6 Contoh Kegiatan Practical Life Skill Untuk Anak

Sabtu, 01 Juni 2024

Contoh Kegiatan Practical Life Skill

"Ibu, Aku buat telur ya, laper lo," celetuk anak sulungku. Maksud anak sulungku, dia ingin menggoreng telur. Biasanya dia tambahkan keju parut atau rumput laut, entah apa saja yang dia tambahkan sebagai toppingnya.

Dia mengeluh lapar setelah belajar malam itu. Adiknya yang mendengar kakaknya ijin menggoreng telur, turut ijin menggoreng telur juga. Si bungsu pun tak mau kalah, tetapi karena dia belum bisa menggoreng telur, anak sulung mau menggoreng untuknya.

Anak sulung dan tengah sudah belajar memasak dari usia 6 tahun, sekarang pun di usia anak sulung 11 tahun, dia sudah bisa memasak nasi, memasak dan membuat camilan sederhana.

Apakah tidak berbahaya membiarkan anak-anak memasak sendiri? Tentu saja sebelum melakukannya ada tahapan yang mereka pelajari sebelumnya, seperti bagaimana menyalakan kompor, bagaimana cara menggoreng, dan lain sebagainya.

Kegiatan seperti ini merupakan salah satu practical life skill yang per;u dimiliki anak-anak. Adakah yang tahu mengenai practical life skill? Simak artikel ini hingga akhir ya! Kita kupas bersama tentang practical life skill sekaligus contoh kegiatan practical life skill.


Practical Life Skill

Setiap anak terlahir dengan fitrahnya untuk berbaur dengan lingkungan sekitar menggunakan caranya caranya masing-masing. Tugas orang tua adalah mengarahkan agar kemampuan anak berguna untuk masa depannya kelak. 

Salah satunya adalah kemampuan dasar untuk bertahan hidup atau biasa disebut practical life skill. Dengan memiliki keahlian ini diharapkan anak akan terbantu baik masa kini maupun masa depannya kelak.

Kegiatan practical life skill dapat disisipkan dalam kegiatan sehari-hari tanpa mereka sadari. Walaupun usia dini, Sobat Dy dapat mengajarkan anak practical life skill. Kegiatan dilakukan mulai dari yang sederhana bertahap ke kegiatan yang kompleks.

Kegiatan ini juga dapat dilakukan bersamaan dengan mendidik anak tanggung jawab atau pembentukan karakter lainnya.


Contoh Kegiatan Practical Life Skill

"Anak itu nanti kalau besar bisa sendiri kok mengurus dirinya sendiri."

"Nanti kalau terpaksa, mereka juga bisa kok."

"Duh, kasihan mereka kan masih anak-anak, kok disuruh masak sendiri."

Hayo siapa yang pernah berpikir seperti ini? Setiap anak yang lahir sudah membawa fitrahnya masing-masing, tetapi kadang orang tua yang justru melemahkan mereka. Justru dengan membekali anak keterampilan hidup maka anak akan terbantu, baik saat ini maupun nanti saat dia dewasa.

Berikut 6 contoh kegiatan practical life skill yang dapat diajarkan pada anak-anak:

Mengurus diri sendiri

Kegiatan yang termasuk dalam mengurus sendiri adalah mandi, menggosok gigi, membersihkan diri sendiri dari BAK dan BAB, membersihkan toilet yang telah mereka gunakan, memilih pakaian, mengenakan pakaian, mencuci tangan dengan benar. Semua hal mendasar terkait kebersihan dirinya sendiri ini tentunya akan berguna hingga kapan pun dalam mengurus dirinya sendiri.

Semua kegiatan tersebut tentunya tidak diajarkan sekaligus, tetapi bertahap mulai dari yang paling mudah seperti mengenakan pakaian sendiri. Kegiatan ini dapat diajarkan sejak usia 3 tahun


Memasak

Mampu memasak bukan berarti mendidik anak untuk menjadi chef. Namun, tetapi hanya kegiatan memasak sederhana guna melatih anak dapat memasak untuk dirinya sendiri seperti memasak nasi, menggoreng telur, tahu, tempe.

Anak belajar memasak


Selain itu, juga untuk mengenalkan aneka peralatan dapur. Hal ini juga saya lakukan untuk anak tengah saya yang notabene laki-laki. Saya dan suami menepis anggapan bahwa anak perempuan harus bisa memasak, anak laki-laki tidak perlu ke dapur.

Justru anak laki-laki perlu mengetahui cara memasak sederhana agar nantinya dia dapat membantu istrinya memasak. Seperti saya dan suami. Kadang saya dan suami membuat moment memasak bareng sebagai media quality time kami berdua.

Dan untuk memasak nasi goreng, masakan suami lebih enak dibandingkan saya, sehingga anak-anak lebih suka suami yang masak nasi goreng dibandingkan saya. Bagi saya, memasak bersama, selain menjadi media untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan suami dan anak-anak. Bisa juga menjadi media kami belajar bersama.


Membersihkan dan merapikan barang pribadi

Barang pribadi yang dimaksud adalah pakaian, sepatu, mainan, dan peralatan atau perlengkapan lain yang melekat sebagai miliknya. Misalnya membersihkan sepatu, merapikan kamar, membereskan mainan, mencuci sepatu, mencuci pakaian terutama pakaian dalam, menata tempat tidur. 

Anak membersihkan barang pribadi

Beberapa manfaat dari serangkaian kegiatan tersebut di saat ini yaitu:

-Anak belajar bahwa benda miliknya perlu dirawat dan dijaga agar tidak cepat rusak

-Barang tersebut mudah ditemukan saat akan dipakai ulang, karena anak mengetahui dimana menyimpannya.

-Ruangan dimana anak berada akan lebih bersih dan rapi sehingga anak merasa nyaman.

-Anak terbiasa melihat dan merasakan bahwa bersih dan rapi itu menyenangkan.

Sedangkan beberapa manfaat yang akan diperoleh anak di masa yang akan datang adalah anak dapat merapikan atau mencuci barang pribadinya tanpa bantuan orang lain. Dia akan bekerja sama dengan pasangannya untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumahnya. 

Bagi saya dan suami, pekerjaan rumah tangga dikerjakan bersama. Sehingga  mereka juga terbiasa melihat suami membantu saya melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal inipun kami terapkan ke anak-anak. Sehingga anak tengah kami yang laki-lakipun juga mendapat jatah menyapu bergiliran dengan kakaknya. Dia juga wajib mencuci piring bekas dia makan.


Menata meja makan dan peralatan

Kegiatan makan bersama akan membuat anak membiasakan anak makan dalam keadaan duduk, mengenal proses makan dengan baik melalui orang tua. Anak pun dapat belajar tentang kerapian, estetika menata makanan di meja makan. Selain itu, juga akan meningkatkan nafsu makan anak.


Bersikap sopan

Sopan dan santun dalam bersikap dan bertutur perlu diajarkan pada anak karena hal ini akan mempengaruhi kehidupan sosialnya kelak. Menghargai dan menghormati orang lain sama pentingnya dengan menghargai dirinya sendiri.

Hal sederhana seperti mengajarkan 5 kata ajaib dapat dilakukan sejak dini. 5 kata ajaib tersebut adalah maaf, terima kasih, tolong, permisi dan meminta izin. Selain itu ada pula beberapa kegiatan yang perlu dilakukan agar tidak menyinggung perasaan orang lain di antaranya:

-Merendahkan suara ketika berbicara dengan orang dewasa atau orang yang lebih tua.

-Bijak memilih kata saat berbicara dan menerima telepon

-Mendengarkan dengan baik tanpa menyela saat orang lain berbicara

-Mengantre sesuai urutan


Membaca dan menulis

Hal ini bukan berarti membaca dan menulis karena kebutuhan sekolah anak, tetapi lebih jauh dari itu. Anak yang terbiasa membaca akan terbiasa mencari informasi mandiri, memiliki daya ingat yang lebih kuat. Selain itu, anak akan memiliki rasa empati dan kemampuan kognitif yang lebih baik dibandingkan teman sebayanya.

Tahap lanjutan dari membaca adalah menulis. Saat menulis, anak akan memahami apa yang dibacanya kemudian menuliskannya kembali sesuai kebutuhannya.


Penutup

Kegiatan practical life skill dapat diajarkan dan dilatih melalui kegiatan sehari-hari sejak dini sehingga hal ini akan menjadi bekal saat anak dewasa. Tidak selamanya orang tua dapat mendampingi anak seumur hidupnya. 

Dengan mempelajari practical life skill anak dapat bertahan hidup dengan cara yang benar tanpa bantuan orang tua. Hal ini tentunya akan meringankan kesulitan yang mungkin anak hadapi di masa depannya kelak.

Simak yuk pendidikan moral yang diwariskan orang tua ke anaknya di artikel berikutnya. Semoga bermanfaat ya.

11 komentar

  1. Masya Allah.. semua ini list yang penting banget buat Umma membersamai anak-anak

    BalasHapus
  2. Bener banget, practical skill harus diajarkan sejak kecil, jadi anak bisa lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Jadi ingat dengan Kimono Mom yang mengajarkan anaknya memasak sejak kecil. Tentunya dengan pengawasan dan harus berhati-hati.

    BalasHapus
  3. Beberapa waktu lalu juga menyimak pengalaman dan sharing seorang kawan tentang kemampuan dasar yang perlu diajarkan ke anak. Hal ini memang sangat perlu agar anak siap mandiri dan menjadi bekal di kehiduoannya kelak

    BalasHapus
  4. Bagian memasak, kebanyakan dari kita sebagai orangtua yang belum paham, menganggap anak malah merepotkan saat ingin belajar memasak. Bikin lama, bikin makin berantakan . Ehehhe.. padahal dari sana anak belajar ya, mb Dy?!

    BalasHapus
  5. Saya juga termasuk yang sudah mengizinkan anak-anak untuk belajar memasak, walaupun awal-awal harus didampingi terlebih dahulu karena pernah si adik lupa matikan kompor gasnya. Tapi setelah diberi tahu, sekarang sudah paham dan terbiasa

    BalasHapus
  6. setuju dengan practical life skillnya mbak dyah, hal tersebut tidak hanya harus tetapi juga wajib diajarkan untuk anak-anak jaman sekarang.

    BalasHapus
  7. Setuju sekali mbak. Dalam keluarga kami kebiasaan-kebiasaan tersebut sudah diterapkan sejak anak-anak masih SD mulai dari hal-hal kecil hingga sekarang sudah bisa memasak yg sederhana.

    BalasHapus
  8. Setuju banget bahwa skill practical life harus diajarkan sedini mungkin. Kalau nggak dibiasain dari kecil, nanti pas udah besar baru mulai nanti mereka kaget. Apalagi pas mereka kuliah jauh dari ortu.

    BalasHapus
  9. masyaallah orangtua kudu sabar kalo mau mengajarkan practical life skill..apalagi mengajarkan di usia dini..soalnya kerjaannya malah nambah bukan berkurang wkwkw

    BalasHapus
  10. menarik mbak diah aku salah satuhasil penelitian ini adalah tentang bentuk praktik pengsuhan ortu dalam melibatkan anak dalam aktivitas sehari hari ini

    BalasHapus
  11. Anakku walau masih bayik, udah mulai aku ajarin mandiri nih mbak dy, biar nanti lama-lama bisa jadi patner ibunya buat mempercantik rumah

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih