Pernahkah Sobat Dy menulis sesuatu yang terasa sangat sederhana, menurut Sobat Dy, lalu tanpa disangka ada seseorang yang berkata, “Tulisan ini saya butuhkan sekali” atau "Terima kasih ya sudah mau berbagi"?
Padahal mungkin saat itu Sobat Dy hanya menuliskan hal-hal kecil atau remeh temeh. Tentang menjadi ibu, tentang lelahnya hari, atau tentang belajar sabar menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu mudah atau resep camilan favorit anak-anak.
Namun, justru dari pengalaman sederhana itulah, saya mulai menyadari bahwa menulis sebagai ibadah bukanlah sesuatu yang jauh atau sulit dilakukan. Bisa jadi, dari tulisan yang kita anggap biasa, ada manfaat yang sampai kepada orang lain dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Dan mungkin, di situlah letak makna menulis yang sebenarnya.
Menulis yang Terasa Sederhana, Tapi Bermakna
Sering kali kita merasa tulisan yang kita buat tidak cukup istimewa. Tidak terlalu dalam, tidak terlalu menarik, atau bahkan tidak layak untuk dibagikan. Itu saya sih.
Apalagi di tengah banyaknya tulisan yang terlihat begitu bagus dan terstruktur, rasa ragu itu sering muncul tanpa diminta. Jujurly insecure rasanya.
Namun, jika dipikirkan kembali, tidak semua orang membutuhkan tulisan yang sempurna. Banyak orang justru mencari tulisan yang terasa nyata. Tulisan yang jujur, yang apa adanya dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika kita menuliskan pengalaman dengan tulus, tanpa dibuat-buat, pembaca bisa merasakan kehangatan di dalamnya. Mereka melihat dirinya sendiri dalam cerita yang kita bagikan.
Tulisan yang ditulis dari hati akan sampai ke hati pula. Sehingga tanpa kita sadari, dari situlah sebuah tulisan mulai memiliki makna.
Ketika Menulis Menjadi Ibadah
Bagi sebagian orang, kata “ibadah” mungkin identik dengan sesuatu yang besar dan terstruktur. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal sederhana yang bisa bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat yang baik.
Begitu juga dengan menulis. Salah satu ibadah yang tidak dilakukan di atas sajadah.
Menulis sebagai ibadah bukan hanya tentang merangkai kata menjadi kalimat yang indah. Lebih dari itu, ini tentang niat untuk berbagi kebaikan, pengalaman dan pelajaran hidup.
Ketika kita mulai menulis dengan tujuan memberi manfaat, ada yang berubah dalam prosesnya. Kita menjadi lebih hati-hati dalam memilih kata, lebih jujur dalam menyampaikan cerita, dan lebih sadar bahwa tulisan kita mungkin dibaca oleh seseorang yang benar-benar membutuhkannya.
Di titik itu, menulis tidak lagi sekadar menjadi aktivitas pribadi. Ia berubah menjadi bentuk kontribusi kecil yang kita berikan kepada orang lain.
Pengalaman Seorang Ibu adalah Cerita yang Berharga
Banyak ibu merasa kehidupannya terlalu biasa untuk dituliskan. Tidak ada perjalanan spektakuler, tidak ada kisah luar biasa, seperti yang saya sampaikan sebelumnya.
Padahal justru dari keseharian itulah lahir cerita yang paling dekat dengan banyak orang.
Pengalaman mendampingi anak yang sedang belajar mengenal emosi, membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, menghadapi anak yang tantrum hingga mengelola keuangan keluarga.
Misalnya, ketika kita menuliskan tentang bagaimana menghadapi anak yang sedang tantrum, mungkin ada ibu lain yang sedang berada di situasi yang sama. Ia membaca tulisan kita dan merasa, “Ternyata saya tidak sendirian.”
Atau ketika kita berbagi tentang rasa lelah yang datang di penghujung hari, ada seseorang yang merasa dimengerti tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.
Tulisan seperti ini tidak hanya memberi informasi, tetapi juga menghadirkan rasa terhubung. Dan sering kali, itu yang paling dibutuhkan. Sehingga tidak merasa sendirian.
Manfaat Menulis bagi Orang Lain yang Sering Tak Disadari
Salah satu hal yang sering tidak kita sadari sebagai penulis adalah manfaat menulis bagi orang lain.
Tulisan yang kita buat mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa memiliki arti besar bagi pembacanya.
Ada yang membaca untuk mencari solusi. Ada yang membaca untuk mendapatkan perspektif baru. Ada juga yang membaca hanya untuk merasa dimengerti.
Di era digital seperti sekarang, banyak orang mencari jawaban melalui tulisan. Mereka mengetik pertanyaan, lalu menemukan artikel, blog, atau cerita yang ditulis oleh orang lain.
Dan mungkin saja, salah satu tulisan itu adalah milik kita. Pede mode on.
Kita mungkin tidak pernah tahu siapa yang membaca tulisan tersebut. Namun, bukan tidak mungkin, dari satu tulisan sederhana, ada seseorang yang merasa lebih kuat menjalani harinya.
Menulis di Tengah Kesibukan Seorang Ibu
Menulis di tengah kesibukan sebagai ibu bukanlah hal yang mudah. Jujurly, ada banyak peran yang harus dijalani setiap hari. Mengurus rumah, bekerja, mendampingi anak, dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Tidak jarang, niat untuk menulis harus tertunda karena tubuh sudah terlalu lelah. Atau ide yang muncul tiba-tiba harus menghilang karena ada hal lain yang lebih mendesak untuk diselesaikan dan draft tulisan pun semakin banyak.
Namun, di tengah semua itu, menulis tetap bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Tidak harus panjang. Tidak harus sempurna. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak menggunakan laptop, HP pun oke la.
Mulai dari hal kecil, seperti menuliskan satu pengalaman hari ini, mencatat satu pelajaran yang kita dapatkan, atau berbagi satu hal yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.
Yang terpenting bukan seberapa banyak kita menulis, tetapi seberapa tulus kita berbagi. Karena sering kali, tulisan yang paling sederhana justru yang paling menyentuh.
Menulis untuk Berbagi Kebaikan dan Meninggalkan Jejak
Tulisan memiliki satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh percakapan biasa: ia bisa bertahan lebih lama.
Apa yang kita tulis hari ini bisa dibaca kembali di kemudian hari. Bahkan oleh orang yang belum pernah kita temui.
Inilah yang membuat menulis untuk berbagi kebaikan menjadi sangat bermakna.
Karena dari satu tulisan sederhana, manfaatnya bisa terus berjalan. Ia bisa ditemukan kembali, dibaca ulang, dan memberi dampak bagi orang lain di waktu yang berbeda.
Tulisan menjadi jejak.Bukan hanya jejak kata, tetapi jejak pemikiran, pengalaman, dan kebaikan yang kita tinggalkan.
Dan mungkin, kita tidak akan pernah benar-benar tahu sejauh apa jejak itu berjalan.
Jejak yang Tak Lekang Oleh Waktu
Pada akhirnya, menulis bukan hanya tentang kemampuan merangkai kata menjadi kalimat yang indah.
Menulis adalah tentang niat, tentang berbagi, dan tentang keberanian untuk menceritakan pengalaman hidup yang mungkin terlihat sederhana.
Bagi seorang ibu, tulisan sering lahir di sela-sela kesibukan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di antara rasa lelah, tanggung jawab, dan berbagai peran yang dijalani setiap hari.
Namun, siapa sangka, dari tulisan sederhana itu ada seseorang yang merasa dikuatkan. Ada yang menemukan jawaban. Ada yang merasa tidak sendirian.
Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan satu tulisan kecil yang kita buat hari ini. Bisa jadi, di suatu tempat dan di waktu yang tidak kita ketahui, tulisan itu menjadi cahaya bagi seseorang.
Karena kita tidak pernah tahu, tulisan mana yang akan sampai ke hati seseorang.
Semoga bermanfaat



Setuju banget, Mbak. Menulis itu ibadah, apalagi jika punya dampak baik untuk orang lain. Ianya menjadi sedekah jariyah juga. Jadi ingat pengalaman ketika menulis tentang kehidupan sebagai mahasiswa asing di tengah minoritas. Cerita berkaitan dengan ibadah bertahan hidup ternyata menjadi motivasi buat orang lain yang terjebak dalam ketakutan dan belum bisa keluar dari zona aman. Saat tau tulisan kita mengubahnya tuh rasanya happy banget.
BalasHapusSepakat, Kak, tidak ada kisah yang terlalu sepele untuk dituliskan. Setiap tulisan pasti punya pembacanya sendiri. Apa yang kita anggap tidak berarti, bisa jadi mampu menyelamatkan kehidupan yang lain.
HapusAku dulu mikirnya juga gitu sih: masa tulisan curhat begini ada yang baca. Eh rupanya ketika ada yang baca dan terasa relate sama mereka, jadi ngerasain tulisan ini rupanya berguna juga untuk orang lain. Intinya nulis aja, meski kita nggak Tau siapa yang baca tulisan kita jni nantinya.
BalasHapusSepakat Mbak Yun. Mari tetap konsisten menulis dan mudah-mudahan tulisan kita menemukan jodoh pembacanya yang merasakan kemanfaatan dari apa yang kita tuangkan dalam tulisan. Aamiin
HapusAku setuju sekali Mbak. Sering kali tulisan yang kita anggap remeh temeh justru berarti besar bagi orang lain. Benar ya, suatu tulisan punya pembacanya sendiri. Tak peduli katanya tingkat membaca orang makin menurun, tak ada salahnya terus menulis. Setidaknya bermanfaat bagi diri sendiri...
BalasHapusSama banget mbak. Aku pernah ngerasain kayak gitu juga lho. Kupikir tulisan curhat remeh temeh gitu nggak ada yang baca, rupanya ada juga yang bisa ngambil manfaatnya. Barakallahu fiik.
HapusWah, perspektifnya menarik banget! Saya setuju kalau menulis itu bukan cuma soal hobi atau pekerjaan, tapi ada tanggung jawab moral di sana. Jujur, tulisan ini bikin saya jadi lebih semangat buat nulis hal-hal yang bermanfaat lagi, karena niatnya jadi lebih 'ringan' tapi bermakna.
BalasHapusSetuju banget Mbak bahwa menulis itu bisa memberikan cahaya untuk orang lain. Aku pernah di DM karena qoutes yang aku share di IG memberi pencerahan.pada pembaca. Dia ucapkan terima kasih untuk quotes saya. Sedang menurutku quotes yang saya tulis itu biasa saja. Jadi yang ditulis mbak Diah ini benar adanya. Makasih banyak mbak telah berbagi
BalasHapusSetuju kalau menulis itu bisa dijadikan sebagai ibadah. Sebagai mahasiswa yang masih sering ovt dan belajar memanajemen waktu dengan baik, jujur salut sama ibu-ibu yang punya kesibukan segudang tapi masih bisa menyempatkan dirinya untuk menulis.
BalasHapusKadang sempat berpikir juga, siapa sih yg mau baca tulisan saya, hanya tulisan receh begini. Tetapi mungkin di luar sana banyak orang yg kebetulan membaca tulisan itu dan merasakan manfaatnya atau mendpt solusi dari masalahnya.
BalasHapusSetujuu. Beberapa kali dapet komen di blog yang related dengan tulisan yang aku tulis, rasanya hati jadi hangat gitu. Kadang juga yapping di story WA, ada yang komen katanya related dan ada yang bisa menghibur, rasanya jadi hangat dan merasa sedikit berguna jadi manusia hehe.
BalasHapusSepakat, Mbak. Bahkan tulisan kita hari ini bisa menyentuh hati kita sendiri di lain kesempatan. Banyak hal yang terjadi sampai kita lupa pernah menulis apa saja. Hingga suatu hari kita membaca tulisan lama dan menemukan "sesuatu" kembali atau bahkan bertambah.
BalasHapusBener banget mbak Dy. Bagi kita biasa aja, tapi bagi orang lain malah jadi istimewa dan sangat relate. Makanya jangan pernah berhenti menulis apalagi untuk memulainya karena kita nggak pernah tahu tulisan mana yg paling dibutuhkan pembaca.
BalasHapusSemakin bertambah usia, kalau mau curhat lewat tulisan sebelum ku posting pasti ku baca ulang, soalnya giliran bagian curhat lebih banyak yang baca drpd nulis agak niat dan bertema 🤣🤣🤣
BalasHapusBismillah. Semoga setiap tulisan kita bermanfaat untuk setiap pembaca dan memberikan dampak yang positif untuk banyak orang, baik disadari ataupun tidak, sehingga insyaAllah bernilai ibadah di sisi Allah. Aamiin
BalasHapusAku jadi kesindir mbak, jadi merasa tersentil. Kayaknya tulisanku nggak bisa disebut ibadah. Yang aku tulis bukan pemikiran seorang ibu, tapi pemikiran seorang fangirl. Jadi selama ini aku nulis buat apa?
BalasHapusDi satu sisi menulis kalo diniati ibadah jadi terasa lebih ringan. Di sisi lain menurutku ada beratnya juga, karena ada tanggung jawab moral juga di situ untuk menulis sesuatu yang bermanfaat, bukan sekedar keluh kesah fangirl yang unfaedah.
Tapi aku suka. Aku seneng bisa nulis apapun itu walaupun nggak berfaedah buat orang lain. Jadi aku cuma bisa menghibur diri: aku nulis ini sendiri dan buat diriku sendiri :)
Yah semoga setelah ini bisa nulis yang lebih bermanfaat. Makasih yaa sharingnya jadi reminder buatku..
Setuju, menulis adalah ibadah dan kita tidak boleh meremehkan tulisan.karena apapun tulisan yang kita tulis, menjadi rekam jejak digital kita
BalasHapusAku baca pelan pelan dan hayati, sembari menggangguk pelan mengiyakan apa yang ditulis. Bismillah bisa rajin menulis lagi 🤝
BalasHapus