Tahukah Sobat Dy bahwa tidak semua luka berasal dari pukulan? Jika luka yang timbul kasat mata, perlahan bekas lukanya akan menghilang. Namun, jika jiwa yang terluka, luka yang ditimbulkan akan membekas lebih lama bahkan mungkin tidak akan pernah hilang. Ada pula luka yang tumbuh diam-diam dari kata-kata, sikap dingin, serta perlakukan tidak menyenangkan yang diterimanya.
Kondisi tersebut akan semakin buruk jika terjadi di tempat yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman, seperti rumah. Kemanapun kita pergi, sejauh apapun kita melangkah tentunya akan kembali ke rumah, bukan. Seperti halnya yang digambarkan dalam novel Rantau Satu Muara karya A. Fuadi.
Alie Ishala Samantha, seorang gadis cantik yang berusia belasan tahun justru mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di rumahnya. Dia menjadi sasaran amukan dan cacian ayah dan keempat kakak lelakinya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi Alie, justru menjadi tempat yang tidak aman baginya.
Judul film ini menggambarkan pencarian rumah bagi Alie, bukan rumah dalam bentuk bangunan, tetapi 'rumah' yang nyaman untuk pulang. Penasaran kan bagaimana ceritanya? Sama, saya pun juga penasaran.
Pertama kali tahu tentang film ini dari sulung saya. Dia mencerita jika film ini mendapatkan rating yang bagus. Kebetulan pula sudah tayang di Netflix. Demi memuaskan rasa penasaran, akhirnya saya menonton bersamanya.
Deskripsi Film Rumah Untuk Alie
Judul film : Rumah untuk Alie
Sutradara : Herwin Novianto
Skenario : Lottati Mulyani
Pemeran :
Rizky Hanggono sebagai Abimanyu
Tika Bravani sebagai Gianla
Anantya Kirana sebagai Alie Ishala Samantha
Rafly Altama sebagai Natta
Andryan Bima sebagai Samuel
Dito Darmawan sebagai Dipta
Faris Fadjar Munggaran sebagai Rendra
Ully Triani sebagai Tsana
Sebelum saya mengulas film Rumah Untuk Allie, Sobat Dy dapat menyimak trailer berikut ya:
Cerita Tentang Bullying yang Terjadi di Rumah
Ceritanya dimulai dengan Tsana, seorang reporter yang akan dikirimkan ke daerah konflik menggantikan rekannya yang berhalangan bertugas. Dengan berat hati, Abimanyu, suaminya mengijinkannya untuk berangkat. Padahal dia baru saja sampai dari tugas meliput.
Kedua anaknya, Dipta dan Rendra yang diasuh oleh Gianla pun terpaksa merelakan mamanya pergi bertugas. Lang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, Tsana meninggal saat sedang meliput. Tubuhnya tak dapat bertahan menghadapi peluru panas dari peluru yang ditujukan ke daerah pengungsian.
Kisahnya pun terekam oleh kameramen yang bertugas dan disaksikan oleh Abimmanyu dan Gianla. Abimanyu tentunya syok mengetahui berita tersebut. Dipta dan Rendra pun kehilangan ibunya.
Tak lama berselang setelah kepergian Tsana, Abimanyu menikahi Gianla, pengasuh kedua anaknya. Gianla yang juga memiliki dua anak, Natta dan Samuel pun menerima pinangan Abimanyu.
Long short story, pernikahan keduanya dianugerahi seorang anak perempuan cantik yang diberi nama Alie Ishala Samantha. Nama yang cantik sesuai dengan parasnya. Alie menjadi anak perempuan satu-satunya yang sering diusilin keempat kakak lelakinya.
Sayangnya tidak diceritakan detail bagaimana kedekatan keluarga tersebut, hanya ditampilkan bahwa Abimanyu seorang yang sukses dan mereka tinggal di rumah mewah. Gianla pun diterima dengan baik oleh kedua anak Abimanyu, mungkin karena mereka bbertiga dekat sejak anak Abimanyu masih balita.
Suatu pagi Gianla pergi dengan Dipta, Rendra dan Alie. Gianla mengendarai mobil, Alie berada di samping Alie, sedangkan Dipta dan Rendra berada di bangku tengah. Alie yang sedang senang-senangnya membuat video mengajak ibunya untuk membuat video saat sedang menyetir.
Gianla tidak memperhatikan sebuah truk di sebelah kanannya, sehingga kecelakaan tak dapat dihindari. Gianla meninggal dan Dipta cidera parah sehingga meninggalkan cacat pada kakinya hingag dia dewasa. Hal inilah yang membuat Dipta dendam dengan Alie.
Tak hanya Dipta yang marah, tetapi ayahnya dan ketiga kakak lelaki lainnya pun turut menyalahkan Alie atas kematian ibunya. Derita Alie pun dimulai. Alie kerap mendapatkan makian, bentakan hingga pukulan dan tamparan.
Tak jarang Alie berangkat ke sekolah dengan bekas lebam yang berusaha ditutupinya. Alie pun berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, sedangkan keempat kakaknya berangkat ke sekolah, kuliah dan bekerja menggunakan mobil. Padahal Natta dan Samuel bersekolah yang sama dengan Alie.
Sepeninggal Gianla, kehidupan keluarga Abimanyu tidak hanya kacau karena kehilangan sosok ibu, tetapi Abimanyu juga bangkrut sampai untuk membayar ART pun sudah tak sanggup. Alhasil semua pekerjaan rumah tangga, baik memasak, mencuci, setrika hingga membersihkan rumah semua dilakukan Alie seorang diri. Lengkap sudah penderitaan Alie.
Rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk pulang, tetapi Alie tetap tinggal di sana dan berusaha melakukan tugasnya dengan baik. Cerita tentang bullying yang terjadi di rumahnya disimpannya rapat-rapat. Dia hanya berharap suatu hari sikap kakak dan ayahnya melunak dan baik kepadanya, walaupun entah kapan terjadi.
Bullying yang Berlanjut di Sekolah
Salah satu anak perempuan teman Natta menaruh hati padanya. Dia berpikir Alie juga menaruh hati pada Natta. Dia tidak tahu jika Natta adalah kakak Alie. Sayangnya Nataa dan Samuel sepakat untuk tidak menginformasikan ke teman-temannya bahwa Alie adalah adik mereka. Alie pun dilarang menginformasikan hal yang serupa.
Anak perempuan tersebut bersama teman-temannya pun membully Alie karena menganggap Alie saingannya, mulai dari memaksa Alie makan bakso yang sangat pedas, menyiram air hingga rambut dan seragamnya basah kuyup dan lainnya.
Penderitaan Alie tidak hanya terjadi di rumah tetapi berlanjut juga di sekolah. Puncaknya anak perempuan tersebut memfitnah Alie yang melakukan perundungan padanya dengan membuat video yang menyudutkan Alie. Hingga ayahnya dipanggil ke sekolah.
Ketakutan dan Kecemasan Alie
Alie tumbuh sebagai pribadi yang takut, cemas dan kehilangan rasa percaya diri. Bullying yang diterimanya berdampak signifikan pada perkembangan mental dan emosionalnya.
Alie menjadi pribadi yang pendiam, tertutup dan sulit untuk mengekspresikan perasaannya. Beruntung kedua sahabatnya berhasil meyakinkan Natta dan Samuel bahwa video yang menyudutkan Alie hanyalah video editan dan bukan Alie yang melakukan bulyying, justru Alie korban bullying.
Untuk membela dirinya sendiri Alie pun tidak mampu, karena semua menyudutkannya dan tidak mau mendengarnya. BBahkan saat ayahnya mengusirnya karena Alie tidak sengaja menekan saklar yang salah sehingga mengakibatkan laboratotium terbakar karena konsleting.
Alie gugup, tidak fokus dan serba ketakutan karena dibully juga di sekolah. Hmm, bisa dibayangkan bukan, seorang anak yang masih mencari jati diri mendapat perundungan di skeolah dan di rumah tiada henti. Bagaimana pertumbuhan jiwanya? Rasanya ingin kupeluk Alie saat itu juga.
Sesaat seteah Alie mendonorkan darah untuk Dipta yang tertusuk pisau preman saat menyelamatkan Alie yang akan diperkosa preman, Alie pergi meninggalkan rumah sakit. Dia berjalan tanpa tujuan, ketakutan, bingung. Dia hanya ingin bertemu ibunya, mendapatkan rumah yang nyaman, sunyi dan mmebuatnya bahagia.
Karena linglung dan tidak memperhatikan sekitar, Alie pun tertabrak mobil. DI sinilah akhir yang membingungkan, bukan pula plot twist yang apik menurut saya. Alie diceritakan meninggal, dimakamkan di samping makam ibunya dan bertemu dengan ibunya. Alie telah menemukan rumah yang nyaman untuknya. Namun, tak lama kemudian Alie bengun dari koma karena ibunya memintanya kembali menemui ayah dan keempat kakaknya.
Pesan Moral Dari Film Rumah Untuk Alie
Keluarga mempunyai peran yang penting untuk menciptakan ruang yang nyaman dan aman bagi anak. Keluarga seharusnya menjadi tempat pertama dimana anak merasa diterima, didengar dan dicintai tanpa syarat.
Alie pun merasa kehilangan dan bersalah karena kematian ibunya, tanpa disalahkan ayah dan kakaknya pun dia sudah menderita. Bagaimana dia bisa menyembuhkan traumanya dan tumbuh menjadi pribadi yang utuh jika dia dikucilkan dan mendapat makian dan amarah setiap hari.
Film ini juga menekankan pentingnya empati dan komunikasi dalam keluarga. Orang dewasa kadang tidak menyadari bahwa sikap dan ucapan mereka dapat melukai anak. Film ini juga mengajak penonton melihat dari sudut pandang Alie, betapa dia ketakutan dan cemas, sekaligus mengajak penonton peka terhadap perasaan anak dan memahami bahwa setiap kata memiliki dampak
Rumah Untuk Alie
Rumah untuk Alie tidak hanya sekedar film yang mengharukan karena bercerita tentang bullying yang terjadi di rumah, ketakutan seorang anak yang tidak mempunyai ruang untuk bercerita.
Film ini juga merefleksikan pola asuh dalam keluarga. Apakah rumah kita sudah menjadi tempat yang aman untuk anak? Apakah anak diberi ruang untuk berbicara dan didengar? Relate dengan kehidupan di masyarakat, bukan.
Film ini juga mengajak kita untuk lebih peka, lebih peduli, lebih empati dan bertanggung jawab untuk menciptakan rumah yang nyaman, aman dan penuh kasih. Semoga cerita tentang bullying di rumah berhenti sampai kisah Alie saja dan tidak ada Alie berikutnya yang kebingungan mencari rumah.
Apakah Sobat Dy sudah menonton Rumah untuk Alie atau film sejenis yang bercerita tentang bullying yang terjadi di rumah? Yuk cerita di kolom komentar!


















