Cinta Kasih Ibu Dalam Air Mata Di Ujung Sajadah

Selasa, 13 Februari 2024

Air Mata Di Ujung Sajadah

Hai hai Sobat Dy, kali ini saya akan mereview sebuah film karya Key Mangunsong yang telah rilis tahun 2023 lalu. Cinta kasih ibu tergambar nyata di film Air Mata di Ujung Sajadah dan sukses membuat saya menangis.

Film ini benar-benar mengandung bawang deh, saya berusaha untuk tidak menangis eh tapi di akhir film saya malah menangis dan susah berhenti. 

Walaupun saya hobi menonton di bioskop tetapi hobi ini tidak bisa saya salurkan secara sudah ada anak-anak. Jadi ya terpaksa tidak bisa menonton berdua saja dengan suami.

Solusinya kami nonton bersama berlima. Film yang kami tonton terakhir adalah film Petualangan Sherina yang kedua, Keluarga Cemara dan Koki Cilik. Semuanya film untuk segala umur. 

Berbeda dengan film Air Mata di Ujung Sajadah yang peruntukannya untuk usia 17+, jadinya saya menikmati film Ini sendirian.

Memang benar jika cinta kasih ibu itu tidak bersyarat. Dia akan mencintai anaknya dengan caranya masing-masing. Di film ini saya belajar banyak hal. Sebelum saya cerita tentang reviu saya, Sobat Dy dapat melihat official trailernya terlebih dahulu.


Deskripsi Film

Judul Film : Air Mata di Ujung Sajadah 

Pemain : Titi Kamal, Fedi Nuril, Citra Kirana, Faqih  Alaydrus 

Sutradara : Key Mangunsong

Penulis skenario : Titien Wattimena 

Produser : Nafa Urbach dan Ronny Irawan

Durasi film : 1 jam 44 menit

Rumah produksi : Beehave Pictures dan Multi Buana Kreasindo Productions


Sinopsis Film

Film ini bercerita tentang seorang wanita muda, Aqilla, yang sedang jatuh cinta dengan seorang seniman, Arfan. Namun sayangnya seniman selalu diidentikan dengan seseorang yang tidak mempunyai masa depan, sehingga kisah cinta mereka berdua tidak direstui oleh ibu wanita muda tersebut, Halimah.

Pertengkaran hebat terjadi sehingga Aqilla kabur dari rumah dan akhirnya kawin lari dengan kekasihnya. Klasik ya kisahnya, cinta tidak direstui maka sepasang kekasih kawin lari.

Halimah merasa bahwa anaknya Aqilla tidak bahagia jika menikah dengan Arfan, karena selama ini Akila mendapat fasilitas yang lengkap. Bu Halimah merasa Aqilla bahagia dengan hal tersebut.

Cinta tidak akan membuat kenyang, itu pendapat Bu Halimah. Ya memang betul sih cinta tidak akan membuat kenyang tapi ukuran kebahagiaan bukanlah harta iya kan?

Singkat cerita, Aqilla dan Arfan kawin lari dan mereka hidup bahagia walaupun hanya tinggal di rumah susun. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena Arfan meninggal dalam sebuah kecelakaan.

Sebuah kejadian tragis yang merenggut kebahagiaan pasangan muda yang baru menikah. Aqilla belum sempat mengabarkan kabar bahagia bahwa dia sedang hamil pada Arfan, suaminya. Nahas kecelakaan tersebut merenggut nyawa Arman.

Proses kehamilan yang berat dilalui Aqilla sendirian tanpa suami yang mendampinginya. Hingga akhirnya dia melahirkan. Namun sayang kebahagiaan seorang ibu yang menyambut hadirnya bayi yang telah dikandungnya selama 40 Minggu tidak dirasakan Akila.

Bu Halimah, ibunya mengabarkan padanya bahwa anaknya meninggal saat dilahirkan karena terlilit tali pusar. Siapa yang tidak sedih mendengar kabar tersebut.

Kebohongan Bu Halimah ini tertutup rapat tidak diketahui oleh siapapun termasuk Akila hingga beberapa tahun kemudian. Sebuah makam palsu yang katanya makam anak Akila pun telah disiapkan Bu Halimah.

Lalu kemana bayi yang dilahirkan Aqilla? Dia lahir dengan selamat dan sehat. Bu Halimah menitipkan cucunya pada karyawan kepercayaannya, Arif dan istrinya Yumna. Bu Halimah berjanji akan membiayai semua biaya pendidikan dan biaya hidup cucunya dengan syarat, mereka berdua harus meninggalkan Jakarta secepatnya membawa cucunya.

Arif dan Yumna adalah sepasang suami istri yang mengharapkan keajaiban akan kehadiran seorang anak di dalam pernikahannya. Mereka belum dikaruniai anak sehingga mereka menyayangi anak tersebut seperti anaknya sendiri.

Baskara, sebuah nama yang bagus dengan arti cahaya diberikan Arif pada anak lelaki yang dititipkan padanya. Rahasia tentang Baskara tertutup rapat termasuk pada ibu Arif. Arif tidak menceritakan bahwa Baskara bukan anak kandungnya dan juga tidak menceritakan bahwa Yumna mempunyai kendala untuk hamil.

Singkat cerita, Bu Halimah sakit kanker dan akhirnya meninggal. Namun, sebelum meninggal Bu Halimah bercerita bahwa cucunya masih hidup dan dititipkan pada Arif, tetapi sudah putus kontak selama beberapa tahun terakhir termasuk Bu Halimah tidak dapat mengirimkan dana rutin yang biasanya ditransfer bulanan.

Shock kan Aqilla karena selama ini dia telah menganggap bahwa anaknya telah meninggal, tetapi ternyata dia dibohongi. Bisa dibayangkan bagaimana hancur perasaannya bikan. Dan seseorang yang merenggut kebahagiaannya adalah ibunya sendiri.

Akila pun segera ke Solo untuk mencari anaknya. Bukanlah hal yang mudah untuk bertemu dengan anak kandungnya. Di sini keseruan cerita dimulai. 

Tetapi perebutan anak ini tidak dilakukan secara kasar. Pendekatan yang dilakukan Aqilla ke Baskara, anak kandungnya pun telah disetujui Yumna dan Arif, walaupun tidak mudah.

Duh, mulai deh saya menangis. Quote Yumna yang paling mengena bagi saya adalah "Apapun situasinya, janganlah mematikan hati nurani." Merasa tertohok dengan quote ini.

Yumna yang lembut hatinya, entah mendapat kekuatan dari mana sehingga dia mengizinkan Aqilla bertemu hingga membawa Baskara pergi seharian.

Apakah yang dilakukan Aqilla salah dengan mengajak anak kandungnya jalan-jalan? Apakah wajar Yumna dan keluarganya khawatir Baskara yang selama 7 tahun dirawatnya diambil oleh Aqilla? Apakah Aqilla berhak mengambil Baskara? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang memang wajar adanya.

Ada darah dan daging Aqilla pada diri Baskara, tetapi di sisi lain ada keringat dan tangis Yumna yang menemani Baskara selama 7 tahun kebersamaan mereka. Keduanya tidak tahu akan berakhir bagaimana kisah mereka. Keduanya hanya pasrah dalam sujudnya dan doa yang dipanjatkannya pada Tuhan. Ternyata ini yang membuat judul filmnya Air Mata di Ujung Sajadah.

Kedua wanita dengan predikat ibu, yang satu ibu biologi sedangkan yang lainnya ibu yang mengasuhnya selama ini. Siapakah yang lebih berhak mengasuh Baskara?

Air Mata Di Ujung Sajadah


Reviu Film

Film ini apik dan menarik. Banyak kisah nyata tentang hal ini di sekitar kita. Saya pun mengalaminya. Circle terdekat saya mengalaminya dan menjadi rebutan antara orang tua kandung dan orang tua yang mengasuhnya saat mereka dewasa. Sayangnya hubungannya hingga saat ini tidak baik-baik saja.

Kondisi yang tidak nyaman bagi semua pihak, baik orang tua kandung, orang tua angkat dan anak itu sendiri. Namun, apapun ceritanya dan bagaimana pun akhirnya di sana ada cinta kasih ibu yang mencintai anaknya dengan caranya masing-masing. Ada yang mempertimbangkan kebahagiaan anak, ada pula yang memuaskan egonya tanpa memedulikan kebahagiaan anak.

Menurut saya beberapa plot hole dapat diabaikan karena penokohan dan alur cerita yang kuat, sehingga penonton mungkin dapat mengabaikan plot hole yang ada. Satu hal lagi, saya suka dengan akting para pemainnya, rekomended deh filmnya.


Penutup 

Bagaimana pendapat Sobat Dy tentang kisah Aqilla dan Yumna? Cinta kasih ibu yang tulus tanpa syarat. Apakah Sobat Dy pernah mengalaminya? Yuk tonton saja filmnya ceritakan pengalaman Sobat Dy di kolom komentar.

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih