Time flies so fast, tidak terasa tiga bulan lagi sulungku berusia 13 tahun. Dia bukan gadis kecil lagi yang banyak bercerita dan beberapa perubahan lain pun mulai terasa. Bagaimana ya cara mendidik anak perempuan usia 13 tahun?
Konon mendidik anak perempuan yang menginjak usia remaja lebih menantang daripada mendidik anak laku-laki. Risiko yang dihadapi anak remaja perempuan lebih besar dibandingkan anak remaja laki-laki. Hal tersebut juga menjadi pemikiran saya dan suami selama ini.
Oleh karena itu, kami berdua sering ngobrol terkait hal ini. Tentunya cara mendidik anak remaja perempuan saat ini berbeda dengan anak remaja perempuan jaman saya dibesarkan, bukan? Secara jarak usia saya dan si sulung lebih dari 3 dekade.
Tidak hanya menginformasikan cara menghadapi menstruasi pertamanya saja tetapi juga bagaimana pola asuh yang kami terapkan pada anak sulung. Beneran deh rasanya roller coaster, lho.
Sejatinya anak memang guru kehidupan orang tua ya. Banyak hal yang membuat kami harus terus belajar menjadi orang tua bagi anak-anak. Apalagi anak sulung yang notabene kami belum mempunyai pengalaman sebelumnya.
Kami pun mencari berbagai informasi tentang cara mendidik anak perempuan usia 13 tahun dari berbagai sumber. Apa saja yang kami pelajari? Simak hingga akhir artikel ya.
Pentingnya Mendidik Anak Perempuan Usia 13 Tahun
Usia 13 tahun tergolong usia remaja. masa yang harus dilewati dan termasuk dalam periode penting pada perkembangan anak. Beberapa tantangan fisik, emosional serta sosial harus dihadapinya.
Berikut alasan mengapa mendidik anak remaja perempuan itu penting, di antaranya :
Pilar masa depan keluarga
Anak remaja perempuan yang mendapat pendidikan dengan baik akan tumbuh menjadi ibu yang memiliki pengetahuan untuk mengelola rumah tangga karena siap secara mental dan finansial. Selain itu mampu mendidik anaknya dengan lebih baik serta dapat menjadi agen perubahan di keluargnya.
Rentan terhadap tekanan sosial
Perempuan remaja lebih rentan menghadapi kekerasan seksual, perundungan atau bullying dan eksploitasi. Beberapa berita di media banyak yang mengabarkan tentang hal ini. Dilansir dar situs Komnasperempuan.go.id kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2024 meningkat 14,17% dari tahun sebelumnya.
Titik kritis pembentukan identitas diri
Standar kecantikan, peran gender serta ekspektasi sosial merupakan krisis identitas yang lebih sering dihadapi anak perempuan remaja. Dengan adanya pendidikan yang dapat membuat anak berpikir kritis, mandiri, percaya diri akan membuatnya terhindar dari hubungan yang tidak sehat.
Akses pendidikan berkualitas
Pendidikan berkualitas bagi anak perempuan dapat mengurangi keputusan pernikahan ini sekaligus mengurangi angka kematian ibu karena proses melahirkan. Selain itu, mereka juga dapat menata masa depannya lebih baik.
Kebutuhan ruang aman untuk berkembang
Anak remaja perempuan membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri. Oleh karena itu mereka membutuhkan contoh nyata atau panutan yang kuat. Sehingga mereka dapat mengembangkan potensi dengan lebih baik.
Cara Mendidik Anak Perempuan Usia 13 Tahun
Jujurly, kadanga saya pun membandingkan saat saya seumuran anak saya. Oleh karena itu, kadang saya melihat sosok saya remaja pada anak saya. Mungkin ini juga membuat saya kerap bersitegang dengannya.
Berikut cara mendidik anak perempuan usia 13 tahun yang dirangkum dari berbagai sumber:
Bangun komunikasi terbuka
Hubungan orang tua dan anak yang terbuka secara emosional berpengaruh pada kestabilan mental remaja. Umumnya anak perempuan cenderung resposif, emosional dan ekspresif dibandingkan anak remaja laki-laki.
Oleh karena itu, komunikasi yang hangat itu sangat penting. Di rumah, saya dan suami selalu berusaha menyediakan ruang untuk ngobrol, entah itu sambil makan malam, menemani belajar, atau sekadar duduk santai menjelang tidur. Ternyata obrolan-obrolan ringan seperti itu justru yang membuka pintu curhat yang lebih dalam.
Kami menghindari nada bertanya seperti interogasi. Cukup dengan, “Tadi gimana harinya?” atau “Ada cerita seru enggak hari ini?” Biasanya dari situ percakapan mengalir dengan sendirinya. Yang terpenting, kami berusaha untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Anak remaja itu cepat sekali menangkap nada bicara orang tua, jadi kami belajar pelan-pelan untuk merespons dengan tenang.
Kadang memang ada momen ketika dia menutup diri atau memilih diam. Dulu aku cepat khawatir, tapi sekarang aku belajar untuk memberi ruang. Remaja butuh waktu untuk mengurai perasaannya sebelum bercerita. Dan ternyata, ketika kita tidak memaksa, mereka justru lebih mudah membuka diri.
Tanamkan nilai dan batasan dengan lembut
Di usia 13 tahun, anak perempuan mulai merasa dirinya “cukup besar” untuk mengambil keputusan sendiri. Namun, sebagai orang tua, tentu kita tetap perlu membuat batasan. Tantangannya adalah bagaimana memberi batasan tanpa membuat mereka merasa dikekang.
Saya dan suami sepakat untuk membuat aturan rumah yang konsisten tapi fleksibel. Misalnya aturan tentang screen time, penggunaan media sosial, jam tidur, dan tanggung jawab ringan di rumah. Kami selalu menyampaikan alasan di balik aturan itu. Bukan sekadar “pokoknya harus”, tetapi kenapa hal itu penting untuk kesehatan, keamanan, dan keseimbangan aktivitasnya.
Mereka jauh lebih menerima batasan kalau tahu alasannya. Dan jujur saja, kuncinya bukan hanya tegas, tapi juga sabar. Kadang kami pun harus mengulang penjelasan beberapa kali sampai dia benar-benar paham.
Dukung percaya diri dan citra diri positif
Ini salah satu topik yang paling sering muncul di masa remaja anak perempuan: citra diri. Perubahan tubuh, pertemanan, tren sosial media, semua itu dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.
Saya mulai menyadari betapa pentingnya memberi pujian pada usaha, bukan pada penampilan. Misalnya:
1. “Kamu hebat banget sudah berani coba hal baru.”
2. “Terima kasih ya sudah bantu ibu.”
3. “Ibu bangga kakak tetap jujur walaupun itu sulit.”
Pujian seperti itu lebih menancap dan membuat mereka tumbuh dengan kepercayaan diri yang sehat. Kami juga menghindari membandingkan dengan teman, saudara, atau diri kami waktu kecil. Cukup membandingkan dirinya saat ini dengan dirinya sebelumnya.
Kalau dia mulai merasa insecure, saya biasanya bilang, “Setiap orang tumbuh dengan caranya masing-masing, dan itu normal.” Pembicaraan ringan seperti ini ternyata punya dampak besar.
Pendidikan seksual yang komprehensif
Saat ini informasi tentang pendidikan seksual lebih mudah diperoleh. Orang tua dapat memlih cara untuk melakukannya. Sebaiknya pendidikan seksual dilakukan oleh orang tuanya masing-masing daripada anak mendapatkan informasi dari orang yang salah.
Kami membahas menstruasi, perubahan tubuh, batasan fisik, hingga pentingnya mengatakan “tidak” pada sentuhan yang tidak nyaman. Pembahasannya bertahap, sesuai usia dan tanpa menakut-nakuti.
Salah satu buku yang menurut saya membantu adalah EnSexclopedia. Bahasanya mudah dimengerti dan tidak menggurui. Buku seperti ini bisa jadi alat bantu kalau orang tua masih bingung memulai dari mana.
Yang penting, pendidikan seksual tidak berhenti di satu kali percakapan saja. Ini proses yang berkelanjutan.
Jadilah teladan sekaligus teman
Ini bagian tersulit dan terindah sekaligus, menjadi sosok yang tegas seperti orang tua, tapi hangat seperti sahabat.
Saya belajar bahwa anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi melihat apa yang kita lakukan. Kalau ingin anak mengelola emosi dengan baik, kita pun harus memberi contoh.
Kalau ingin anak bijak menggunakan media sosial, orang tua juga perlu menunjukkan hal yang sama. Remaja bisa melihat ketidakkonsistenan dengan sangat cepat, lho.
Di sisi lain, kami juga berusaha menjadi “safe place” untuknya, tempat di mana dia bisa curhat tanpa takut dihakimi atau dimarahi. Hubungan seperti ini tidak instan, tapi perlahan bisa terbangun dengan komunikasi yang lembut dan waktu berkualitas.
Baca juga : Ide Permainan Kreatif Untuk Anak SD dari Barang Bekas, Murah dan Edukatif
Penutup
Anak perempuan usia 13 tahun tidak membutuhkan orang tua yang memahami segala hal. Menjadi 'sahabat' bagi mereka merupakan langkah yang tepat. Menjadi orang tua yang mau mendengar, hadir dengan empati, memberi batasan secara lembut, serta mendudkung impian mereka merupakan kriteria orang tua yang dibutuhkan mereka.
Mendidik anak remaja perempuan memang penuh tantangan, tetapi bukan berarti kita menyerah begitu saja. Mereka pun sedang memahami dunia mereka sekaligus membangun jati diri.
Setidaknya dengan mengetahui cara mendidik anak perempuan usia 13 tahun dapat membuat kita lebih menikmati prosesnya dan suatu hari kita akan merindukan saat tersebut. Apakah Sobat Dy mempunyai pengalaman yang sama? Cerita yuk di kolom komentar! Kita belajar bareng.
Referensi
1. https://deepublishstore.com/blog/cara-mendidik-anak-remaja-perempuan/


Memang punya anak remaja tuh fase dag dig dug dhuaarrr.
BalasHapusbaik laki maupun cewek, sama aja .
karena kita berada di era yg makin ngga keruan seperti sekarang
Anakku yg sulung 13 thn juga mba. dan memng mendidiknya rollercoaster deh 🤣. Yg pasti anak sekarang ga bisa dikerasin. Kita hrs pandai tarik ulur bicara dengan mereka. Nada bicara juga bukan menginterogasi.
BalasHapusBelajar dari pengalaman ku yg biasa dididik militer, aku jadi takut terbuka ama ortu. Akibatnya hubungan kami ga dekat.
Makanya dengan si kakak, aku mau lebih ke teman aja. Dan ngasih dia pilihan juga. Bukan cuma sekedar kemauanku.
Jadi orang tua anak remaja itu emang gak mudah ya mbak, macem kayak roller coaster rasanya. Kadang bikin senyum, tapi gak sering juga ya bikin pusing.
BalasHapusTapi penting juga sih bagi kita untuk bisa jadi sahabat buat anak, jadi nggak sampe berjarak lagi dan bikin anak sungkan untuk berkomunikasi. Kayak ngobrol santai sambil makan malam aja bisa jadi momen berharga. Jadi ya poinnya jangan terlalu kaku, tapi juga jangan terlalu longga. Biar balance aja biar anak tetap merasa aman, tapi tetap bebas berekspresi.
aku save ya ka , insya Allah aku share untuk anak sulung ku oneday. Belum di fase ini sih , kebetulan anak sulung ku cewe ( emng baru satu da hehe ) dan parenting yang aku lakukan almost beda dengan ibuku waktu dulu , ku perbaiki dikit2 lah , aku ingin jadi ibu yang jadi teman dan teladan bagi beliau ( ngena bangeut part tulisan emba diatas ) , Insya Allah terus belajar dan upgrade diri agaar supaya jadi orang tua yang berkesan
BalasHapusRemaja dan perempuan, wuah kombinasi aduhai sekali soal mendiri di fase itu. Usia 13 tahun sendiri penuh tantangan dalam mendidik di gabung dengan perempuan yang memiliki dominan di rasa.
BalasHapusSemua cara yang ditulis aku setuju banget, terutama soal Pendidikan seksual yang komprehensif, penting sekali karena era sekarang hal itu semakin terbuka tetapi melupakan batasan yang sejatinya itu menyelamatkan.
Terima kasih sudah menulis ini ya mba, penting banget dan semoga tulisan ini banyak ditemui para Ibu dan pengajar.
Baca ini deg2an karena anakku yang cewek 10 tahun, mungkin 2-3 tahun lagi mens pertama juga. Sekarang aja keknya udah kek naik turun esmosinya huhu. Kalau yg cowok dah segitu usianya tetapi lebih kalem.
BalasHapusBener nih mbak, sebagai ortu berusaha menuntun mereka supaya matang secara emosi, nggak cuma fisik semata ya. Di tahun2 ini mereka udah tahu bagaimana jaga penampilan, trus era sosmed kadang suka bandingin dengan gaya hidup orang lain juga.
Kyknya di sini emang kita menekankan ke komunikasi trus rajin tarik ulur juga sama si anak ya.
Komunikasi nih yang paling penting. Kita selaku ortu hrs bangun bonding dgn mereka. Dgn bonding yang kuat, si anak, bahkan yang perempuan pun masih bisa nurut apa kata ortu. Kalo udh ga ada bonding dr dini, ntr kalo udh kena pengaruh lingkungan dan parahnya, nasehat kita ga didengar, ya wassalam deh.
BalasHapusBarakallahu kak Dyah putrinya sudah memasuki usia remaja. Di momen seperti ini, berarti orangtua udah harus jadi temen buat anaknya ya kak?
BalasHapusKalau dipikir kan iya juga sih, agar si anak hubungannya tetap dekat dengan orangtua, karena jadi momen krusial dan rentan juga ya
Anak kedua saya menuju 13 tahun dan lumayan mulai berdinamika mendidiknya. Banyak hal yang benar-benar harus dipersiapkan dari kita sebagai orang tua, termasuk menjawab hal-hal sensitif seperti persiapan haid dan lain-lainnya. Kalau kita gagap, pasti jadi sandungan banget. Makanya memang penting ilmu parenting itu, ya
BalasHapusMendidik anak remaja memang tantangan tersendiri ya, apalagi anak perempuan yang biasanya lebih sensitif dibanding anak laki-laki. Komunikasinya harus tepat agar pesan-pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan baik. Salah-salah malah bikin jurang antara anak dan orang tua.
BalasHapusIya, cara menemani anak memasuki usia remaja ya dengan jadi sahabatnya agar mereka bisa ngobrol dengan nyaman dan terbuka dengan orangtuanya ya..
BalasHapusAnak perempuan seumur ini memang lagi lucu-lucunya ya dalam perkembangan karena selain mereka masih mencari jati diri pertumbuhan badannya juga sedang memiliki banyak perubahan dari anak-anak menjadi seorang wanita muda sehingga banyak sekali tantangan dan juga rintangan yang harus dihadapi setiap orang tua tapi ini adalah proses pastinya semuanya belajar dan semoga anak-anak bisa tumbuh kembang sempurna sesuai dengan harapan ayah bunda
BalasHapusMenjadi orang tua itu ternyata pembelajaran seumur hidup ya Kak, mulai dari bayi sampai anak beranjak remaja pun harus tetep belajar bagaimana harus menghadapi dan mendidik mereka. Usia 13 memang rada tanggung, antara dibilang masih kecil tapi cukup dewasa tapi dikategorikan dewasa tidak juga. Setuju banget itu aku soal memberi kesempatan mereka untuk mengambil keputusan tapi jangan sampai terkesan mengekang. Apalagi kalau sudah masuk ke soal pendidikan seks, tentunya itu tidak mudah. Semoga hal ini tu juga disadari oleh para orang tua di luar sana, sehingga anak perempuan mereka tumbuh dengan baik :)
BalasHapusBener sekali mba, terkait mendidik anak usia remaja. Spesifik menjelang 13 tahun memang menantang. Soalnya beda jaman, karakter udah pasti beda juga. Aku dulu di didik ala VOC sama ortu. Misal nanti punya anak, aku pengen berusaha menyesuaikan sama karakter anak supaya anak bisa lebih bersahabat dan ia percaya ke ortunya. Susah bikin anak remaja mau bercerita, banyak memendam dan cari teman, beneran masa labil sekali yang patut diwaspadai secara smart.
BalasHapusTerlebih soal pendidikan seksual, mesti pake metode tepat supaya nggak bikin anak ilfeel.
Kebetulan anak pertamaku mau menginjak abg.
BalasHapusTips diatas bisa jadi bekal nanti menemani anakku menghadapi puber dan hormon naik turunnya.
Pasti butuh ekstra sabar ngadepinnya, pengennya jadi temen curhat aja, jadi bestie yang ngintilin kemana pun.
Bissmillah lancar..
Anak perempuan usia 13 Memang termasuk masa transisi ya Mbak. Dari anak-anak ke remaja. Jadi banyak perubahan juga. Dari fisik sampai mentalnya. Apalagi sudah masuk masa puber juga. Dan pastinya sudah naksir lawan jenis. Jadi memang biasanya orang tua terutama ibunya yang menjadi teman dekatnya anak . Justru akan lebih baik bila anak bercerita apa saja yang dirasakan atau dialami. Jadi orang tua bisa mencari solusinya
BalasHapusJadi inget anak perempuan saya Mas, memang berdinamika banget membersamai di usia remaja mereka ini. Kalau kata istri saya mah, sabar nya harus full, karena anak perempuan itu simbol surga, barang siapa orang tua yang bisa mendidiknya dengan baik, maka surga lah yang di dapat
HapusMbaaa makasih banget tulisannya.
BalasHapusSebentar lagi anakku masuk usia 11 tahun. Kian hari rasanya makin menantang.
Anak yang tadinya bayi lucu penurut, banyak ingin tahunya. Tiba tiba lebih banyak diam dan berkutat dengan hobbynya.
Baca ini saya jadi diingatkan untuk bisa jadi sahabatnya dan teladan penuh kelembutan
Duh iya, anak sulungku sekarang berusia 12 tahun, ya hampir sama ya kayak 13 tahun
BalasHapusMenghadapi anak perempuan remaja emang penuh tantangan ya mbak
Waktu aku kerja, aku selalu bebikinan mainan untuk anakku, tapi sejak nggak kerja lagi..aku kok jadi malas. Itu pikiranku sebelumnya. Tapi sekarang aku makin sadar, seiring bertambahnya usia, anak-anakku nggak butuh mainan..mereka butuh sosok ibunya 'hadir' dalam setiap tumbuh kembangnya.
BalasHapusSekarang, anakku usia hampir remaja, komunikasi kami semakin intens. Kebayang nanti ketika dia beranjak besar, kami makin sering berkomunikasi. Aku jugaharus menyiapkan beberapa ilmu untuk perkembangnaya. Termasuk persiapannya memasuki usia 13 ini.
Mbak, sulungku juga perempuan. Sekarang dia sembilan tahun. Terima kasih sharing-nya, aku jadi punya gambaran. Deg-degan, ya, menghadapi masa-masa yang akan segera datang itu. Semoga kita bisa membersamai mereka untuk menunjukkan jalan yang baik.
BalasHapus