Belajar, Bertumbuh, dan Berkarya Bersama IIDN

Selasa, 19 Mei 2026

Belajar, Bertumbuh, dan Berkarya Bersama IIDN


"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk kebadian," sebuah quote dari Pramoedya Ananta Toer ini membuat saya terpacu untuk belajar menulis. 

Walaupun ada kalanya saya hanya berani menjadi pembaca penulis-penulis idola. Ingin rasanya mengikuti jejak mereka menjadi penulis yang karyanya dibaca banyak orang. Tapi sepertinya dunia menulis seperti dunia yang sulit untuk saya raih kala itu.

Hmm sebuah kenyataan dan keinginan yang bertolak belakang. Namun, saya tetap menulis untuk menyalurkan emosi dan menuangkan isi hati dan ide yang terlintas di kepala. Ada keraguan yang terlintas apakah tulisan saya layak untuk dibaca? Apakah suara saya pantas untuk didengar di tengah banyaknya tulisan bagus di era digital ini?

Semesta mendukung, keinginan saya untuk belajar menulis mempertemukan saya dengan komunitas menulis. Salah satunya komunitas perempuan Ibu-ibu Doyan Nulis. Rasa penasaran dengan komunitas perempuan ini mengantarkan saya untuk berselancar di dunia maya.

Dan ternyata IIDN bukan hanya sekedar wadah untuk berkumpulnya perempuan yang suka menulis, lho. IIDN juga mewadahi perempuan yang mau belajar menulis baik menulis blog maupun cerita pendek hingga membuat konten. Salah satu perempuan itu adalah saya.


Mengenal IIDN Lebih Dekat

Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis atau IIDN merupakan komunitas yang didirikan oleh Indari Mastuti 16 tahun silam. Tepatnya 24 Mei 2010 di Bandung. Sebuah komunitas yang didirikan dengan tujuan sebagai wadah ibu dan perempuan untuk belajar menulis dan berkarya dari rumah.

Namun, saya baru bergabung beberapa tahun setelahnya. Semesta sepertinya mendukung keinginan saya untuk belajar menulis hingga akhirnya menemukan komunitas IIDN saat berselancar di Facebook.

Puas berselancar, saya pun tak hanya ingin menjadi penonton saja. Kemudian saya mendaftarkan diri untuk menjadi anggota IIDN. Serangkaian persyaratan segera saya penuhi demi menjadi anggota IIDN, tapi jangan tanya apa saja persyaratannya ya, karena saya sendiri sudah lupa.

Tidak hanya menjadi anggota, saya juga mulai aktif terlibat dalam beberapa kegiatan komunitas. Saya pernah membantu menjadi admin kelas menulis, terlibat di tim marketing, hingga membantu di tim buku. Dari sana saya belajar bahwa sebuah komunitas tidak hanya tumbuh dari orang-orang yang berkarya, tetapi juga dari orang-orang yang mau saling mendukung dan bergerak bersama.


Belajar Banyak Bersama IIDN

Perjalanan saya bersama IIDN dipenuhi banyak proses belajar.

Saya mengikuti beberapa kelas menulis dan blog yang diadakan IIDN mulai Belajar Nulis dari Nol Bersama Widyanti Yuliandari, kelas Belajar Ngeblog Dari Nol hingga membuat bersama Julia Pasca. Dari kelas-kelas tersebut saya tidak hanya belajar tentang teknik menulis, tetapi juga memahami dunia digital yang terus berkembang.

Sabar dalam berproses dan menikmati setiap perjalanan belajar hingga nantinya memetik hasilnya. Itulah prinsip yang saya pegang teguh. Saya tidak pernah memaksakan diri untuk menjadi juara lomba blog atau memenangkan kompetisi menulis. Bagi saya, bisa terus belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik melalui hal yang saya sukai saja sudah menjadi pencapaian yang berharga.

Kelas IIDN tidak hanya menyuguhkan teori, tetapi juga praktik sehingga saya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan. Setiap peserta diajak untuk mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh.

logo 16 tahun IIDN



Artikel yang Meninggalkan Jejak Bagiku

Salah satu pengalaman yang paling membekas selama perjalanan menulis saya adalah ketika mengikuti lomba melalui artikel berjudul Keragaman Budaya Nusantara Dalam Beri Aku Cerita Yang Tak Biasa.

Artikel tersebut saya tulis karena rasa kagum terhadap karya almarhumah Kirana Kejora dan para penulis lain yang tergabung dalam buku Beri Aku Cerita yang Tak Biasa yang digawangi IIDN.

Saya masih ingat bagaimana saya menulis artikel itu dengan penuh antusias. Saat itu, saya hanya ingin menuliskan kesan dan kekaguman saya terhadap acara peluncuran bukunya. Tidak ada ekspektasi besar untuk menang.

Namun ternyata, artikel tersebut berhasil menjadi salah satu juara hiburan dan saya mendapatkan hadiah berupa buku dengan judul yang sama. Bagi sebagian orang, kemenangan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi saya, saat tersebut menjadi salah satu titik penting yang meningkatkan rasa percaya diri saya sebagai penulis sekaligus blogger.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa setiap tulisan memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak. Bahkan tulisan yang dibuat dengan sederhana sekalipun bisa membawa kebahagiaan dan pengalaman berharga.


Tantangan Menjadi Blogger dan Penulis di Era Digital

Perjalanan menjadi penulis dan blogger tidaklah mudah. Perjalanan yang saya mulai beberapa tahun silam masih berprose hingga saat ini dan nanti.   Jangan pernah berhenti belajar karena kehidupan akan mengajarkan banyak hal.

Di era digital seperti saat ini tantangan yang dihadapi semakin beragam. Perkembangan teknologi digital pun berjalan cepat sehingga mau tidak mau blogger pun juga harus mau belajar. Kadang saya tersenyum sendiri karena saya menyusahkan diri sendiri. Eh tapi jangan salah lho Sobat Dy, seseorang yang berada dalam zona nyaman tidak akan bertumbuh. Sedangkan orang yang lelah karena belajar akan menikmati hasilnya kelak.

Jujurly, kadang saya merasa lelah, kehilangan ide, bahkan merasa tidak percaya diri dengan tulisan saya sendiri. Namun saya yakin bahwa setiap tulisan akan menemukan pembacanya masing-masing.

IIDN membuat saya memahami bahwa proses tumbuh dan berkembang penulis tidaklah selalu mudah. Selain itu membagi waktu, setiap penulis akan menemukan caranya masing-masing dalam berproses. Belum lagi membagi waktu antara aktivitas sehari-hari dan konsistensi menulis.

Komunitas IIDN membuat saya menyadari bahwa setiap penulis memiliki jalurnya masing-masing,  Tak perlu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Cukup membandingkan diri ini saat ini dengan sebelumnya.

Ibu-ibu Doyan Nulis merupakan wadah saya berproses, tumbuh, dan berkembang sebagai blogger dan penulis


#IIDNAnniversary
#AnniversaryWritingJourney
#IIDN

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih