompok anak sedang bermain lompat tali di lapangan.

"Kakak juga suka main lompat tali. Kemarin, kakak bermain bersama teman-teman di sekolah,  menggunakan karet gelang,"ujar Ana.

“Aku mau main lompat tali juga, Kak,” pinta Ani.

“Di rumah ada karet gelang yang bisa dipakai untuk lompat tali, lo” sahut Ibu.

"Tuh, Ibu punya karet gelang, Dik. Nanti kita buat talinya dulu menggunakan karet gelang," lanjut Ana.


---


Setibanya di rumah, Ibu menunjukkan karet gelang yang ada di dapur.

“Aha, ini karet gelangnya, Dik,” ujar Ana sambil menunjukkan karet gelang warna warni.

“Hore, kita buat talinya yuk Kak. Tolong beri tahu cara membuatnya, ya," pinta Ani.

"Yuk, kita buat bersama," ajak Ana. Ana memberikan contoh merangkai karet gelang. Mereka berdua merangkainya menjadi tali panjang yang akan digunakan untuk lompat tali.

"Wah, seru ya merangkai karet gelang ini!" seru Ani.

"Iya dong, membuat mainan sendiri tetap asyik, kan" ujar Ana.

"Mudah membuatnya," imbuh Ani.

Setelah selesai, Ani membawa karet gelang yang sudah dirangkai menjadi tali. Dia menunjukkan hasil karyanya pada Ibu. 

"Mudah bukan membuatnya. Pintar anak Ibu!" puji Ibu dan tersenyum melihat tingkah putri-putrinya.

"Sekarang kita cari teman-teman, yuk. Enggak seru kalau main sendiri,” ajak Ana. Ana dan Ani pamit untuk bermain ke rumah temannya pada ibunya.

“Mira, yuk main lompat tali. Aku sudah punya talinya, lo,” ajak Ani, setibanya di rumah Mira.

“Yuk, aku juga mau main lompat tali,” jawab Mira seraya minta izin pada ibunya untuk pergi bermain.

“Kita mulai dari yang mudah dulu ya. Mulai dari mata kaki, kemudian naik ke lutut,” tutur Ana menjelaskan permainan

“Jika nanti kalian bisa melompati tali, maka tinggi tali dinaikkan lagi sampai ke pinggang, bahu dan terakhir sampai kepala,” lanjut Ana.

"Wow, tingginya, Kak. Aku belum bisa," ujar Ani.

"Tidak apa-apa, nanti kita coba sebisanya saja dulu," jawab Ana.

Ani dan Mira memegang ujung tali yang berlawanan. Ana bersiap-siap melompati tali yang dipegang Mira dan Ani untuk memberi contoh permainan.

“Aku sudah tahu caranya, aku yang loncat dulu, ya,” pinta Ani.

“Lo kok begitu, hompimpa aja supaya adil,” pinta Mira.

Mira cemberut dan menyodorkan tangannya, mengajak hompimpa Ana dan Ani.

“Mira betul, Dik, supaya adil, kita hompimpa saja, nanti yang menang dapat lompat duluan, jika gagal lompat, berganti ke yang lain,” jawab Ana

Mira, Ana dan Ani hompimpa untuk menentukan siapa yang akan loncat terlebih dahulu.

“Aku yang menang, jadi aku yang lompat dulu, ya,” ujar Mira dan bersiap-siap loncat melompati tali yang dipegang Ana dan Ani

Ani dan Ana memegang ujung tali yang berlawanan. Wajah Ani cemberut karena kalah, tetapi dia tetap mau bermain. 

“Seru ya kak, bermain bersama, memanfaatkan yang ada,” ujar Ani.

Mereka bertiga bergantian melompati tali sesuai giliran bermain. Bertahap melompati tali dimulai dari titik terendah hingga semakin tinggi. Melompat lebih tinggi ternyata dapat dilakukan Ani yang baru belajar lompta. Ternyata tidak perlu takut untuk mencoba.

Read More

Maafkan Bunda, Nak

Kamis, 23 Juni 2022

me time untuk ibu

Dua hari ini Ica, panggilan akrab dari Clarissa, itu sakit. Demamnya belum turun juga, walaupun sudah mengkonsumsi obat penurun panas. Selain itu Ica juga tidak mau makan, salah satu penyebab tubuh Ica lemas. Beberapa cara dilakukan Sinta agar Ica mau makan. Hal ini akhirnya membuat Sinta panik dan memutuskan untuk segera membawanya ke dokter anak langganan.

Kebetulan siang hari itu ada sebuah meeting penting yang harus dihadirinya. Segera Sinta menghubungi timnya untuk membantunya menyiapkan meeting dan meminta izin terlambat kepada atasannya. Walaupun berat hati, izin itupun diperolehnya.

Gadis kecil berusia dua tahun itu pun hanya bisa terduduk lemas dan meringkih kesakitan di pangkuan ibunya. "Clarissa Putri Priambodo," panggil perawat klinik, dimana dokter anak langganannya praktek.

"Saya, Suster," jawab Sinta dan bergegas beranjak menghampiri perawat berbaju merah mudah, seragam di klinik tersebut.

"Silakan masuk, Bu," ujar perawat sambil menyerahkan kartu keterangan pasien dan menunjukkan arah ruangan dokter anak.

"Terima kasih," jawab Sinta, kemudian mengambil langkah cepat menuju ke arah ruangan yang ditunjukkan perawat tadi.

Sinta pun menyampaikan gejala dan kronologi sakit anaknya pada dokter Anggi, dokter anak langganannya. Serangkaian pemeriksaan dan pertanyaan pada Sinta dilakukan dokter Anggi untuk menentukan diagnosa sakit Ica.

"Ica radang tenggorokan, selain itu gusinya sedikit bengkak, sepertinya giginya mau tumbuh. Tenggorokannya sakit jika digunakan untuk menelan," tutur dokter Anggi.

Beberapa saran dan resep disampaikan dokter Anggi. Sinta yang semakin gelisah karena jam menunjukkan semakin siang, kurang konsentrasi mendengarkan penjelasan dokter.

Setelah mengucapkan terima kasih dan pamit pada dokter Anggi, Sinta bergegas berjalan menuju apotek yang berada di bagian depan klinik. Ica yang berada di gendongan tertidur karena lelah menangis.

"Mbak, ini resepnya, tolong cepat ya Mbak," pinta Sinta pada apoteker yang bertugas. Sinta semakin gelisah, karena hari beranjak siang.

Telepon genggam yang dari tadi dipegangnya berdering. "Sinta, meetingnya diundur besok siang," ujar pimpinannya.

"Kamu perbaiki presentasinya ya, besok pagi saya tunggu," lanjut suara di seberang sana.

Sinta pun menyanggupinya. Lega, hanya itu saja yang terlintas. Lega karena presentasi penting itu mundur besok siang. Presentasi yang disiapkannya seminggu terakhir ini.

“Ica, sayang, makan ya,” ajak Sinta, tetapi ajakan itu hanya dijawab gelengan kepala saja oleh Ica.

Berbagai macam rayuan dan cara dilakukan Sinta, agar Ica mau makan. Namun Ica malah menangis dan tangisannya semakin keras. Sinta pun mulai tidak sabar menghadapi Ica. Tiba-tiba plak, Sinta memukul Ica dan membentaknya. Tindakan yang tidak pernah dilakukannya selama ini. Tangis Ica pun semakin keras, karena kesakitan dan ketakutan. Sosok Sinta yang selama ini kalem, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang menakutkan dan tidak dikenali Ica, putrinya.

Sinta pun kaget atas tindakan yang tidak disadarinya beberapa detik sebelumnya. Sinta berdiri mematung, kebingungan mau melakukan apa. Tangisan Piring makan yang semula dipegangnya jatuh ke lantai dan membuyarkan ketegangan Sinta. Sinta berusaha memeluk Ica, “maafkan Bunda ya, Sayang.”

Sinta terduduk dan memeluk Ica, tangis Ica pun perlahan mereda. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir Sinta lagi, hanya memeluk dan mengelus punggung Ica yang dilakukannya. Sinta pun berusaha menenangkan pikiran dan hatinya, begitu pula Ica yang berusaha mengendalikan ketakutannya, menyadari bahwa sosok yang memukulnya tadi bukan bundanya.

Maafkan Bunda ya, Sayang. Bunda, lepas control tadi, sampai memukul Ica,” tutur Sinta masih menangis sesenggukan menyesali tindakannya.

“Bunda, enggak marah kok sama Ica, maaf ya, maaf ya, maaf ya,” permintaan maaf pun meluncur berulang-ulang dari bibir Sinta yang sangat menyesali perbuatannya.

“Bunda sayang Ica. Ica makan dulu ya, supaya ada tenaga, lalu minum obat, terus berdoa mohon kesembuhan pada Allah. Insyaallah Ica cepat sembuh. Nanti bisa main lagi sama Bunda, sama teman-teman Ica juga,” tutur Sinta.

Kelelahan tidak tidur beberapa hari untuk merawat Ica yang sakit dan pekerjaan kantor yang menumpuk, membuat Sinta kelelahan fisik dan batin. Sinta menyadarinya sekarang, dia mengabaikan tanda-tanda sebelumnya bahwa badan dan pikirannya pun perlu mendapatkan perhatian. Namun tanda-tanda itu diabaikannya, bahkan sampai dia lupa untuk makan.

Sinta menyadari bahwa tindakan mengabaikan kesehatan jiwa dan raganya salah, seharusnya dia tetap makan dan beristirahat walaupun sejenak, tidak perlu memakskan dirinya untuk bekerja terus menerus.

Kejadian siang tadi membuat Sinta merenung, ilmu parenting yang selama ini dipelajarinya menguap begitu saja saat dia kelelahan. Sinta pun bercerita pada suaminya tentang apa yang terjadi, tetapi Sinta belum menemukan solusi atas kejadian yang dialaminya. “Say (panggilan suaminya untuk Sinta) sudah lelah, wajar kalau kecapaian, lain kali info Abang ya kalau Say perlu dibantu,” ujar suami Sinta saat dia menyampaikan keluh kesahnya.

Walaupun kejadian tersebut sudah berlalu, Sinta tetap berusaha mencari solusi agar kejadian yang sama tidak terulang lagi. Sinta khawatir kejadian tersebut membekas bagi Ica dan membawa dampak buruk untuk masa depannya. 

Sebuah informasi bahwa ada webinar tentang pengasuhan dengan tema bagaimana agar tetap sehat waras saat mengasuh anak diperolehnya dari sebuah grup whatsapp alumni SMA. Tidak perlu menunggu lama, Sinta menghubungi bagian pendaftaran. Walaupun diperlukan beberapa sesi untuk mengikuti webinar tersebut, dia rela meluangkan waktu demi kebaikan, pikirnya saat itu.

Pelatihan tersebut berisi bagaimana mengenal jenis emosi, bagaimana mengatasi emosi negative yang muncul, bagaimana menyiasati kelelahan yang dihadapi. “Ini yang kuperlukan, suamiku pasti mengizinkannya” batin Sinta.

Sinta pun menceritakan hasil mengikuti webinar pada suaminya, bahwa emosi negatif yang muncul harus diatasi agar tidak menjadi depresi. Manajemen waktu diperlukan untuk menentukan skala prioritas, tidak bisa semuanya dilakukan bersamaan, karena nantinya hanya lelah saja yang diperoleh. 

Waktu untuk diri sendiri atau ‘Me Time’ juga diperlukan untuk menghilangkan penat. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan ‘Me Time’ tidak hanya untuk hal konsumtif tetapi juga produktif.

Dan ternyata Sinta tidak sendirian, banyak ibu yang mengalami kejadian seperti yang dialami Sinta. Tidak cukup dengan webinar yang telah diikuti, grup awal untuk mengkoordinasi berlangsungnya webinar berubah menjadi forum saling menguatkan antar sesama anggota. 

Pengendalian emosi negatif diperlukan bagi siapa saja, terutama bagi ibu. Aktivitas mengurus rumah tangga yang melelahkan dan menguras emosi dan tenaga juga berpengaruh pada emosi ibu. 

Memberi jeda antara aktivitas yang ada, menikmati waktu untuk diri sendiri merupakan salah satu cara untuk menjaga kestabilan emosi. 

Read More