Suami yang Tidak Bertanggung Jawab Dalam Cerita Lelakiku

Jumat, 25 November 2022

Suami yang Tidak Bertanggung Jawab Dalam Cerita Lelakiku


Pertemuan dengan mbak Aulia saat kopdar IIDN di Surabaya beberapa waktu lalu, membuat saya tertarik untuk menerima ajakannya untuk membuat antologi berdasarkan kisah nyata. Tema antologi tersebut adalah tentang penghianatan yang dilakukan oleh orang terdekat.

Entah orang terdekat tersebut pasangan, teman atau saudara. Intinya lingkup terdekat dengan kita. Rasa penasaran ingin menantang diri menulis cerita pendek versi dewasa, membuat saya mengambil kesempatan tersebut.

Selama ini hanya menulis cerita anak dan artikel umum atau artikel parenting saja. Ingin tahu rasanya tantangan menulis cerita pendek untuk orang dewasa. 

Sedangkan untuk ceritanya saya menggunakan pengalaman seseorang, tentu saja saya meminta izin beliaunya terlebih dahulu. Setelah mendapat izin barulah saya mencoba menulis. Akhirnya saya membuat cerita dengan judul Lelakiku, cerita tentang suami yang tidak bertanggung jawab.


Suami yang Tidak Bertanggung Jawab Dalam Cerita Lelakiku

Judul bukunya adalah Unboxing Soulmate. Sebetulnya antologi bersama mbak Aulia dalam Unboxing Soulmate kali ini adalah yang pertama kali saya lakukan sebelum antologi Di Batas Logika. 

Namun, saya baru menuliskannya di blog setelah cerita Merengkuh Maaf dalam antologi Di Batas LogikaTidak perlu panjang lebar lagi ya, berikut cerita yang saya dlam antologi Unboxing Soulmate, dengan judul Lelakiku


Di keheningan malam lelah menyapanya. Ditemani secangkir teh hangat yang masih mengeluarkan asapnya, Leni duduk di sudut ruangan. Sinar lampu yang temaram seolah menunjukkan bahwa penghuni rumah telah terlelap berselimut dinginnya malam.

Manik hitam itu tertuju pada sosok lelaki yang beranjak dewasa, yang terlelap di kursi panjang tak jauh dari tempatnya duduk. Lelaki itu masih mengenakan baju olahraga bertuliskan nama tim basket dengan nomor di bagian punggungnya. “Fajar terlalu lelah mungkin, biarlah dia beristirahat dulu,” gumamnya dalam hati.

Perlahan Leni melangkah mendekati anak lelaki satu-satunya itu. Dipungutnya tas dan perlengkapan yang tadi dibawa Fajar saat sekolah dan berlatih basket. Dibelainya rambut ikal itu dan diguncangnya tubuh kekar Fajar, “Fajar, mandi dulu , bersihkan diri nak. Mama sudah siapkan makan malam kesukaanmu,” tutur Leni kemudian.

“Capek sekali ya Mas?” tanya Leni pada putra semata wayangnya memecah keheningan malam.

“Iya Bu, lumayan lha ini tadi, lawannya jago-jago,” jawab Fajar sambil mengunyah makan malamnya. Makan malam yang cukup larut.

Leni hanya memandangi putranya sambil tersenyum, “Bahagiaku sederhana, melihatmu makan dengan lahap, melihatmu bahagia, aku pun bahagia,” gumam Leni dalam hati.

Rambut ikal dan badan tegap itu mengingatkan Leni pada sosok yang telah lama tidak ditemuinya. Entahlah mengapa tiba-tiba sosok itu muncul dalam ingatan yang telah lama ingin dikuburnya. Sosok yang tak pernah muncul sejak beberapa tahun yang lalu. “Apa Dia tidak merindukan Fajar, darah dagingnya sendiri?”tanya Leni dalam hati.

“Mama kenapa melamun? Ingat Papa ya? Sudahlah Ma, lupakan saja. Papa juga tidak pernah menengok kita,” ujar Fajar memecah keheningan.

“Kok Mas begitu menuduhnya?” ujar Leni berusaha mengelak.

“Mas enggak kangen sama Papa?” tanya Leni penasaran.

“Aku lihat dari tadi Mama melamun, biasanya Mama ingat Papa kalau seperti itu. Aku enggak kangen Papa sih,” ujar Fajar berusaha mengelak dari sorot mata Leni.

“Hmm sedikit sih, tapi kalau ingat apa yang dilakukan Papa ke kita, jadi enggak kangen lagi,” ujar Fajar kemudian mengklarifikasi.

“Ya sudahlah, sudah malam Mas, istirahat dulu, lanjutkan tidurnya lagi. Besok kita akan pergi ke Kediri, mengantar Akung dan Uti,” ujar Leni mengakhiri pembicaraan yang sepertinya tak berkesudahan.

Tanpa banyak berkomentar Fajar membereskan peralatan makannya dan beranjak ke kamarnya.


****


“Sayang, ini untuk kamu,” ujar Pras dengan senyum manisnya sambil menyodorkan sebatang cokelat favorit Leni.

“Waaa, terima kasih ya Mas, kok tahu sih kalau Aku suka ini?” tanya Leni dengan senyum yang ceria dan mata berbinar pada Pras.

“Ya tahu lah, Mas kan tahu isi hati Leni saying,” ujar Pras sejurus kemudian. Pras tahu bagaimana cara meluluhkan hati Leni.

Sosok lelaki tinggi tegap, berambut ikal legam dengan mata yang bulat dan sedikit kumis yang terpasang di bagian atas bibirnya pasti akan membuat wanita terkesima. Itulah Pras, pria yang mampu memikat hati Leni, seorang wanita sederhana berkerudung yang ramah namun pemalu. Pras selalu bersikap manis baik pada Leni maupun pada orang tua Leni.

Kedatangan Pras selalu dinanti di akhir minggu, maklum pengusaha muda yang selalu tampil dengan gaya metroseksual itu sibuk dengan bisnisnya. Tak lama setelah masa perkenalan, Pras meminang Leni, tentu saja niat baik itu disambut dengan baik oleh keluarga Leni. Restu kedua orang tua Leni pun mereka dapatkan.

Pernikahan pun berlangsung dengan sederhana, atas permintaan kedua belah pihak. Namun hal itu tak mengurangi kegembiraan Leni dan Pras. Leni dengan kebaya brokat putihnya tampak anggun. Sedangkan Pras mengenakan baju koko, jas berwarna hitam dan peci hitam, tampak gagah dan tampan.


***


“Sayang, Aku pergi dulu ya. Rencananya dua hari ini mau survey dengan pak Bowo. Kamu masih ingat Pak Bowo kan?” tanya Pras malam itu.

“Besok pagi Aku harus berangkat. Sayang enggak apa-apa kan sendiri di rumah?” selidik Pras.

“Iya enggak apa-apa, nanti kalau jenuh sendirian, boleh kan Aku pulang ke rumah ibu?” ijin Leni, untuk menghindari prasangka buruk, Lnei selalu minta ijin suaminya jika hendak keluar rumah.

“Iya enggak apa-apa,” jawab Pras pendek. Sepeninggal Pras dinas ke luar kota, Leni pun asyik berberes kamar kostnya yang baru ditinggali satu bulan ini.

Dua hari telah berlalu, namun Pras tak kunjung pulang. “Sayang, Aku belum bisa pulang ya, urusannya belum selesai nih,” ujar Pras dari seberang. Ahh akhirnya Pras menghubungi Leni, setelah satu bulan ini menghilang tanpa kabar. Ponsel Pras pun tak dapat dihubungi.

“Mas, baik-baik aja?” Tanya Leni cemas.

“Iya baik-baik aja. Sayang enggak perlu khawatir. Aku baik-baik aja kok di sini,” jawab Pras berusaha menenangkan Leni istrinya. Leni pun menceritakan kegiatannya selama ini.

Sebelum pembicaraan di ponsel itu berakhir, Leni memberanikan diri untuk bertanya, “Mas, uang belanja habis. Mas kapan pulang? Mas sudah lama enggak pulang.”

“Mas juga sedang kesulitan dana di sini. Sudah dulu ya Sayang. Assalammu’alaikum,” jawab Pras tanpa memberikan Leni kesempatan untuk berbicara.

“Ada apa ya dengan Mas? Sebelumnya Dia tidak pernah seperti ini,” tanya Leni dalam hati, tanpa tahu siapa yang akan menjawab kegundahan itu.


***


“Sayang, ada dana enggak? Aku perlu tambahan dana nih untuk mengembangkan usahaku,” tanya Pras saat mereka berdua menikmati makan malam. Makan malam yang cukup mewah bagi Leni, yang selama ini sering ditemani mie instan. Selain karena uang belanja yang diberikan tidak cukup dan jarang, Pras pun sering meninggalkan Leni sendirian di rumah kostnya. Padahal Leni dalam kondisi hamil anak pertama mereka, yang seharusnya ditunjang dengan makanan bergizi demi janin yang sedang tumbuh dalam rahimnya.

“Hasil penjualan sepeda motor sebelumnya, sudah habis kah Mas?” selidik Leni hati-hati.

“Itu kan untuk proyek yang sebelumnya, ini lain lagi. Minggu depan Aku berangkat lagi ya. Ada peluang lagi, semoga kali ini berjodoh,” ujar Pras tanpa mempedulikan kebingungan Leni.

“Aku kan mau melahirkan Mas akhir bulan ini, Mas pergi berapa lama?” tanya Leni dengan wajah mengiba. Walaupun sakit hati dengan sikap Pras selama ini, Leni juga ingin ditunggu suaminya saat melahirkan nanti.

“Aku enggak lama kok perginya, paling hanya seminggu. Jadi nanti masih bisa menemanimu saat melahirkan,” ujar Pras yang berusaha meyakinkan Leni.

Entahlah rasa ragu itu pun tetap muncul di hati Leni, mengingat Pras yang selama ini jarang pulang. “Ya sudahlah terserah,” gumam Leni dalam hati.

“Semoga Dia berubah setelah bayi ini lahir nanti, mungkin Dia akan insyaf dan sadar akan kewajibannya,” gumam Leni sambil mengelus lembut perutnya yang cukup besar.


***


Bayi mungil yang didambakan Leni itu pun lahir. Rambut yang ikal, berkulit bersih, pipi yang gembul, badan yang tegap, membuat orang yang memandangnya ingin menggendong dan memeluknya. Bayi itu diberi nama Fajar, nama yang diberikan orang tua Leni untuk cucu pertamanya. Dan seperti dugaan Leni sebelumnya Pras baru hadir setelah sepuluh hari kelahiran Fajar, Pras tidak menemani Leni saat berjuang melawan maut.

Kondisi keuangan keluarga dan sikap Pras yang seolah tidak peduli dengan Leni dan putra mereka Fajar, membuat Leni akhirnya memutuskan untuk bekerja. Pras semakin jarang pulang dengan alasan bisnis, namun tidak ada hasil yang dibawa pulang, bahkan harta benda mereka pun sudah habis untuk modal usaha Pras.

“Leni, ada surat dari kepolisian untuk Pras,” ujar Pak Arta, ayah Leni, saat Leni memasuki pintu rumah setelah pulang dari kantornya.

“Ada di meja tamu,” ujarnya kemudian.

“Polisi? Ada apa Yah?” tanya Leni penuh selidik.

Bagai disambar petir, dengan wajah memerah dan penuh tanya Leni membuka amplop cokelat itu. Leni terduduk lemas setelah membaca isi surat itu. “Ada apa Len?” tanya Ayah Leni.

“Pras dipanggil dengan tuduhan penipuan Yah,” tangis itu pun sudah tak terbendung lagi, Leni menangis di bahu ayahnya. Ayah :eni pun hanya terdiam, beliau tidak menyangka bahwa menantunya sudah melakukan penipuan.

“Ayah, seandainya Leni mengajukan cerai bagaimana?” tanya Leni meminta pertimbangan ayahnya.

“Leni sudah tidak tahan Ayah, Pras sungguh keterlaluan. Dia tidak pernah memberi nafkah, bertindak kasar pada Leni dan Fajar. Sekarang berurusan dengan Polisi pula.” Tangis Leni pun semakin keras.

“Akhir-akhir ini pun terror dari orang-orang yang Leni tidak kenal pun untuk menagih hutang semakin sering. Fajar sampai ketakutan. Ayah tahu kan?” ujar Leni meminta persetujuan ayahnya.

“Ayah tahu nak,” ujar Ayah Leni sambil memeluk Leni.

Ibu Leni pun menangis sesenggukan, bulir air mata pun mengalir dari sudut mata wanita tua itu. “Mungkin ini yang terbaik buatmu Nak? Daripada kamu menderita dengan Pras,” ujar bu Arta sambil memeluk Leni.

---


Penutup

Demikian cerita yang saya tulis berdasarkan kisah nyata. Perihal nama dan lokasi semuanya juga hasil imajinasi saya. Tidak ada kesamaan tokoh dan lokasi.

Hikmah cerita di atas adalah seseorang yang tampaknya baik belum tentu baik. Sebuah pernikahan adalah hal yang sakral dan hendaknya dijaga oleh kedua belah pihak. Seorang suami bertanggungjawab terhadap istri dan anaknya.

Sobat Dy, tolong kritik dan saran tentang teknik penulisan carita saya ya di kolom komentar. Ditunggu ya kritik dan sarannya.

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih