Ini Lho Perbedaan Tes Cara Mengetahui Bakat Diri Sendiri vs Bakat Anak

Selasa, 30 Desember 2025

Ini Lho Perbedaan Tes Cara Mengetahui Bakat Diri Sendiri vs Bakat Anak


Pernahkah terpikir untuk mengetahui bakat diri saat usia tak lagi muda? Dan bertanya-tanya bagaimana tes cara mengetahui bakat diri sendiri? Sedangkan di sisi lain merasa bahwa tak penting mengetahui bakat diri karena lebih penting mengetahui bakat anak, karena jalan mereka masih panjang. 

Pertanyaan itu sempat berkecamuk di benak saya beberapa tahun silam hingga akhirnya saya sempat mengikuti tes bakat. Saat itu dalam rangka mengenali diri sendiri sekaligus bagian dari tugas kelas matrikulasi Ibu Profesional. Sekaligus saya juga ingin mengetahui apakah dengan cara yang sama saya dapat mengetahui bakat anak.

Apakah terlambat baru mengetahui bakat diri saat sudah dewasa? Tentu saja tidak. Abah Rama Royani, founder Talent Mapping, sebuah alat asesmen untuk mengetahui potensi kekuatan dan kelemahan diri yang bertujuan meningkatkan produktivitas, baru menyadari bakatnya setelah berusia sekitar setengah abad.

Padahal saat itu beliau merupakan pimpinan sebuah perusahaan. Bagi orang awam mungkin hal tersebut tidaklah penting, tapi bagi Abah Rama hal tersebut penting karena beliau merasa tidak bahagia dan kerap menderita sakit kepala. Namun, setelah beliau menemukan bakatnya dan mengembangkannya, beliau merasa lebih baik. Alhamdulillah kondisinya sehat hingga sekarang di usianya yang telah menginjak 80 tahun.

Pertanyaan berikutnya, apakah tes cara mengetahui bakat diri sendiri sama dengan bakat anak? Tentu saja berbeda, karena anak belum mempunyai banyak pengalaman seperti orang dewasa. Bakat anak perlu diketahui agar tidak salah arah dan anak bahagia dalam mengembangkan potensinya. Artikel ini saya tulis sebagai ruang refleksi, agar kita lebih bijak mengenali potensi diri maupun anak.


Mengenal Bakat

Bakat merupakan kemampuan bawaan yang dimiliki seseorang sejak lahir dan berpotensi untuk dikembangkan. Sayangnya bakat tidak tampak langsung, tetapi akan muncul dan berkembang ketika memperoleh kesempatan, latihan dan lingkungan yang mendukung bakat berkembang. Dengan kata lain, bakat merupakan potensi alami yang masih perlu diasah.

Beberapa orang menganggap bakat sama dengan minat, ternyata kedua hal ini berbeda. Minat berkaitan dengan sesuatu hal yang disukai. Seseorang yang berbakat lebih mudah melakukan sesuatu hal yang disukai sehingga bakatnya pun berkembang.

Pada anak, bakat sering muncul karena rasa ingin tahu, ketertarikan sesaat yang bisa berubah serta respon alami saat bermain atau bereksplorasi. Sedangkan pada orang dewasa umumnya bakat terlihat dari pola yang konsisten, kemampuan yang sudah terbukti hasilnya serta ketertarikan yang bertahan lama.

Cukup jelas bukan perbedaan konsep antara bakat pada orang dewasa dan pada anak. Oleh karena itu, bakat anak tidak bisa langsung disimpulkan terlalu awal. Anak membutuhkan waktu dan pengalaman untuk memutuskan apakah sesuatu hal yang diminatinya bakat atau tidak, bukan sekedar label.


Mengapa Tes Bakat Diri Sendiri Tidak Bisa Disamakan dengan Tes Bakat Anak?

Seperti yang saya sampaikan di awal, cara mengetahui bakat diri sendiri dan bakat anak tentulah berbeda. Perbedaannya terletak pada tahap perkembangannya. Orang dewasa umumnya memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan anak-anak. Mulai dari proses belajar, kegagalan, belajar lagi dan pengalaman hidup lainnya. 

Sedangkan anak-anak masih berada pada tahap pengenalan dan eksplorasi. Pengalaman hidup yang dimiliki mereka tentunya tidak sebanyak orang dewasa. 

Tidak hanya cara untuk mengetahui bakat yang berbeda, tetapi juga tujuan mencari bakat juga berbeda. Berikut perbedaannya :

Orang dewasa

Tujuan tes bakat pada orang dewasa :

- Mengenali kekuatan diri

- Menguatkan keputusan yang akan diambil

- Menemukan arah hidup atau karier yang akan dipilih


Sejatinya setiap manusia terlahir dengan bakatnya masing-masing. Namun, tidak semuanya menyadari bakatnya sehingga bakat tersebut hanya terpendam dan tidak menjadi sesuatu yang istimewa dan menjadi ciri khas seseorang.


Anak-anak

Beberapa orang tua melakukan tes bakat pada anaknya dengan tujuan :

- Mengenali kecenderungan awal

- Memberi ruang eksplorasi dan pengalaman

- Perkembangan diri

- Mendukung perkembangan anak dengan cara menyenangkan tanpa tekanan

Oleh karena itu perlakuan keduanya tidak bisa disamakan. Anak-anak bukan orang dewasa dengan tubuh mini. Sehingga tes dan tujuan mencari bakat pun tidak dapat disamakan.


Baca juga : Cara Mendidik Anak Laki-laki Usia 10 Tahun yang Perlu Orangtua Ketahui


Tes Cara Mengetahui Bakat Diri Sendiri

Ada beberapa tes cara yang mengetahui bakat diri sendiri yang dapat dilakukan di antaranya:

Tes refleksi diri

Tes refleksi diri merupakan tes paling sederhana, tetapi tes ini menuntut kejujuran sehingga kerap dihindari. Beberapa pertanyaan yang diajukan saat melakukan tes misalnya:

- Aktivitas apa yang membuat saya lupa waktu?

- Hal apa yang tetap ingin saya lakukan meskipun badan terasa lelah?

- Dalam bidang apa saya sering dipercaya orang lain?

Pertanyaan sederhana, tetapi jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi petunjuk bakat yang autentik.


Tes minat dan kepribadian

Tes minat dan kepribadian dapat membantu memetakan kecenderungan diri, seperti berpikir, berinteraksi, mengambil keputusan. 


Tes kecerdasan

Tes kecerdasan merupakan tes yang menilai kemampuan kognitif. Tes ini lebih dikenal dengan tes IQ.


Tes bakat umum atau aptitude test

Tes bakat merupakan tes untuk mengukur berbagai kemampuan, seperti penalaran verbal, numerik, spasial, mekanik serta kecepatan persepsi. Sebuah tes yang lebih obyektif dan sering digunakan orang dewasa yang sedang berada di persimpangan hidup untuk memilih karir.


Keempat tes tersebut dapat dilakukan di layanan psikologi profesional, unit layanan psikologis hingga tes online.


Cara Mengetahui Bakat Anak

Anak belum mampu merefleksikan dirinya secara sadar. Oleh karena itu untuk mengetahui bakat anak dapat dilakukan dengan pendekatan yang alami, di antaranya :

Pengamatan sehari-hari

Mengamati aktivitas yang disukai anak dan membuatnya fokus serta senang melakukannya.


Mendengarkan cerita dan pertanyaan

Anak kerap bercerita aktivitasnya hingga kegemarannya pada suatu hal. Selain itu anak akan menanyakan hal-hal yang membuatnya tertarik


Tes minat dan bakat anak

Langkah terakhir yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan tes minat dan bakat. Hal ini dapat dilakukan jika anak telah mendapatkan banyak pengalaman.


Perbedaan Utama Tes Cara Mengetahui Bakat Diri Sendiri vs Bakat Anak

Jika disimpulkan maka perbedaan utama tes cara mengetahu bakat diri sendiri, yaitu :

- Kesadaran diri. Orang dewasa sudah reflektif, sedangkan anak-anak masih dalam tahap eksplorasi.

- Tujuan tes. Orang dewasa mencari arah, sedangkan anak-anak mencari pengalaman hidup


Baca juga : 7 Ciri-Ciri Kecerdasan Sosial yang Menandakan Seseorang Peka Terhadap Sekitar


Pengertian bakat


Kesalahan Umum yang Kerap Terjadi 

Kesalahan umum yang kerap terjadi di sekitar kita terkait bakat di antaranya :

- Terlalu cepat menyimpulkan bakat

- Membandingkan kemampuan dengan orang lain

- Memaksakan keinginan pribadi


Bakat tidak tumbuh dalam tekanan, melainkan tumbuh dalam rasa aman dan penerimaan.


Bakat Bukan Untuk Dibandingkan, Tetapi Dipahami

Tes cara mengetahui bakat diri sendiri dan bakat anak hanyalah alat untuk membantu memahami bakat diri. Bukan alat untuk menghakimi atau memberi label. Orang dewasa dapat melakukannya untuk mengenali diri sekaligus juga sebagai media berproses dan bertumbuh. 

Anak-anak pun juga dapat mengekplore dan bertumbuh tanpa tekanan. Bakat pun tak perlu dibandingkan dengan orang lain, tetapi untuk dipahami. Pada akhirnya bakat bukanlah tujuan akhir. Bakat merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan waktu, ruang serta kepercayaan. 

Semoga bermanfaat.

28 komentar

  1. Kalau anak-anak saya kebetulan di sekolahnya memang ada program test minat dan bakatnya dan hasilnya pun dikomunikasikan kepada kita sebagai bahan informasi dan follow up selanjutnya. Alhamdulillah seneng sih ada program kaya gini, jadi kita terbantu mengenali minat dan bakat anak.
    Kalau untuk saya pribadi belum pernah mengikuti lagi test bakat diri ini lagi, terakhir waktu SMA dulu, itupun untuk spesifikasi psikotest

    BalasHapus
  2. Setelah baca artikel ini baru ngeuh. Iya ya, bakar anak dan orang dewasa nggak bisa disamakan dalam hal pencariannya. Anak-anak masih dalam masa eksplorasi, sedangkan orang dewasa udah punya pengalaman yang lebih banyak.

    BalasHapus
  3. Di sekolah biasanya sudah dilaksanakan test minat dan bakat utk anak2. Pada waktu kelulusan SMA jg pernah ada test bakat utk menentukan jurusan kuliah. Test bakat utk orang dewasa ini baru tahu saya mbak dan belum pernah melakukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paling greget itu, kalau ngomongin bakat banyak ortu ga sabar dan langsung pengen tahu bakat anaknya saat itu juga. Ga mau berproses melakukan observasi dan memberikan stimulasi oada potensi yang menonjol pada anak. Btw, sekarnag makin mudah juga ya untuk mengetabui minat dan bakat anak dengan hadirnya berbagai tes

      Hapus
  4. Bakat anak walaupun jarang yang memperhatikan tapi sebenarnya penting ya supaya bisa mengetahui bagaimana arah anak dalam mengambil arah baik itu untuk sekolah, karir maupun masa depannya.

    BalasHapus
  5. Kesalahan yang sering terjadi tuh emang begitu. Terlalu cepat menyimpulkan bakat anak. Melihat anak hebat di satu bidang sudah dianggap anaknya punya bakat di situ. Padahal mah belum tentu begitu. Bisa jadi karena hanya itu yang kebetulan ada kesempatan dan anak kebetulan juga suka.

    BalasHapus
  6. Membaca kisah Abah Rama membuat saya sadar kalau tidak ada kata terlambat untuk mengenali diri sendiri. Sering kali kita terlalu fokus menggali potensi anak sampai lupa bahwa "mesin" kita sendiri juga butuh dipahami agar lebih produktif dan bahagia. Setuju banget kalau tes bakat bukan untuk melabeli, tapi sebagai kompas agar kita dan anak-anak bisa tumbuh di jalur yang tepat tanpa tekanan.

    BalasHapus
  7. Rasanya saya belum pernah ikutan tes bakat. Untuk anak-anak perlu juga ya su[aya orang tua bisa memetakan minat dan bakat anak sejak dini.

    BalasHapus
  8. Duh, pas banget tahun ini emang daku lg banyak memikirkan untuk menemukan minat, bakat dan kekuatan sih ya. Selama ini soalnya terlalu generalis, semua skill pengen diborong semua. Alhasil malah jadi stress sendiri. Pusing, pusing wkwkwk
    Insya Allah tahun ini sih pengen lebih mengerucut, jadi fokus ke 1 hal yang sebisa mungkin dimaksimalkan.

    BalasHapus
  9. Saya justru baru tahu kalau test minat bakat antara orang dewasa dan anak² itu berbeda. Saya kira sama lho mbak Dy ... 😅

    Ternyata kalau orang dewasa lebih ke pencarian arah sementara anak² lebih ke eksplorasi pengalaman hidup.. 😍😍

    BalasHapus
  10. pembekalan seperti ini yang dibutuhkan para ibu. Aku setuju menemukan bakat itu tidak lekang oleh waktu , entah orng dewasa ataupun anak. Bakat itu murni , dan tugas kita sebagai orng tua wajib membantu menemukan bakt anak

    BalasHapus
  11. Nah ternyata minat dan bakat bisa juga terbentuk karena dilatih, kebiasaan, dan lingkungan ya. Jadi ini sebuah berita baik bagi orang tua yang merasa kayaknya anaknya nggak bakat di suatu bidang bidang, nanti bisa dilatih kok. Masya Allah.

    BalasHapus
  12. Berarti ketika kita telah tes jangan langsung cepat² menyimpulkan bahwa bakatnya adalah A atau B ya? Kenali lebih dalam juga faktornya.
    Apalagi semisal tes bakat ini dilakukan pada anak-anak, karena memungkinkan juga bakatnya ke arah yang lain, walau mugkin hasil tes nya ke satu bakat tertentu. Nice kak insightnya

    BalasHapus
  13. Ternyata ada bedanya ya tes minat bakat anak dengan orang dewasa. Saya pribadi belum pernah tes yang khusus minat dan bakat. Dulu waktu sekolah saja sekalian tes IQ.

    Anak saya sebelum masuk sekolah juga ada semacam tes IQ dan sedikit tes minat dan bakat. Belum yang mendetail. Sementara ini kalau anak masih dari pengamatan saja.

    Jadi penasaran pengin tes yang lebih mendalam.

    BalasHapus
  14. Beberapa waktu lalu aku mau ngetesin anak tes minat bakat tapi nggak boleh karena ada yang baru bisa pas anak usia 13 tahun atau ketika udah kelas 3 SMP. Udah bertanya ke beberapa klinik psikologi dan RSJ juga demikian, jadi yawda kami tunda hehe.
    Untuk saat ini kami mengamati anak sukanya apa, kalau emang bisa ya kami fasilitasi :D
    Bener sebaiknya jangan terlalu cepat menyimpulkan bakat, apalagi anaknya masih bocil banget, karena sebenarnya usia segitu anak-anak sedang sibuk eksplorasi apapun yang dia suka ya.
    Buat pastinya ya dites aja nanti, tunggu masanya :D

    Ngobrolin bakat orang dewasa, aku jadi penasaran caranya gimana yaa. Jujur seusia gini keknya aku ngambang huwwaaaahh T.T

    BalasHapus
  15. Hoo jadi memang beda ya tes bakat untuk dewasa dan untuk anak. Aku pikir tuh caranya sama aja sih. Tapi kalau dilihat dari pengalaman orang dewasa yang lebih banyak, bener sih cara penilaiannya juga beda, karena tujuan tes bakat ini juga beda.

    Orang dewasa untuk menguatkan keputusannya (atau bahkan bisa mempertimbangkan switch career), tapi untuk anak justru supaya mereka bisa mengeksplor lebih banyak hal lagi dari bakat mereka itu ya.

    BalasHapus
  16. baca ini nambah wawasan makin banyak dan betul banget tes bakat orang dewasa dengan anak-anak pastinya berbeda, berbeda metode dan juga tujuannya, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

    Quotenya bagus banget dan setelah diselami betul banget dan setuju, jangankan anak-anak ya, kita saja orang dewasa kalau di bawah tekanan kreatifitas kita tidak berkembang atau tidak muncul. Begitu juga dengan bakat baik orang dewasa maupun anak-anak, akan berkembang jika merasa aman dan nyaman yang artinya itu merupakan signal penerimaan dari lingkungannya

    BalasHapus
  17. Kalau dari pandanganku, bakat itu seperti benih yang sudah diberi hidup pada setiap pribadi. Perkara berakar, tumbuh dan berbuah nanti, kembali pada pribadi itu sendiri bagaimana mengasah dan merawatnya bersama waktu.

    Karena itu setuju banget, untuk perbedaan bakat untuk orang dewasa dan anak ini.
    Bahwa anak lebih ke pengalaman dan dewasa ke arah.

    BalasHapus
  18. Setuju banget, mengetahui bakat itu bukan buat dijadikan ajang banding- bandingin diri yak. Tetapi lebih memahami potensi diri dan kelemahannya. Sehingga setiap kali ambil keputusan bisa lebih realistis dan akibatnya bisa diterima oleh diri. Jadi emang test bakat buat orang dewasa dan tes bakat buat anak berbeda banget.

    Berangkat dari pengalaman Abah Raka, jelas kalau tujuan tes bakat orang dewasa itu buat kenalin kelemahan, cara pengambilan keputusan supaya makin yakin dan nggak plin plan, apalagi seorang pemimpin mesti paham sama diri sendiri supaya nggak mudah down serta goyah, secara tanggung jawabnya lebih gede dan berapapun usia kita, nggak ada kata telat buat tes potensi diri.

    BalasHapus
  19. Dulu zaman saya sekolah, belum ada tes-tes bakat. Orang tua saya juga tak acuh. Akhirnya saya buan menemukan bakat, tapi mungkin apa kelebihan yang saya miliki dan ternyata saya bisa menulis. Itulah yang saya tekuni. Alhamdulillah saya terus menulis sampai sekarang.

    BalasHapus
  20. Iya, untuk mengetahui bakat anak tidak mudah ya.. anakku yang cowok termasuk nyeni dan gambar buatannya bagus.. sayangnya kurang minat untuk mengeksplorasi kemampuan itu dia lebih ke video jadi ya melenceng sedikit tapi masih dalam ranah seni ya..

    BalasHapus
  21. Wah jadi tahu bedanya.. Ternyata beda banget ya caranya. Pernah juga konsultasi ke ahli mind mapping juga menjelaskan seperti itu

    BalasHapus
  22. Saya setuju sih kalau memang diadakan tes bakat ini karena kadang-kadang sebagai orang tua kita itu mungkin sudah punya harapan tersendiri untuk bakat anak tapi ketika berharap kadang-kadang tidak ada tes yang terukur sehingga berdasarkan feeling dan kadang-kadang tidak semuanya betul dan kalau diadakan tes bakat yang beneran kita jadi bisa mengarahkan anak sesuai bakat dan kemampuannya dengan maksimal

    BalasHapus
  23. Kepengen banget deh bisa ikutkan anak2 aku, terutama 2 anak yang kecil untuk test bakat. Walopun secara umum aku tahu bakat mereka apa, tapi tetep ya butuh konfirmasi secara professional. Nanti dibicarakan ah sama bapaknya anak2

    BalasHapus
  24. waktu anak pertamaku masih kecil dulu dia kelihatan suka menggambar dan gambarnya itu lucu. sayangnya anaknya nggak terlalu rajin buat menggambar sekarang jadinya bingung euy mau mengasah bakat yang mana buat anakku itu. kalau anak ke dua bakatnya yang paling menonjol itu adalah yapping hihihi

    BalasHapus
  25. Memang penting ya satu ini karena sangat menentukan keputusan orang tua dalam menjalankan perannya demi pendidikan anak mau dibawa kemana sesuai dengan minat bakat anak tentunya

    BalasHapus
  26. Nah ini dia yang lagi dibutuhkan. Tes bakat tuh sekarang butuh banget rasanya ya.. Supaya kita juga tau gimana mengarahkan diri kita dan anak. Jadi lebih bisa memahami tanpa berusaha judging

    BalasHapus
  27. Waaa aku mau jugaaa
    meski umur udah otw lansia, ngga ada salahnya buat jajal tes ini.
    biar makin paham diri sendiri jugaa

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih