Apakah Sobat Dy merasakan hal yang sama seperti saya saat puasa ramadan seperti tubuh terasa lebih cepat lelah hingga rasanya tidak ada tenaga untuk melakukan aktivitas lagi? Ingin segera rebahan untuk melepas lelah.
Namun, banyak hal dan tugas menanti untuk dilakukan. Salah satunya menulis artikel di blog. Ada keinginan menuntaskan ide yang tadi terlintas, kok tiba-tiba idenya hilang tak berbekas. Saat menatap layar laptop pun tampak kosong.
Puasa ramadan melatih banyak hal, di antaranya menahan lapar, menahan dahaga, menahan amarah. Tidak hanya itu, puasa juga melatih untuk menahan rasa ingin menunda pekerjaan, termasuk menunda menulis.
Saya pun kembali bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya menulis hanya saat mood atau semangat datang ataukah karena saya berkomitmen pada prosesnya?" Seperti saat awal mulai serius blogging. Saya menuliskan "Big Why" menulis dan blogging dengan tujuan agar saat semangat saya menurun saya mempunyai booster atau penyemangat untuk tetap konsisten menulis.
Tantangan Menulis yang Sering Terjadi Saat Puasa
Saya merasakan perubahan ritme menulis saat bulan ramadan karena adanya perubahan jam aktif. Bangun lebih awal menyiapkan sahur untuk keluarga. Selain itu saya juga masih bekerja di ranah publik dan membutuhkan waktu yang kadang lebih lama daripada biasanya untuk menuju dan kembali dari pabrik.
Perubahan jam masuk beberapa instansi, membuat pekerjanya berangkat di jam yang sedikit berbeda sehingga menambah kemacetan di pagi hari. Selain itu, hadirnya rasa perasaan ingin berbuka di rumah menjadi alasan utama masyarakat untuk bergegas pulang. Alhasil kemacetan terjadi di mana-mana saat sore hari. Ditambah pedagang yang menjajakan jualannya di pinggir jalan. Maklumlah saat ramadan banyak bermunculan pedagang dadakan.Sehingga membuat jalan semakin sempit.
Hal inilah yang membuat energi saya rasanya tersedot habis menghadapi kemacetan dan durasi mengendarai moyor yang bertambah lama. Setibanya di rumah hanya ingin meluruskan punggung dan mengistirahatkan kepala yang terasa berat. Hingga akhirnya membuat saya menunda menulis.
Apakah Sobat Dy juga merasakan hal yang sama? Jujurly hal ini merupakan tantangan menulis yang sering terjadi dan saya alami saat puasa. Tak jarang saya menunggu mood menulis datang. Namun, sayangnya hal tersebut tak kunjung datang. Sehingga tumpukan draft tidak terselesaikan juga. Hiks bagaiman artikel dapat selesai jika tak kunjung dikerjakan. Tragis bukan?
Baca juga : Site Audit Blog Gratis Untuk Pemula di Ahrefs.com
Saat Mood Tidak Datang, Disiplin yang Bekerja
Saat mood tidak datang, saatnya disiplin yang bekerja. Sepakat bukan? Saat tubuh terasa lelah godaan untuk tidak menulis tentunya cukup besar.
Alasan seorang penulis tetap menulis adalah menulis ketika sedang semangat atau menulis karena sudah menjadi kebiasaan.
Mood merupakan hal unik yang datang dan pergi. Tak ada yang mengetahui kapan dia datang pun sebaliknya kapan dia pergi. Oleh karena itu, jika seseorang mengandalkan mood untuk melakukan sebuah aktivitas seringkali membuat konsistensi sulit dijaga.
Sedangkan disiplin dapat membuat seseorang melakukan sesuatu hal secara rutin walaupun langkahnya kecil. Namun, sedikit demi sedikit itulah yang membuatnya dapat menuntaskan tugas dengan baik.
Sebuah paragraf yang dituliskan setiap hari secara bertahap akan menghasilkan sebuah artikel utuh. Disiplinlah yang bekerja bukan lagi mood yang datang sesuka hati, sehingga konsistensi menulis pun dapat dilakukan.
Ramadan, Media Pengendalian Diri
Salah satu makna puasa adalah mengendalikan diri. Tidak hanya mengendalikan rasa haus dan lapar, tetapi juga mengendalikan emosi.
Jika selama ini Sobat Dy mampu menahan diri untuk tidak makan dan minum sepanjang hari, sebetulnya Sobat Dy juga sedang melatih kemampuan lainnya, termasuk melatih konsisitensi menulis dan menjaga komitmen terhadap kebiasaan baik.
Dengan menulis di bulan Ramadan bisa menjadi latihan kecil untuk membangun disiplin. Tidak hanya seberapa banyak tulisan yang dihasilkan tetapi tentang tetap hadir pada setiap prosesnya.
Saat Tidak Ingin Menulis, Saatnya Membentuk Konsistensi
Jujurly saat tubuh lelah, otak sedang ingin rehat, keinginan untuk menunda menulis bahkan berhenti menyelesaikan artikel sangat kuat. Di saat seperti inilah disiplin yang bekerja. Mood tidak datang, menulispun tetap dilakukan.
Karakter seorang penulis tidaklah terbentuk dalam keadaan yang ideal. Namun, saat ia memilih menulis dengan kondisi apapun yang dihadapinya, di sanalah karakter itu terbentuk.
Dengan menepati sebuah janji kecil pada diri sendiri seringkali menjadi sumber rasa percaya diri yang lebih besar di kemudian hari. Sebuah pemantik kecil yang menjaga nyala semangat menuntaskan sebuah ide hingga menjadi artikel utuh.
Cara Menjaga Konsistensi Menulis Saat Puasa
Berikut cara menjaga konsistensi menulis saat puasa yang dapat Sobat Dy coba:
Turunkan target menulis
Tak perlu memaksakan diri dengan menulis panjang, misalnya 1000 kata. Saat energi terbatas, cobalah menulis 300 hingga 500 kata saja. Hal ini agar kebiasaan menulis tetap berjalan tanpa menimbulkan kelelahan berlebihan.
Gunakan teknik menulis singkat
Sobat Dy dapat memanfaatkan timer atau aplikasi untuk fokus melakukan kegiatan seperti pomodoro untuk melatih diri menulis singkat. Fokus menulis tanpa membuka media atau aktivitas lain. Seringkali setelah memulai menulis, ide akan mengalir dengan sendirinya.
Tetaplah menulis tanpa mengedit
Jangan lakukan aktivitas menulis dan mengedit secara bersamaan, karena kedua hal ini merupakan proses yang berbeda. Biarkan ide mengalir dulu tanpa edit, perbaikan dapat dilakukan setelahnya.
Jika menulis dan mengedit dilakukan bersamaan bisa jadi artikel tersebut tak kunjung selesai dan yang hadir justru rasa frustasi.
Pilih menulis saat waktu energi sedang dalam kondisi optimal
Tak dapat dimungkiri setiap orang memiliki waktu produktifnya masing-masing terutama saat puasa. Sobat Dy dapat mengevaluasi diri kapan waktu menulis terbaik versi Sobat Dy. Berikut contoh waktu produktif saat puasa yang dapat dipilih, di antaranya
- Pagi hari setelah sahur, pikiran masih segar.
- Senja hari, menjelang waktu berbuka ketika aktivitas mulai melambat
- Malam hari, setelah tarawih. ketika suasana lebih tenang.
Dengan menemukan ritme menulis, Sobat Dy akan membuat proses menulis terasa lebih ringan sehingga artikelpun tak hanya sekedar menjadi draft.
Baca juga : 5 Manfaat Bergabung Komunitas Blogger Indonesia
Tetap Menulis Meskipun Tubuh Lelah
Sebuah hal kecil yang dilakukan secara terus menerus merupakan sesuatu hal yang disukai Allah, termasuk menulis hal yang baik dan bermanfaat. Menulis satu paragraf ketika badan lelah mungkin terasa sederhana, tetapi kebiasaan kecil tersebut membangun disiplin diri secara perlahan.
Ramadan bukanlah penghambat seseorang menjadi produktif menghasilkan karya. Ramadan dapat menjadi media untuk mengendalikan diri untuk tetap menulis dan blog pun tidak menjadi sarang laba-laba lagi.
Menulis tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga tentang belajar setia pada proses. Kadang kita tidak menulis karena sedang semangat, tetapi kita memilih menulis untuk tidak menyerah pada keadaan.
Bagaimana dengan pengalaman Sobat Dy? Yuk cerita di kolom komentar!



Alhamdulillah bulan Ramadhan tahun ini malah amazing bangettt mbak. Aku ikutan challenge kompasiana yang menulis 30 hari (yang kenyataannya 32 hari), sambil di saat yang bersamaan tetap rutin menulis di blog pribadi juga. Trus pas banget ada project menulis bareng brand juga. Beuhhhhhhh rasanyaaaa... luar biasa sekali, hahaha.
BalasHapusTapi memang, yang terpenting itu disiplin mbak. Karena kalau kita terus kalah sama mood, yaaa udah deh ya, gak bakal nulis. Paksain aja dulu, nanti pelan2 moodnya akan muncul kok.
Satu kalimat rasanya melankolis
Pada senjakala hati rasa bangga
Sungguh nikmat jika rutin menulis
Banyak pahala, banyak rezeki juga
Daku merasakan ini kak Dyah, yaitu rasa agak malas untuk menulis saat di bulan Ramadhan, karena kebetulan ada kegiatan lain juga. Jadinya untuk membagi waktunya kurang mantap huhu.
BalasHapusInsyaAllah Ramadan berikutnya bisa lebih baik lagi, khususnya untuk tetap menulis meski sedang berpuasa. Mangats
Selama puasa kemarin aku memang ga nulis, Krn sebenernya ngejar target ramadhan trutama khatam quran. Makanya blog terpaksa dikorbankan dulu. Tp sempet sih cba buat menulis pas puasa, dan memang aku paling suka waktu pagi setelah subuh dan ngaji. Itu otak masih seger utk menulis.
BalasHapusDan bener mba, awal2 tulisan , ga usah LGS edit.yg penting kluar dulu apa yg mau ditulis. Baru nanti edit kalau alurnya udah selesai
Bener sih. Nggak ada salahnya menurunkan target menulis saat Ramadhan. Yang penting tuh menjaga konsistensinya dulu.
BalasHapusToh, jam aktifnya berubah. Maka, perlu ada penyesuaian juga.
Saya pun mengakui, saat puasa, rasanya malas menulis, Mbak. tidak konsen. rasanya ingin rebahan saja hahaha. tapi kalau dituruti malas, kapan nulisnya ya, Mbak. Bukan bulan puasa juga, kalau mals dituruti, maka semua kelar.
BalasHapusjadi saya mensiasati dengan menulis sore, habis tarawih, atau kadang sahur. memsng sempat nulis pas sahur? Sdmpat dong, saya kan bangun sahur jam 2. jadi nulisnya sampai waktu salat subuh.
Relate banget sih sama isi tulisannya, menjaga konsistensi menulis saat puasa itu memang challenge tersendiri 😄 Kadang niatnya pengen tetap produktif, tapi kondisi tubuh lagi nggak selalu “support”, entah karena lemas, ngantuk, atau fokus yang gampang buyar.
BalasHapusAku setuju banget sama poin bahwa kunci utamanya ada di konsistensi, bukan harus selalu sempurna. Justru di momen puasa ini, ritme kita berubah, jadi penting banget menyesuaikan waktu dan energi. Banyak juga yang ngerasa lebih enak nulis di waktu tertentu, misalnya setelah sahur atau menjelang berbuka karena suasananya lebih tenang
Alhamdulillah, tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu, menulis agak jarang di Ramadan soalnya banyak kerjaan kantor yang meminta fokus.
BalasHapusTahun ini, sedang nganggur. Jadi ada banyak waktu luang di sela aktivitas lainnya. Sehingga aku bisa menulis one day one article. Kadang bisa dua artikel hingga tiga artikel dalam sehari.
Tetapi, mamang fokus di Ramadan agak mudah ke distraksi. Apalagi di jam-jam malam. Makanya aku nulis after sahur, jam segitu lebih segar dan secara ide pun bermunculan.
Ada benarnya, nulis aja dulu sampai selesai. Nanti proses editing saat baca ulang.
effort bngeut pas puasa kemarin, pdahal udh diniatin mo nulis eh dpn pc sung bengong, ujung2 nya draft numpuk, pdhal nulis bisa buat ngabeberang hehe.
BalasHapusharus ngelawan mood itu luar biasa , lepas ddari kegiatan sehari2 yg menguras
mari semngat menulis
Ku pernah ada di tahap malas banget buat nulis berbulan-bulan. Beruntung gabung di komunitas nulis yang ada challenge nulis tiap minggu, Alhamdulillah mood nulis balik lagi, meski masih tahap dua minggu sekali.
BalasHapusPas puasa memang sangat menantang banget ya mbak. Naik turun banget. Kalau di saya justru naik turun datang pas liburan kemarin. Biasanya ngedraft bikin 3 jam, ini bisa larut sampai berhari-hari.
BalasHapusCuma memang apapun keadaannya, konsistensi ini memang sangat diperlukan untuk jaga semangat juga biar nggak kendor. 😍😍
Ramadan kemarin, sekitar satu minggu sebelum lebaran mulai nggak fokus nulis blog mbak. Kayanya pikiran bercabang ke mana-mana memikirkan persiapan lebaran. Terus ada sedikit masalah juga yang bikin makin susah buat konsentrasi menulis. Entah kenapa tiap kali dilanda masalah aku susah banget buat nulis. Rasanya otakku buntu nggak bisa mikir 😅
BalasHapusSelalu penasaran gimana caranya tetap bisa nulis konten meskipun hati sedang gunda gulana. Kalau gunda bawaannya pengen nulis curhatan dan keluh kesah aja. Jadi tulisan terjadwal terbengkalai 😁
Bulan puasa kemarin memang Entah kenapa energinya agak berkurang tapi tulisan-tulisan saya sih alhamdulillahnya masih bisa tayang Walaupun memang kadang masih ada kurangnya tapi tidak apa-apa masih bisa saya edit Dan perbaiki Ketika saya badannya sudah pulih dan dia tidak dehidrasi
BalasHapusAlhamdulillah masih bisa menulis juga di Ramadan kemarin, bahkan beberapa tulisan bertema Ramadan jadi beberapa ide yang bisa dituangkan menjadi beberapa artikel. Kalau konsistensi kita sudah terbentuk, insyaAllah setiap momen justru bisa jadi ide tulisan, apalagi Ramadan, bisa banget jadi ide berlimpah, ya
BalasHapusMenjaga produktivitas saat perut lapar dan mata mengantuk itu memang tantangan nyata, tapi ulasan ini membuktikan kalau menulis bisa jadi bentuk "ibadah" kreatif yang menyejukkan hati.
BalasHapusSeneng deh saat kak Dyah membagikan strategi praktis soal pengaturan waktu—memanfaatkan momen setelah sahur atau saat menunggu berbuka untuk menabung draf.
Menarik sekali melihat penekanan bahwa konsistensi itu bukan soal kuantitas kata yang beribu-ribu, tapi soal kemauan untuk tetap "hadir" di depan layar meski hanya sebentar.
Tulisan ini beneran jadi pengingat hangat kalau energi kreatif kita justru bisa lebih fokus saat raga sedang berpantang. Menulis sambil berpuasa ternyata bisa jadi latihan kesabaran yang sangat manis hasilnya!
aku alhamdulillah ramadan kemarin itu malah produktif banget nulis, mbak. seminggu bisa 2 tulisan nggak nyangka sih sebelumnya soalnya nulis angot-angotan banget. memang menulis ini perlu konsistensi dan bahkan kalau perlu dipaksa walau mungkin dapatnya cuma beberapa kata
BalasHapusHuhu aku telat baca artikel Mba Dyah ini. Soalnya pas bulan puasa kemarin, aku nggak nulis blog. Rasanya ada aja yang menghambat, terutama memang dari diri sendiri, sih. Ada rasa malas buka laptop buat nulis, ada keperluan prioritas lain, ada rasa nggak mood juga.
BalasHapusTapi memang bener kata mba, kalau mood nggak ada, mesti ada disiplinnya ya. Meski nulis dikit-dikit aja sebenernya nggak apa-apa, yang penting nulis. Jadinya tetap bisa konsisten walaupun kondisi lagi nggak mood.
Salut banget deh Mba buat yang ikut challange Ramadan bisa konsisten menulis secara rutin. Konsisten ini butuh dibiasakan, tanpa tapi. Dulu awal ngeblog saya bisa nulis rutin tiap hari selama Ramadan cuman bebetapa tahun ke belakang udah jarang nulis nih saya. Rasanya seperti diingatkan kembali tujuan menulis dahulu. Trims remindernya ya Mba
BalasHapusDaku relate banget sih Mbaaa.. semoga setelah ini jadi bisa lebih produktif.. padahal banyak banget yang mau ditulis.. tapi nyantol di draft terus..
BalasHapusMenulis saat sedang berpuasa memang penuh tantangan yaa karena gak boleh minum/makan jadi gak bisa sambil ngopi. Nah daku biasanya nulis pas habis berbuka, habis isya', atau habis sahur. Kalau nulis pas siang juga pernah tapi seringnya malam, biar gak lemes.
BalasHapus