Belajar Jatuh Cinta

Jumat, 15 Mei 2026

cerita pendek belajar jatuh cinta

Pagi masih buta, kabut masih menyelimuti bumi. Namun pesawat yang ditumpangi Amanda telah melesat menembus dinginnya pagi menuju kota asalnya. Amanda berniat memberikan kejutan pada kekasihnya dengan menghadirkan senyum terindahnya untuk menyapa sang kekasih.

Prasetyo tinggal di sebuah kamar yang disewanya. Lokasi dekat kantor dan rumah kost yang hanya disewakan untuk pekerja menjadi pilihannya. Amanda dan Prasetyo, selama ini menjalani hubungan jarak jauh. Amanda membayangkan jika kedatangannya secara diam-diam akan menjadi kejutan yang menyenangkan bagi Prasetyo yang beberapa hari sebelumnya berulang tahun dan Amanda tidak ada di sisinya.

Namun, harapan itu pudar saat Amanda pagi-pagi mengetuk pintu kamar Prasetyo. Seorang wanita berkulit langsat dengan rambut hitam panjang tergerai yang membukakan pintu. Ajeng, seorang perempuan yang diketahuinya adalah teman kerja kekasihnya. Wanita tersebut sudah rapi, entah sejak kapan dia ada di kamar tersebut.

Hadiah yang disiapkan untuk Prasetyo dan ditentengnya sejak pesawatnya mendarat jatuh tanpa disadarinya. "Hmm, maaf, ini kamar Pras?" tanya Amanda ragu, tetapi berusaha ditepisnya. Barangkali dia salah kamar. Namun, suaranya yang bergetar tak dapat menutupi kegundahannya.

"Iya mbak Amanda," jawab Ajeng setengah berbisik.

"Pras, masih tidur, jangan diganggu dulu ya Mbak. Dia kelelahan semalam," lanjutnya tanpa ditanya.

"Tolong sampaikan saja jika saya ke sini, permisi," ujar Amanda datar. Walaupun dalam hatinya menangis deras. Secepatnya dia meninggalkan kamar kost Prasetyo.

Amanda menghilang dari dunia Prasetyo. Kekasihnya tidak dapat menjelaskan tentang wanita yang ada di kamarnya saat Subuh beberapa waktu lalu. Dia terpuruk, karirnya hampir hancur. Dia sudah tidak peduli lagi dengan Prasetyo yang berusaha menghubunginya menggunakan media apapun.

Rencana pernikahan mereka berduapun kandas sudah. Amanda tidak mau melanjutkan hubungannya kembali dengan Prasetyo apapun yang terjadi. 


Baca juga : Kutunggu Kau di Keabadian

---


Kafe yang berada di pusat kota itu tampak ramai. Seorang laki-laki mengedarkan pandangannya menyusuri hingga sudut Kafe. Netranya menemukan sosok yang dicarinya dan segera menghampirinya.

"Belum bisa move on?" tanya Erik saat ia sudah berada di dekat Amanda. Amanda yang sedari tadi menikmati hot chocolate di hadapannya tidak memperhatikan kedatangan Erik. Bukannya menjawab pertanyaan Erik, dia justru mengabaikan pertanyaan itu.

"Oh, kamu. Duduk dulu," jawab Amanda tersenyum kecut dan mempersilakan Erik duduk.

Erik pun menarik kursi dan memilih duduk berhadapan dengan Amanda.

"Sudah lama nunggu? Maaf ya, tadi ada sedikit kendala," tutur Erik setelah duduk.

"Enggak apa-apa kok. Mau? Ambil aja, tadi aku hanya pesan snack aja," jawab Amanda sembari menawarkan kudapan yang berada di hadapannya.

Erik adalah sahabat Amanda sejak seragam putih abu-abu. Beberapa orang yang tidak mengenal mereka berdua akan mengira mereka adalah sepasang kekasih. Persahabatan dua insan yang berbeda jenis kelamin sering membuat orang salah tafsir. Persahabatan itu masih terjalin walaupun keduanya telah mempunyai kekasih  masing-masing.

"Nda, sudah lebih baik sekarang? Aku lihat sudah lebih ceria. Kamu tambah cantik," celetuk Erik.

"Terima kasih. Baru sadar? Dari dulu kan sudah cantik, Rik," jawab Amanda asal sambil tersenyum simpul.

"Aku serius nih. Nikah yuk," pinta Erik tiba-tiba. Amanda terkejut mendengar permintaan Erik, sebelum dia menjawab, Erik segera melanjutkan permintaannya.

"Aku enggak ngawur kok, itu kan yang ada di benakmu? Aku serius. Menikahlah denganku, kamu sedang sendiri, aku juga sudah putus. Orang tuamu sudah menanyakan kapan kamu menikah. Kita sudah kenal satu sama lain sejak masih sekolah. Ada alasan lain untuk menolakku? Aku yakin kamu setuju," tutur Erik tanpa bisa diputus.

"Ge Er banget, ngawur usulmu. Nikah enggak segampang itu tahu, ada rasa juga yang dipertimbangkan," jawab Amanda.

"Kamu belum bisa move on dari ... siapa namanya?" ujar Erik.

"Enggak usah sebut dia lagi. Aku sudah melupakan dan menguburnya dalam-dalam," balas Amanda.

"Terus, apa yang membuatmu menolak permintaanku. Cintakah masalahnya?" tanya Erik balik. Erik segera meletakkan telunjuknya di bibir Amanda ketika dia hendak menjawab Erik.

"Aku mencintaimu sejak kita masih SMA, tetapi aku begitu pengecut hingga tidak berani menyatakannya padamu. Kamu sudah mengenalku cukup lama, tolol dan bodohnya akupun, kamu sudah mengetahuinya. Aku sudah mempunyai pekerjaan yang cukup untuk kita berdua. Aku siap melindungi, menjagamu, mencintaimu. Izinkan kali ini aku mencintaimu seutuhnya dengan menikahimu Amanda Putri. Jika saat ini begitu berat untukmu, tolong belajar untuk mencintaiku. Buka kembali hati yang telah terluka itu. Aku tidak berjanji untuk tidak melukaimu, tetapi Aku akan berusaha untuk menjaga cinta ini tetap ada," tutur Erik tulus.

"Jika kamu belum mau berpindah ke lain hati. Aku tidak akan memaksa. Tapi, jika kamu memang benar-benar menguburnya, belajarlah untuk mencintaiku," lanjut Erik.

Amanda terduduk diam, memandang Erik dengan tatapan tak percaya apa yang barusan disampaikan sahabatnya.

"Maukah kamu menikah denganku dan belajar bersama-sama dalam membentuk keluarga?" pinta Erik sekali lagi.

"Tolong beri aku waktu," pinta Amanda. Erik pun menyetujuinya. Amanda menangkap keseriusan Erik. Dia meyakini bahwa sahabatnya tidak mempermainkannya. 

"Bantu dan bimbing Aku untuk mencintaimu. Tidak mudah bagiku untuk melalui ini semua,", pinta Amanda. Dia pun memutuskan untuk mengiyakan permintaan Erik. 

"Kamu bisa mengandalkanku. Percayalah padaku," jawab Erik. Ditariknya tangan Amanda yang sedari tadi memegang gelas. Tangan Erik menggenggam kuat tangan Amanda, hanya berusaha meyakinkan wanita di hadapannya.


Baca juga : Pertolongan Allah Itu Nyata Dalam Cerita Merengkuh Maaf

---


Sebuah pernikahan sederhana dan sakral dilangsungkan di kediaman Amanda. Tidak banyak undangan yang terlibat, hanya keluarga dan sahabat dekat yang hadir.

Amanda dan Erik menempati rumah Erik yang telah lama dibelinya sejak awal bekerja. Rumah yang disiapkan untuk pengantinnya saat menikah. Amanda dan Erik sepakat untuk tidak terburu-buru. Mereka menempati kamar terpisah. 

Perselisihan dan pertengkaran mulai terjadi, dari hal yang sepele tentang siapa yang memasak nasi, siapa yang mencuci pakaian, siapa yang membersihkan rumah. Pekerjaan rumah tangga dikerjakan bersama dengan pembagian yang jelas. Permasalahan yang terjadi dan telah diselesaikan dicatat Erik di kalender dapur agar proses mereka belajar berumah tangga tercatat, begitu dalihnya.

Amanda sering menghabiskan waktunya bersama teman-temannya, apalagi saat akhir pekan. Dia merasa kesepian di rumah karena ditinggal Erik memancing. Amandapun pergi bersama temannya agar tidak kesepian di rumah.

Erik juga sering menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman memancingnya, suatu hal yang tidak disukai Amanda. Pertengkaran semakin sering terjadi, jauh dari bayangan Erik sebelumnya. Harapan dan cintanya pada Amanda bertepuk sebelah tangan.

Hingga suatu hari mereka berdua bertengkar hebat memperjuangkan pendapatnya masing-masing. Amanda pergi dari rumah yang saat itu sedang hujan deras. Celakanya, ban mobilnya bocor di ujung jalan.

Dia ngotot mengganti ban mobilnya saat itu juga. Bruk, Amanda pingsan, karena saat itu ia sedang tidak enak badan dan kehujanan.

Erik yang berubah pikiran dan hendak menyusul Amanda mendapati istrinya tersungkur di dekat ban yang akan digantinya. Amanda basah kuyup sekaligus demam dan lemas segera diangkat Erik ke dalam mobilnya.

Sesampainya di rumah, Erik segera mengganti bajunya, menyuapinya makan memberinya obat dan menjaganya di sampingnya hingga Amanda tertidur. Amanda yang tak berdaya pun hanya menurut dengan perlakuan Erik.

Keesokan harinya, ada pertemuan dengan rekan bisnis yang tidak bisa ditinggalkan.

"Ma, boleh minta tolong datang untuk merawat Amanda? Dia sakit sedangkan aku terpaksa rapat karena tidak bisa diwakilkan. Secepatnya aku akan pulang, jika rapatnya selesai," pinta Erik pada ibu Amanda.


Baca juga : Kata-katamu Melukaiku

---

senja yang indah


Amanda terdiam cukup lama di depan kalender dapur yang mulai kusam itu. Jemarinya menyentuh lembar demi lembar yang masih tergantung rapi walaupun tahun sudah berganti. 
Di sana masih ada tulisan-tulisan kecil buatan Erik.

Amanda marah karena aku lupa beli telur.

Hari ini kami makan mi instan karena sama-sama malas memasak.

Bertengkar soal handuk basah di sofa.

Amanda menangis diam-diam di kamar.

Beberapa tulisan diberi tanda centang, beberapa diberi emotikon wajah sedih yang digambar asal-asalan. Amanda tidak sadar sejak kapan sudut bibirnya ikut terangkat membaca semuanya.

Rumah sedang sepi. Hanya suara hujan kecil di luar yang terdengar menemani malam.

Hari itu tepat satu tahun pernikahan mereka. Amanda membuka lembar terakhir kalender tersebut perlahan. Napasnya tertahan ketika melihat tulisan Erik di sana.

Hari ini kita tidak bertengkar.

Terima kasih sudah memilih tetap tinggal.

Tulisan itu sederhana. Sangat sederhana. Namun, entah mengapa dada Amanda terasa sesak. Selama ini Erik tidak pernah menuntut banyak hal darinya. Laki-laki itu hanya meminta Amanda tinggal.

Tetap pulang. 

Tetap mencoba.

Tetap membuka hati sedikit demi sedikit.

Amanda menunduk. Matanya mulai menghangat. Ia teringat semua hal yang telah Erik lakukan untuknya. Memasak untuknya. Menunggui saat sakit. Mengalah dalam pertengkaran kecil. Bahkan diam-diam mencatat perjalanan rumah tangga mereka seperti sesuatu yang berharga.

Padahal yang mereka jalani tidak sempurna. Sangat jauh dari sempurna. Namun, Erik tidak pernah menyerah.

Pintu rumah terbuka dari arah depan disusul suara langkah kaki yang begitu dikenalnya.

“Aku pulang,” ujar Erik sambil melepas jaketnya yang sedikit basah. Hujan belum reda sejak sore tadi.

Amanda cepat-cepat mengusap matanya sebelum berbalik.

"Hai," sapanya sambil tersenyum.

“Kenapa belum tidur?” tanya Erik lagi sambil menghampiri Amanda di dapur.

Langkahnya terhenti saat melihat kalender lama itu berada di tangan Amanda.

“Oalah kalender itu …ada apa dengan kalendernya?” Erik terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kamu menemukannya juga.”

Belajar Saling Mencintai


Amanda menatap Erik lama. Laki-laki itu masih sama seperti dulu. Sedikit berantakan, cuek, terkadang menyebalkan, tetapi selalu pulang untuknya.

“Rik,” panggil Amanda lirih.

“Hm apa?” jawab Erik sambil menuangkan air minum di gelasnya.

“Kenapa kamu tetap bertahan waktu itu?” tanya Amanda lirih. “Padahal aku sering nyakitin kamu.”

Erik tersenyum kecil. Ia meletakkan gelasnya dan  menarik kursi lalu duduk di dekat Amanda.

“Karena menikah itu bukan cari siapa yang paling sempurna, Nda,” jawabnya tenang. “Kadang hanya soal siapa yang tetap memilih tinggal walaupun lagi capek-capeknya.”

Amanda menunduk. Air matanya jatuh tanpa izin.

Erik panik. “Eh, kok nangis? Aku salah ngomong lagi ya?”

Amanda menggeleng sambil tertawa kecil di sela tangisnya. Perlahan ia berjalan mendekati Erik lalu memeluk laki-laki itu dari belakang. Kepalanya bersandar di pundak Erik.

Erik membeku beberapa detik. Amanda memang sudah berubah banyak selama setahun terakhir, tetapi wanita itu masih jarang menunjukkan perasaannya secara langsung seperti ini.

“Amanda?” panggil Erik hati-hati.

Amanda memejamkan mata. “Aku sudah selesai belajar mencintaimu, Rik,” bisiknya lirih.

Erik diam. “Karena ternyata…” suara Amanda bergetar kecil, “aku sudah benar-benar jatuh cinta sama kamu.” Dunia seakan berhenti beberapa saat bagi Erik.

Laki-laki itu tertawa pelan sambil memegang tangan Amanda yang melingkar di tubuhnya. Matanya terasa panas untuk pertama kali setelah sekian lama.

“Wah,” gumamnya pelan. “Kalau gini aku jadi pengen nangis juga.”

Amanda tertawa kecil. Di luar, hujan masih turun perlahan. Sementara di dalam rumah sederhana itu, dua hati yang pernah sama-sama terluka akhirnya menemukan tempat pulang yang sesungguhnya.


Catatan :

Sebuah cerita pendek yang tetap membutuhkan kritik dan saran. Cerita ini belum pernah tayang dimanapun. Ditunggu kritik dan sarannya ya Sobat Dy agar saya dapat menuliskan kisah demi kisah yang apik.

38 komentar

  1. Bagus ceritanya...Suka saya!! Ditunggu kisah lainnya....
    Sedikit typo nama di paragraf ini saja: "Amanda dan Prasetyo menempati rumah Prasetyo yang telah lama dibelinya sejak awal bekerja. Rumah yang disiapkan untuk pengantinnya saat menikah, walaupun mereka menempati kamar terpisah"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih koreksinya mbak, alhamdulillah suka, draft lama yang akhirnya selesai juga hehehe

      Hapus
  2. Kadang memang perjalanan tentang cinta itu tidak selalu berjalan mudah. Ada proses memahami perasaan, belajar menerima keadaan, sampai akhirnya mengerti apa yang benar-benar dibutuhkan dalam sebuah hubungan. Tulisan seperti ini bikin pembaca ikut merenung karena banyak hal yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  3. waaa ceritanya sweet banget mbaaa...suka deh sama kata2nya dimana rumah tangga itu bukan soal siapa yang menang tapi siapa yang mau tinggal karena kehidupan rumah tangga adalah pelajaran seumur hidup dimana setiap hari pasti ada saja hal baru yang kita pelajari dan dapatkan

    BalasHapus
  4. So sweet dan green flag banget Erik.
    ya gitu kalo jadi laki.
    Harus mau menerapkan slogan "Hidup adalah perjuangan!!"

    BalasHapus
  5. Eugh romantis buaanget ceritanyaaaa.... Jadi senyum senyum sendiri. Panjang umur buat para erik yang selalu bertahan.. Jadi nambah quites nih
    “Karena menikah itu bukan cari siapa yang paling sempurna, Nda,” jawabnya tenang. “Kadang hanya soal siapa yang tetap memilih tinggal walaupun lagi capek-capeknya.”

    BalasHapus
  6. Aku gak bisa ngasih kritik dan saran. Bagus soalnya ini jalan cerita nya. Realita banyak kejadian demikian, egois yg menjadi pemicu pertengkaran
    Terus bikin cerpen sampai menemukan kisah yang lebih unik ya...

    BalasHapus
  7. Uhuuuy, si Erik greenflag banget walaupun suka mancing, wkwkwk

    Setahun tinggal serumah setelah menikah dan sesabar itu Erik menunggu Amanda.. untunglah happy ending

    Ngomong2, kalo nikah sama temen itu emangnya jadi canggung kah? Jadi inget film teman tapi menikah deh, hehe

    BalasHapus
  8. Nyeseknya tembus ke sini! Tapi salut sama ketegasan Amanda. Ninggalin cowok toxic tanpa drama itu bentuk mencintai diri sendiri yang paling mahal.

    BalasHapus
  9. Ya. Allah jadi berkhayal nih Umma baca kisah si erik.. Jadi auto share ke pak su nih biar baca

    BalasHapus
  10. So sweet banget ceritanya. Terkadang memang kita tidak sadar, bahwa ada orang terdekat kita yang ternyata benar-benar mencintai kita dan mau berjuang serta bertahan bersama kita. Bagus mba ceritanya

    BalasHapus
  11. Membuka hati buat sahabat setelah disakiti sedalam itu emang butuh keberanian besar. Salut buat Amanda!

    BalasHapus
  12. Pelan pelan buatlah yang lebih banyak Mbak
    Bisa jadi kumpulan cerpen
    Siapa tahu dilirik penerbit mayor, jadi buku
    Semoga setelah ini dipermudah jalannya

    BalasHapus
  13. So sweet ya.. Cowok kalau udah tertambat hatinya gak mudah goyah ya.. Te tep balik lagi

    BalasHapus
  14. suka ceritanya lucu....emang ya persahabatan antara dua orang yang berlawanan jenis itu pasti ada yang jatuh cinta salah satunya seperti Amanda dan Erik ini. Semangat berkarya mba

    BalasHapus
  15. Mbak, jadi terharu. Ceritanya bagus, tentang dua hati yang sama-sama belajar saat bersama menapaki dunia rumah tangga. Lanjut cerita lainnya Mbak.

    BalasHapus
  16. Namanya rumah tangga apalagi tahun-tahun pertama biasanya ada aja ketidakcocokan. Karena emang masa adaptasi hidup bersama dimana banyak kebiasaan hidup dialami berdua kan.. Menarik juga nih ceritnya. Pasti banyak relate sama pasutri muda

    BalasHapus
  17. Huuu so sweet banget mbaa.. Lanjutkan menulis fiksinya mba, sudah sampai emosinya ke pembaca nih. Hihi..

    BalasHapus
  18. Aku suka ceritanya, Erik memang laki-laki yang baik. Ayo mba nulis lagi, ini udah bagus. siapa tahu bisa nulis buku kumpulan cerpen. Aku juga pingin nulis cerpen tapi baru sebatas niat hehehe.

    BalasHapus
  19. Erik si pria paling green flaggggg, hihihi. Seneng banget ku bacanya mbakkkk
    Dan menurutku ceritanya relate banget si. Soalnya setelah menikah, justru akan semakin banyak pertengkaran dan perselisihan yang akan terjadi, dan pernikahan terbaik bukan yang paling sempurna, tapi yang tetap bertahan dan menerika kekurangan. Lalu disaat yang bersamaan, mencoba jadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

    BalasHapus
  20. Aiiiih so sweeeeeet 😍😍😍👍. Kan adem yaaa baca endingnya. Bisa berakhir happy begitu. Padahal awalnya udh ikut emosi aja pas baca si pacar ada cewe lain di kos. Apapun alasannya , susah buat diterima lah kalau gitu 🤣🤣.

    BalasHapus
  21. Tak sia-sia lama sabar menunggu, akhirnya doi luluh juga dan merasakan ketulusan cintanya. The real definisi bahwa hasil tak akan mengkhianati proses sih ini. Kalau jodoh memang tak akan kemana, ya

    BalasHapus
  22. Erik sabar banget yaa menunggu Amanda agar benar2 mencintainya. Tipe laki2 idola nih, setia pada orang yang dicintainya.

    BalasHapus
  23. Dunia pernikahan itu memang ada banyak cerita ya. Apalagi di awal pernikahan pasti ada masa penyesuaian dan berantemnya. Cerpen yang menarik, mbak

    BalasHapus
  24. Keren ya cowok sekaligus suami seperti Erik ini, jadi turut mendoakan diri bismillah daku dapat jodoh yang baik seperti itu, aamiin.
    Ciamik Kak kisahnya, karena ada perjuangan dari tokoh utama Amanda dan Erik, dan endingnya pun juga oke.

    BalasHapus
  25. Salut parah sama tokoh Erik, asli keren banget ada lelaki macam ini. The real green flag sekali. Setelah dibuat muak sama Prasetyo dengan selingkuhannya Ajeng.

    Bahagia banget akhirnya Amanda menemukan cinta dan belahan jiwa terbaiknya. Erik beneran sabar dan mau menunggu Amanda buat jatuh cinta padanya. Keren, keren, berasa kayak drama Korea euy.

    BalasHapus
  26. Cerita pendek yang sangat mengoyak dan mengaduk perasaan. Konflik yang diangkat sangat realistis, di mana pernikahan terbukti bukan sekadar tentang cinta yang menggebu-gebu di awal, melainkan tentang komitmen, penerimaan, dan keputusan untuk tetap memilih tinggal di saat situasi sedang tidak sempurna.
    Dibikin lebih panjang pasti menarik banget.... semacam novel kali yaaaa

    BalasHapus
  27. tresno jalaran soko kulino,,,semoga berbahagia Amanda dan erik,,,cinta makin bertumbuh diantara mereka berdua.

    BalasHapus
  28. Wah, mbak Diah keren
    Sekarang merambah menulis cerita fiksi juga
    Ceritanya keren mbaj

    BalasHapus
  29. Meski terburu2 di prolog, cerpennya lgsg masuk ke lubuk hati pemirsaaaa. Enak bgt alurnya. Ga usah banyak mikir. Satset. Yg baca lgsg ktmu inti cerita di akhir. Salut kak Dyah yg bikin cerita ini.

    Aku sampe kaget loh endingnya plot twist bgt. Ga banyak celoteh tapi nasehatnya bikin hati meleleh. Terutama bagi keluarga muda atau calon pasangan yang mau belajar mencintai kekasihnya.

    Atau pasangan tua yang selalu bertengkar dan tetap memilih tetap tinggal spt Amanda dan Erik. Smg kita bs belajar dr mereka krn menikah itu bkn mencari org yg paling sempurna.

    BalasHapus
  30. Keren mbak. Baca cerpen ini aku jadi kangen nulis fiksi juga dan lanjutin draft novelku yang masih terseok-seok lanjutinnya

    BalasHapus
  31. Ceritanya bikin refleksi sama kehidupan sendiri mbak. Memang benar walaupun sudah lama kenal, belum tentu dalam pernikahan akan adem ayem karena pasti banyak penyesuaian lagi. Dan yang bikin pernikahan bertahan lama itu bukan perkara kedua manusia yang saling cocok, tapi juga keduanya berusaha saling memahami dan memperbaiki diri. Tetap bertahan tapi kalau nggak memperbaiki diri ya menyikasa sih 😁

    Selamat buat Amanda dan Erik yang akhirnya bisa saling mencintai.

    BalasHapus
  32. Ini happy edning tapi saya kok malah hujan air mata hiks.... keren mba. Alurnya mengalir, endingnya juga natural, tidak terkesan dipaksakan, ditunggu karya selanjutnya. Semoga tambah semangat untuk merangkai diksi ya.

    BalasHapus
  33. Aku jadi terharruu..
    Memadukan dua hati ini bukan hanya membawa kebahagiaan yaa.. tapi pasti diiringi dengan luka yang mereka sembunyikan. Dan bisa jadi, karena luka ini jualah yang membuat seseorang memiliki karakter tertentu.

    Dengan saling melengkapi dan memahami satu sama lain, melewati hal yang mungkin terjadi di masa depan terasa lebih mudah karena bersama.

    BalasHapus
  34. Alhamdulillah ternyata jodoh Mbak Amanda nggak jauh2 nih, teman sekolahnya sendiri hehe. Cuma memang ternyata temenan tu beda sama pacaran apalagi sama pernikahan, mulai tampak dh wujud aslinya. Tapi kalau dilihat2 juga masalahnya bukan masalah yang besar yang nggak bisa dibicarakan/ kompromi yaaa. Semoga langgeng pernikahannya. Tinggal amsing2 memperbaiki sikap aja. Erik kurangin mancingnya, Amanda kurangin baperannya haha *sok nasehatin :D

    BalasHapus
  35. Manis banget ceritanya. Aku suka konsep “belajar mencintai” ini, yang relate nggak instan dan penuh proses. Perjalanan Amanda dan Erik dari canggung, sering bertengkar, sampai akhirnya saling menemukan rasa itu kerasa hangat banget. Ending-nya juga satisfying. Keren banget, semoga lanjut terus nulis cerita-cerita sehangat ini. Mungkin bisa ke lanjut ke apk novel mbak, kayak wattpad. Hehehe.

    BalasHapus
  36. baguss, aku ngebayangin cerita ini di bikin short drama *efekabisNontonDrama* :D
    awal-awal pernikahan mungkin masih banyak juga pasangan yang berselisih paham, tapi lama-lama harusnya muncul rasa saling pengertian satu sama lain, nggak egois juga.

    BalasHapus
  37. Erik so sweet banget.. huhuhu... Bagaimana nggak luluh coba? Dilanjutkan ceritanya, Mbak. Pasti ada intrik lain Erik dan Amanda kan? Nggak mungkin langsung happily forever ever after kan? Hehehe..

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih