Walaupun ada kalanya saya hanya berani menjadi pembaca penulis-penulis idola. Ingin rasanya mengikuti jejak mereka menjadi penulis yang karyanya dibaca banyak orang. Tapi sepertinya dunia menulis seperti dunia yang sulit untuk saya raih kala itu.
Hmm sebuah kenyataan dan keinginan yang bertolak belakang. Namun, saya tetap menulis untuk menyalurkan emosi dan menuangkan isi hati dan ide yang terlintas di kepala. Ada keraguan yang terlintas apakah tulisan saya layak untuk dibaca? Apakah suara saya pantas untuk didengar di tengah banyaknya tulisan bagus di era digital ini?
Semesta mendukung, keinginan saya untuk belajar menulis mempertemukan saya dengan komunitas menulis. Salah satunya komunitas perempuan Ibu-ibu Doyan Nulis. Rasa penasaran dengan komunitas perempuan ini mengantarkan saya untuk berselancar di dunia maya.
Dan ternyata IIDN bukan hanya sekedar wadah untuk berkumpulnya perempuan yang suka menulis, lho. IIDN juga mewadahi perempuan yang mau belajar menulis baik menulis blog maupun cerita pendek hingga membuat konten. Salah satu perempuan itu adalah saya.
Baca juga : Menulis sebagai Ibadah: Ketika Tulisan Sederhana Bisa Menguatkan Orang Lain
Mengenal IIDN Lebih Dekat
Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis atau IIDN merupakan komunitas yang didirikan oleh Indari Mastuti 16 tahun silam. Tepatnya 24 Mei 2010 di Bandung. Sebuah komunitas yang didirikan dengan tujuan sebagai wadah ibu dan perempuan untuk belajar menulis dan berkarya dari rumah.
Namun, saya baru bergabung beberapa tahun setelahnya. Semesta sepertinya mendukung keinginan saya untuk belajar menulis hingga akhirnya menemukan komunitas IIDN saat berselancar di Facebook.
Puas berselancar, saya pun tak hanya ingin menjadi penonton saja. Kemudian saya mendaftarkan diri untuk menjadi anggota IIDN. Serangkaian persyaratan segera saya penuhi demi menjadi anggota IIDN, tapi jangan tanya apa saja persyaratannya ya, karena saya sendiri sudah lupa.
Tidak hanya menjadi anggota, saya juga mulai aktif terlibat dalam beberapa kegiatan komunitas. Saya pernah membantu menjadi admin kelas menulis, terlibat di tim marketing, hingga membantu di tim buku. Dari sana saya belajar bahwa sebuah komunitas tidak hanya tumbuh dari orang-orang yang berkarya, tetapi juga dari orang-orang yang mau saling mendukung dan bergerak bersama.
Belajar Banyak Bersama IIDN
Perjalanan saya bersama IIDN dipenuhi banyak proses belajar.
Saya mengikuti beberapa kelas menulis dan blog yang diadakan IIDN mulai Belajar Nulis dari Nol Bersama Widyanti Yuliandari, kelas Belajar Ngeblog Dari Nol hingga membuat bersama Julia Pasca. Dari kelas-kelas tersebut saya tidak hanya belajar tentang teknik menulis, tetapi juga memahami dunia digital yang terus berkembang.
Sabar dalam berproses dan menikmati setiap perjalanan belajar hingga nantinya memetik hasilnya. Itulah prinsip yang saya pegang teguh. Saya tidak pernah memaksakan diri untuk menjadi juara lomba blog atau memenangkan kompetisi menulis. Bagi saya, bisa terus belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik melalui hal yang saya sukai saja sudah menjadi pencapaian yang berharga.
Kelas IIDN tidak hanya menyuguhkan teori, tetapi juga praktik sehingga saya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan. Setiap peserta diajak untuk mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh.
Artikel yang Meninggalkan Jejak Bagiku
Salah satu pengalaman yang paling membekas selama perjalanan menulis saya adalah ketika mengikuti lomba melalui artikel berjudul Keragaman Budaya Nusantara Dalam Beri Aku Cerita Yang Tak Biasa.
Artikel tersebut saya tulis karena rasa kagum terhadap karya almarhumah Kirana Kejora dan para penulis lain yang tergabung dalam buku Beri Aku Cerita yang Tak Biasa yang digawangi IIDN.
Saya masih ingat bagaimana saya menulis artikel itu dengan penuh antusias. Saat itu, saya hanya ingin menuliskan kesan dan kekaguman saya terhadap acara peluncuran bukunya. Tidak ada ekspektasi besar untuk menang.
Namun ternyata, artikel tersebut berhasil menjadi salah satu juara hiburan dan saya mendapatkan hadiah berupa buku dengan judul yang sama. Bagi sebagian orang, kemenangan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi saya, saat tersebut menjadi salah satu titik penting yang meningkatkan rasa percaya diri saya sebagai penulis sekaligus blogger.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa setiap tulisan memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak. Bahkan tulisan yang dibuat dengan sederhana sekalipun bisa membawa kebahagiaan dan pengalaman berharga.
Baca juga : Cara Menjaga Konsistensi Menulis Saat Puasa Meski Tubuh Lelah
Tantangan Menjadi Blogger dan Penulis di Era Digital
Perjalanan menjadi penulis dan blogger tidaklah mudah. Perjalanan yang saya mulai beberapa tahun silam masih berprose hingga saat ini dan nanti. Jangan pernah berhenti belajar karena kehidupan akan mengajarkan banyak hal.
Di era digital seperti saat ini tantangan yang dihadapi semakin beragam. Perkembangan teknologi digital pun berjalan cepat sehingga mau tidak mau blogger pun juga harus mau belajar. Kadang saya tersenyum sendiri karena saya menyusahkan diri sendiri. Eh tapi jangan salah lho Sobat Dy, seseorang yang berada dalam zona nyaman tidak akan bertumbuh. Sedangkan orang yang lelah karena belajar akan menikmati hasilnya kelak.
Jujurly, kadang saya merasa lelah, kehilangan ide, bahkan merasa tidak percaya diri dengan tulisan saya sendiri. Namun saya yakin bahwa setiap tulisan akan menemukan pembacanya masing-masing.
IIDN membuat saya memahami bahwa proses tumbuh dan berkembang penulis tidaklah selalu mudah. Belum lagi membagi waktu antara aktivitas sehari-hari dan konsistensi menulis. Selain itu, setiap penulis akan menemukan caranya masing-masing dalam berproses.
Komunitas IIDN membuat saya menyadari bahwa setiap penulis memiliki jalurnya masing-masing, Tak perlu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Cukup membandingkan diri ini saat ini dengan sebelumnya.
Ibu-ibu Doyan Nulis merupakan wadah saya berproses, tumbuh, dan berkembang sebagai blogger dan penulis
#IIDNAnniversary
#AnniversaryWritingJourney
#IIDN




Suka sama statement yaaa...setiap penulis akan menemukan pembacanya sendiri...karena setiap oenulis mempunyai cirikhas nya sendiri ya mbaa sehingga jgn membandingkan diri kita dgn orang lain cukup bandingkan kita dgn yg dulu apakah sudah berkembang
BalasHapusSeneng banget bisa sama-sama belajar dan berkembang bersama iidn ya kak semoga makin banyak karya dan hal baik kedepannya .
BalasHapusAaah, senang banget dengan penutup artikel yang manis ini, Mba. Saya pun merasa diingatkan kembali bahwa bahagia itu ya dari diri kita sendiri. Cukup lakukan yang terbaik sesuai versi kita ya, kan, Mba. Alhamdulillah, saya juga senang sekaligus terharu jika mengingat perjalanan sejak mulai ngeblog hingga detik ini. IIDN, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan itu.
BalasHapusKenal IIDN udah lama banget tapi sempat ada kesibukan lain jadinya sedikit kehilangan jejak, cuma ngikutin dari medsosnya aja. Kalau mau bergabung lebih aktif, gimana caranya ya, Mbak?
BalasHapusada di blognya mbak, klik aja menu daftar member
HapusIIDN sangat memahami aspirasi dan keinginan para anggotanya
BalasHapusBeberapa kali, saya menyimak diskusi antar para pengurus IIDN dengan anggota, yang terjalin secara digital, baik melalui WhatsApp Group ataupun tatkala berada di forum zoom meeting. Luar biasa, kerendahan hati para pengurus layak diacungi jempol! Benar-benar menghargai apapun lontaran ide/gagasan/saran bahkan kritik dari para member
di dunia yang berkembang spt ini saat video2 pendek mulai mendominasi mau gak mau blogger juga ikut beradaptasi ya mbaaa,,belajar mengambil video yang canti namun tidak meninggalkan kepenulisan..
BalasHapusaku sendiri juga lebih nyaman lewat tulisan mba dari pada video dan saya yakin setiap penulis pasti menemukan pembacanya sendiri
Quote pembuka dari Pak Pramoedya memang membuat kita yang memiliki keinginan menulis terasa terpantik semangatnya dan Alhamdulillah Mbak menemukan ruang bertumbuh yang menarik melalui komunitas IIDN.
HapusPrinsip menulis yang Mbak jalani keren sekali. Saya salut dan banyak belajar dari artikel ini, terutama tentang sabar, berproses, dan berkarya sesuai dengan yang diyakini. Tidak memaksakan diri untuk memenangkan lomba meski akhirnya pernah jadi pemenang juga. Semangat bertumbuh dan berkarya ya Mbak.
Awal tulisan sudah di suguhi Quotes yang memotivasi banget, sayangnya satu syarat yang bikin saya gak bisa masuk ke IIDN yaitu: bukan Ibu - ibu :(
BalasHapussaya ngga ingin hilang dari sejarah, makanya sekarang saya nulis, nulis apa aja asal jangan nulis di tembok rumah orang lain.
Hamdalah, selamat anniversary yaaa buat IIDN.
BalasHapusAbis baca ini, saya jadi kepikiran. Apa saya perlu buat grup baru ya, namanya BBDN alias Bapak Bapak Demen Nulis. Abisan kok saya perhatiin kebanyakan blogger itu malah didominasi oleh ibuck-ibuck, sementara bapack-bapacknya amalah ga ada, hiks.
Anyway, tetap semangat untuk menulis dan mengabadi yaaa untuk kita semua!
Aku anggota pasif IIDN tapi dulu pernah ikut giveaway-nya Mbak W Yuliandari. Memang nulis dan ngeblog itu seru kalau banyak temannya dan di IIDN kita bisa punya banyak teman penulis yang saling support.
BalasHapusSalut dengan Ibu-ibu Doyan Nulis karena bisa membagi waktu dan bersemangat berkarya membuat tulisan tulisan bagus dan bisa konsisten. Karena menjadi ibu sendiri tanggung jawab dan pekerjaan sudah banyak. Dengan menulis sampai doyan otomatis bisa menambah kebahagiaan dan kepercayaan diri Ibu karena masih bisa berkarya
BalasHapusSuka dengan penutupnya, tak perlu membandingkan diri kita dengan pencapaian orang lain, tapi bandingkan dengan diri saat ini dengan sebelumnya. Belajar dan terus belajar untuk mengembangkan diri dan tulisan. IIDN menjadi salah satu wadah yg sangat membantu dalam perkembangan tulisan saya. Selamat ultah ke-16 untuk IIDN, semoga makin maju dan berjaya.
BalasHapusBergabung dengan komunitas yang positif kayak komunitas IIDN memang seru sekali. Aku pernah dapat hadiah juga waktu ikut slah satu event menulisnya IIDN. Seru banget meski awaalnya nggak expect bakalan menang. Hehehe....
BalasHapusIyaya, bisa aja membandingkan bagaimana blog si A masih bertahan, blog si F banyak jobnya, blog si K ternyata domainnya gak diperpanjang, tapi lupa bahwa harusnya membandingkan diri tatkala tempo dulu dengan yang sekarang, agar bisa paham dengan proses dan terus eksis menjadi seorang blogger
BalasHapusSaya sepakat bahwa kita tidak perlu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Kita hanya perlu menengok kondisi kita dua tiga tahun yang lalu dan kita bandingkan dengan kondisi saat ini. Jadi kita akan tahu banyak sudah banyak proses yang kita lalui, kalau saya pribadi ini yang saya jadikan cambuk saat lelah menyapa, supaya bisa bangkit dan semangat lagi he...he.....
BalasHapusKutipan dari Pramoedya di awal benar-benar jadi pemantik yang pas buat menggambarkan keresahan banyak penulis pemula. Merasa ragu dan tidak percaya diri itu manusiawi sekali, tapi keren banget Kakak bisa mendobrak batasan itu lewat IIDN!
BalasHapusSalut dengan prinsip Kak Dyah yang fokus pada proses belajar dan bertumbuh, bukan sekadar mengejar piala. Cerita menang lomba hiburan itu bukti kalau tulisan tulus selalu punya pasarnya sendiri. Selamat ulang tahun ke-16 untuk IIDN, semoga terus menjadi wadah yang hangat untuk saling mendukung
Saya sering mendengar tentang IIDN ini tapi baru tahu dari tulisan Mbak Dyah kalau IIDN lahir di Bandung 16 tahun lalu. Terima kasih lho buat infonya. Jadi bisa lebih mengenal tentang IIDN ini lebih dekat.
BalasHapusAlhamdulillah juga ikut senang Mbak Dyah terus maju dan berkembang bersama IIDN. Memang berkomunitas itu banyak sekali, ya manfaatnya.
Mudah-mudahan IIDN terus memberikan kemanfaatannya yang maksimal bagi setiap anggotanya. Aamiin
Saya juga tahu komunitas IIDN ini dari facebook. keren ini, bisa bikin semangat menulis. Mau gabung, tapi nanti dicengin, suruh pakai rok dulu hahaha. Tapi kehadiran IIDN sangat keren karena memacu semangat dan membangkitkan semangat menulis melahirkan karya-karya bersama.
BalasHapusberarti saya ga boleh masuk ke IIDN dong yah wkwkwkwk :D.
BalasHapusselamat 16 tahun IIDN! semangat buat ibu-ibu dan blogger-blogger perempuan yg masih nulis di blog sampai sekaranggg! :D
Menemukan komunitas yang mendukung perkembangan diri itu memang penting ya. Kita bisa berbagi suka dan duka kepenulisan bersama mereka.
BalasHapusKeren sih IIDN sudah menjadi wadah bagi banyak ibu-ibu di luar sana untuk terus belajar dan berkembang.
Mbak Diah juga keren karena terus maju dan pantang menyerah. Setiap keberhasilan, sekecil apapun tetap perlu diapresisi. Selamat untuk perjalanannya yang saya yakin nggak mudah. Selamat ulang tahun juga IIDN!
Komunitas positif yang mendukung perempuan untuk terus berkarya dan berkembang bersama saling memberikan support terbaik.
BalasHapusSalut banget sama IIDN dan founder serta pengurusnyaa... semuanya bersinergi menuju tujuan yang sama.
Salut sama komunitas-komunitas menulis yang menjadi wajah untuk berkembang para blogger. Aku dulu pernah ikut juga lomba yang diadain oleh IIDN, itu malah dulu banget sebelum aktif ngeblog. Aku baru tahu kalau ternyata asalnya dari Bandung. Aku salut sama temen-temen terutama yang masih punya aktivitas sebagai ibu rumah tangga tapi masih menyempatkan waktu buat mengasah diri dan terus maju melalui jalur menulis. Apalagi kalau lihat tantangan di masa sekarang, di mana nggak cuma dari diri sendiri tapi juga lingkungan yang sudah mulai berat dirasakan oleh para blogger.
BalasHapusIIDN tempat saya belajar menjadi orang di belakang layar
BalasHapusSenang banyak yang kemudian menjadi penulis dan menelurkan buku bahkan membuat blog untuk tulisannya
Namun, saya sekarang sudah tidak lagi menjadi orang di belakang layar (baca: Pengurus) karena mencoba untuk mengembangkan sayap lebih lebar lagi di tempat lain
Wah iya jadi keinget almarhumah Mbak Kirana, waktu itu pernah ketemu di event penerbitan bukunya di perpusnas.
BalasHapusSenang ya sekarang kita makin mudah menemukan komunitas penulis dan bisa membukakan jalan/ peluang buat karier kepenulisan kita.
Apalagi kalau komunitasnya sering bikin pelatihan dan membernya saling support :D
Kereen IIDN sudah 16 tahun membersamai ibu ibu yang suka nulis. Semoga di anniversary ke 16 makin banyak memberi manfaat bukan hanya bagi membernya tapi juga bagi masyarakat yang membaca karya karya penulis di IIDN
BalasHapusSalut dgn emak2 yg banyak banget komunitas blogger buat kaum hawa. IIDN ini salah satu komunitas pemberdayaan perempuan khususnya blogger yg msh eksis sampe skrg.
BalasHapusDi usia 16 tahun, sdh bnyk bgt ya agendanya. Program pemberdayaan nya jg keren. Mewadahi blogger utk bs lbh mandiri dalam hal konten hingga menambah cuan dari segi pendapatan.
Gmn nih blogger lelaki? Kyknya udh lama vakum. Keasyikan kerja normal kyknya ya sampe kalah pamor dgn IIDN ini. Usia segini emg lagi cantik2nya dan manja2nya.
IIDN memang luar biasa, ya
BalasHapusMewadahi talenta dan passion para Ibu.
Jadi, bisa menulis sesuai dengan kesukaan masing2
Bravo IIDN
Saya mengenal IIDN sejak 2020. Ternyata, ia telah ada semenjak 10 tahun sebelumnya. Salut, IIDN mampu bertahan salama itu. IIDN pun menjadi salah satu komunitas yang membersamai aku di awal-awal belajar menulis. Selamat ulang tahun, IIDN.
BalasHapusHappy anniversary untuk IIDN yang ke-16. Semoga semakin memberikan kemanfaatan yang maksimal kepada para perempuan Indonesia yang ingin maju dan berkembang dengan berkontribusi di dunia literasi melalui tulisan-tulisan insughfull-nya.
BalasHapusSenang juga membaca kisah Mbak Dyah yang terus tumbuh berkembang bersama IIDN dengan setiap programnya, termasuk menjadi pemenang di salah satu lomba yang diadakan IIDN. Alhamdulillah, tahniah, ya