Kata-katamu Melukaiku

Senin, 01 Agustus 2022

  
Kata-katamu melukaiku


Aku adalah seorang perempuan sederhana yang mempunyai keinginan sederhana pula, yaitu menikah dan membentuk sebuah keluarga bersama pasangan yang mencintaiku. Aku juga bukan penganut paham anti institusi pernikahan. Panas rasanya telinga dan hati mendengar gunjingan dan tuduhan, akan tetapi Aku berusaha mengabaikannya. Aku sering berbicara dalam hati, bahwa aku tidak seperti yang mereka tuduhkan.

Aku perempuan yang berusia 27 tahun dan belum menikah. Jika sampai saat ini aku belum menikah, bukan karena aku tidak ingin menikah, tetapi aku belum menemukan lelaki yang mencintaiku setulus hati, begitu pula sebaliknya. Bukankah masalah rasa cinta tidak dapat dipaksakan? Cinta adalah masalah hati. Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan, aku meyakini nya.

Kedua orang tuaku tidak pernah membahas mengapa aku belum menikah. Mungkin mereka berdua ingin membicarakannya, tetapi khawatir melukaiku sehingga mereka tidak pernah membahasnya. Hal ini membuatku lebih nyaman dalam menjalani hari-hariku, menghabiskan waktu bersama orang tua dan adikku di rumah.

Aku merasa beruntung mempunyai sahabat yang mendukungku, mereka pun tidak mempermasalahkan keadaanku yang belum menikah, walaupun mereka semua sudah menikah. Beberapa kali sahabat dan temanku, baik teman kerja maupun teman main memperkenalkanku dengan lelaki kenalan mereka, yang mereka anggap dapat menjadi pendamping hidupku. Aku pun tidak menolak tawaran itu, aku menerima maksud baik mereka.

Namun sejak awal aku sampaikan, bahwa perkenalan ini hanyalah sebuah usaha untuk mendapatkan pendamping hidupku. Bukan jaminan setelah mereka mengenalkanku dengan temannya atau dengan saudaranya, aku akan menikah dengannya. Umumnya mereka memahaminya, karena jodoh tidak dapat dipaksakan. Aku merasa lega dengan hal ini, sehingga aku tidak merasa tertekan.



----


Namun, tidak semuanya bersikap manis. Ada yang bersikap manis di depanku, tetapi menggunjingkan bahkan menjelek-jelekkanku. Ada juga yang secara langsung berbicara buruk di depanku. Kejadian yang masih melekat kuat di ingatanku, walaupun aku telah memaafkan mereka tanpa mereka memintanya.

Seseorang yang telah lama kukenal, beliau adalah sosok yang akrab bagi keluarga kami. Perbincangan santai sore itu, tanpa beliau sadari sangat menyakitkan. Mungkin beliau hanya bercanda dengan mengatakan sebaiknya saya mengobral saja dan tidak perlu memilih-milih calon suami, kemudian beliau menceritakan pengalamannya bertemu dengan suaminya.

Aku hanya tersenyum menanggapi gurauan itu. Namun malamnya aku menangis sejadi-jadinya. Kata-kata yang paling pedas yang pernah kudengar selama ini. Jika selama ini tuduhan seperti jangan terlalu sibuk, jangan pemilih atau jangan terlalu mandiri, aku masih bisa menerimanya. Namun kata-kata obral ini yang tidak aku pahami. Batinku berteriak, apakah aku barang yang harus diobral agar aku bisa menikah, apakah serendah itu institusi pernikahan. Rasa marah, sedih, kecewa bercampur aduk.

Aku melakukan introspeksi diri untuk kesekian kalinya, apakah ada yang salah pada diri ini sehingga aku belum juga menikah. Namun, apa yang aku lakukan seperti menyalahkan Tuhan. Oh tidak, ini tidak boleh dilanjutkan, aku tidak menyalahkan Tuhan.

Aku mengambil kertas dan menuliskan semua sakit hatiku, terutama kata-kata yang menyakitkan tentang kondisiku yang belum menikah. Rasa sakit itu bertahap berkurang, setelah menulis aku menyobek kertas tersebut, khawatir akan terbaca oleh orang tuaku. Aku tidak ingin mereka bersedih, sudah cukup beban mereka menghadapi kenyataan bahwa aku belum menikah.

Rasa marah dan kecewa berangsur berkurang dan aku mulai berdamai dengan kondisiku. Aku tidak mungkin dan tidak boleh menyalahkan Tuhan, Tuhan tahu yang terbaik untukku. Aku hanya berusaha menjalankan peran dan berusaha seoptimal mungkin.

Rasa marah dan kecewa merupakan emosi yang harus kusalurkan, karena emosi ibarat energi yang tidak bisa hilang akan tetapi dapat disalurkan menjadi energi lain. Aku memilih mengalihkan energi itu untuk menulis, dengan menulis aku merasa lebih lega. Sebuah kegiatan yang kulakukan jika aku merasa membutuhkan seseorang untuk bercerita, selain bercerita pada sahabat.




Saat ini menulis menjadi salah satu kegiatanku untuk membahagiakan diriku sendiri, istilah yang lebih dikenal dengan me time. Dengan menulis aku bisa mencurahkan isi hati dan isi kepalaku, kadang tidak perlu diketahui orang lain. Menulis untuk menyembuhkan.

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih