"Tahun ini aku harus bisa mengoptimalkan uang THR!" celetuk seorang kawan. Namun, apakah yang terjadi berikutnya? Setiap tahun sepertinya sama ya polanya. Niatnya ingin bijak mengelola THR tapi oh tapi tetap terseret suasana. Diskon yang ditawarkan bermunculan dimana-mana, entah dari online shop maupun di mall berlomba-lomba menawarkan diskon yang rasanya sulit ditolak. Duh siapa sih yang enggak suka dapat diskon, apalagi saat momen khusus seperti ini. Diskon yang ditawarkan pun besar -besaran.
Di satu sisi permintaan anak yang sulit ditolak, di sisi lain ingin membalas kebaikan orang-orang terdekat serta ingin berbagi dengan handai taulan. Hingga akhirnya tersadar bahwa yang kembali fitri bukan hanya hati, tetapi saldo di rekening pun ikut kembali fitri.
Padahal tak lebih dari sebulan saldo di rekening mengembung, ada notifikasi dari aplikasi mobile banking bahwa THR dari bos sudah masuk. Bahagia tak terkira dong ya. Sesuatu yang ditunggu-tunggu pun datang. Banyak janji yang perlu ditunaikan setelah menerima THR. Belanja hampers juga nih, angpao untuk keponakan dan yang terpenting ongkos mudik. Tak terasa dompet kembali fitri.
Panik, bingung, kemana ya larinya saldo ini, eh ternyata setelah dirunut satu per satu kelihatan kemana saja perginya. Dengan dalih ah setahun sekali juga, toh enggak berlebihan, atau buat keluarga juga kok ini. Hmmm justru di sinilah letak kesalahannya. Tidak ada batasan, tidak ada budgetting, semua berubah menjadi 'butuh dan penting'. Padahal tidak semuanya masuk dalam pos kebutuhan.
Lebaran membuat hati kita kembali fitri, tetapi tak perlu membuat dompet kita ikut kembali fitri pasca lebaran. Setelah tamu terakhir pulang seiring pula euforia lebaran berlalu, tetapi roda kehidupan tetap berlanjut, bukan. Kebahagiaan saat merayakan lebaran tidak selayaknya dibayar dengan stres finansial hingga tagihan yang perlu dibayar di bulan berikutnya.
Mengapa Dompet Sering Kembali Fitri Pasca Lebaran?
Setelah merenung, saya menyadari satu hal bahwa permasalahannya bukan terletak pada besarnya nominal THR yang kita terima, tetapi karena tidak adanya perencanaan mengelola THR yang diperoleh. Tak dapat dimungkiri beberapa hal 'berharap' dipenuhi dengan adanya THR dan entahlah mengapa semuanya tiba-tiba tampak 'mendesak' dan 'penting'.
Berikut beberapa alasan mengapa THR kerap habis tak bersisa, di antaranya:
Kesulitan mengendalikan euforia
Lebaran identik dengan momen bahagia. Adanya keinginan untuk memberikan yang terbaik untuk orang tua, anak, pasangan, kerabat, kolega hingga diri sendiri dengan dalih "ah setahun sekali aja atau enggak apa-apa momen istimewa". Hingga hal ini menjadi permakluman berjamaah.
Tanpa disadari terjadi berulang kali dan tanpa disadari dampak besar yang ditimbulkan, yaitu dompet yang fitri, saldo yang menipis, tagihan yang muncul bulan berikutnya.
Tradisi yang tidak direncanakan
Zakat maal merupakan hal wajib yang perlu dilakukan, sedangkan angpao, hampers, bingkisan merupakan tradisi. Sayangnya hal ini tidak diperhitungkan di awal.
Pengeluaran terkait tradisi dilakukan satu per satu tanpa memperhitungkannya di awal dan baru menyadarinya ketika saldo di tabungan sudah menipis dan menjerit minta diisi kembali.
Tidak adanya perencanaan mengelola THR
Tidak adanya perencanaan mengelola THR sehingga tidak adanya pemisahan sesuai posnya masing-masing dan akhirnya menguap begitu saja. Tanpa pembagian yang jelas ke dalam posnya masing-masing, batasan menjadi kabur
Lalu bagaimana ya cara mengatur uang THR agar tetap aman walaupun lebaran telah berlalu?
Baca juga : Aplikasi Transfer Uang Antar Negara
Cara Mengatur Uang THR dengan Strategi yang Realistis
Setelah beberapa kali kecolongan, tentunya kapok dan tidak ingin mengulanginya lagi. Saya tidak ingin dong kalah dengan keledai yang tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Beberapa cara mengatur uang THR yang sederhana berikut dapat mengubah banyak hal nantinya, di antaranya:
Hitung total THR yang diterima
Langkah awal yang harus dilakukan adalah menghitung total THR yang diterima. Terlepas berapa sumber penghasilan yang diperoleh. Intinya semua penghasilan dihitung.
Hal ini penting dilakukan agar tahu berapa nominal yah dapat dibelanjakan, ditabung hingga diinvestasikan.
Prioritaskan kewajiban utama
Berikut kewajiban utama yang harus dipenuhi terlebih dahulu, di antaranya:
- Zakat atau sedekah
- Biaya mudik
- Tambahan kebutuhan Lebaran
Ketika sudah jelas nominal kewajiban yang harus ditunaikan. Sisa uang akan terasa lebih nyata.
Rumus Pembagian THR yang Bisa Dicoba
Sobat Dy dapat mencoba rumus pembagian THR sebagai berikut :
- 30 - 40% untuk kebutuhan Lebaran, seperti biaya mudik, angpao keponakan, membeli hamper
- 20-30% untuk tabungan atau dana darurat
- 10-30% untuk zakat dan berbagi
Pembagiannya tidak harus sama, bisa divariasikan sesuai kebutuhan. Dengan adanya pembagian seperti itu, setiap rupiah mempunyai tugasnya masing-masing sehingga tidak mudah menguap begitu saja.
Pisahkan uangnya, tidak hanya berhenti sampai niat
Satu hal sederhana yang penting untuk dilakukan adalah pisahkan uang sesuai pembagian yang telah dilakukan sebelumnya. Jika hanya sekedar ditulis di atas kertas, maka semuanya akan menjadi bias. Dan perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya akan sia-sia.
Pemisahan dapat dilakukan dengan cara memisahkan rekening atau dipisah secara fisik. Saya sendiri memilih memisahkan rekening sesuai alokasinya.
Ada kehidupan setelah lebaran
Hal ini yang kadang terlupakan bahwa masih ada kehidupan setelah lebaran, itu artinya diperlukan rupiah untuk melanjutkan hidup. Dengan adanya THR harapannya ini dapat membantu untuk tetap bertahan.
Mengatur uang THR sebetulnya bukan tentang menahan diri saat Lebaran, tetapi juga memastikan kondisi tetap terkendali setelah Lebaran berlalu.
Hindari belanja impulsif
Siapa yang tidak tergoda diskon? Diskon itu memang menggoda iman kok. Siapa yang tidak tergiur potongan harga yang cukup besar, apalagi benda tersebut sudah kita incar sekian lama atau barang kebutuhan rutin. Alih-alih hemat ini justru jadi bocor alus keuangan yang telah kita atur.
Jika Sobat Dy tidak tahan godaan diskon, sebaiknya hindari spot atau aplikasi yang menawarkan diskon karena sejatinya kita tidak membutuhkan barang tersebut.
Baca juga : Ragam Produk Reksadana Syariah
Berlebaran dengan Bahagia, Dompetpun Aman
Diakui atau tidak masalah utamanya bukan tentang nominal rupiah THR yang diterima, tetapi pada kesadaran saat menggunakannya. Lebaran merupakan momen yang membahagiakan sekaligus momen untuk berbagi.
Namun, dengan adanya pembagian alokasi THR yang tepat, maka dompetpun aman. Hati kembali fitri berkumpul bersama keluarga, dompetpun aman tak kembali fitri. THR merupakan momentum finansial, bukan sekedar bonus yang kadang tak berbekas.
Sebelum THR berikutnya datang, yuk biasakan membuat perencanaan sederhana. Siapa tahu tahun ini bisa merayakan Lebaran dengan hati tenang dan keuangan tetap aman bahkan hingga beberapa bulan setelahnya.
Bagaimana pengalaman Sobat Dy menyikapi THR selama ini? Cerita yuk di kolom komentar!



Ada kehidupan setelah lebaran..ini yang sering lupa
BalasHapusPas terima THR berasa kaya, enggak merencanakan sebelumnya pos untuk apa saja
Setelah lebaran baru nyadar...huhuhu, itu saya
Reminder ini artikelnya
Intinya harus konsisten dan memiliki prioritas aja ya. Jadi kalau ada uang, segera pos kan untuk kebutuhan sekunder dulu. Dan itu harus kuat jangan sampai tergoda dengan euforia maupun godaan diskon dll
BalasHapusBener banget nih, mbak. Kalau habis dapat THR itu berasa kaya raya semua barang mau dibeli padahal masih banyak hal lain yang harus diprioritaskan. Memang bagusnya kalau dapat THR itu langsung dipisah aja keperluannya apa
BalasHapusKalau lebaran itu paling banyak keluar buat apa mba? Makan dan THR ponakan kalau di keluarga kami. Wkwkwk
BalasHapusMasalah uang THR memang seringkali jadi tantangan karena sifatnya yang 'uang kaget'. Setuju banget dengan poin Mbak Dyah tentang pentingnya membuat skala prioritas agar THR tidak sekadar numpang lewat. Tips untuk menyisihkan untuk dana darurat atau tabungan sebelum belanja Lebaran itu benar-benar pengingat yang krusial. Terima kasih insight-nya!
BalasHapusAlhamdulillah kalau urusan uang, saya masih bisa tahan untuk tidak belanja
BalasHapusApalagi kalau lihat uangnya masih baru banget, sayang dikeluarin
Makanya nih butuh kekuatan hati uang yang di rekening agar tidak ikut habis karena mudah scan QRIS sana sini
Tahun ini daku pun lumayan banyak ngeremnya mbak. Ngutamain yang utama dulu kayak biaya mudik, angpau bocil, dan hal-hal lainnya. Sementara untuk belanja bajunya malah belom kesampean, wkwkwk.
BalasHapusSoalnya yaa, gimana. Rasanya baju yang ada masih bagus kok, masih bisa dipakai. Sayang aja gitu menuh-menuhin lemari, untuk sesuatu yang mungkin kita hanya pakai hitungan jari saja. Mending disimpan, untuk momen pasca liburan nanti.
Ke pasar kemis bareng kang odap
Pulangnya jalan lewat semanggi
THR habis karena kalap
Pulang lebaran, eh pusing lagi
Poin tentang mendahulukan kewajiban seperti zakat dan melunasi hutang sebelum belanja kebutuhan lain adalah saran yang sangat tepat. Hal ini memastikan bahwa hak orang lain dan beban finansial kita terselesaikan lebih dulu, sehingga sisa uang THR bisa digunakan untuk keperluan Lebaran dengan lebih tenang.
BalasHapusAlhamdulillah nya lebaran kali ini tidak impulsif buat belanja belanji yaaa gak harus pake baju baru gak harus beli barang baru...pos terbanyak kali ini adalah buat berbagi entah dalam bentuk hampers bingkisan atau sedekah dan tetap harus ada yang disisihkan dulu buat tabungan karena bener kata mba dy masih ada kehidupan setelah lebaran hehehe
BalasHapusUniknyaa..
BalasHapusTradisi lebaran ini sebenernya kalau dikaji dari sisi salaf, sebaiknya pulkam pas Hari Raya Idul Adha.. tapii...Idul Fitri suka Uda ditungguin sama ortu...
Jadi bismillahirrahmanirrahim...
Kudu tetep pulang dan yaah..nanti kalo dompet kembali Fitri.. Mari kita mencangkul laagiii.. hihihi..
Taqabballaahu minna wa minkum...ka Dy dan keluarga.
Saya tiap tahun bikin anggaran untuk THR. Sejauh ini cukup membantu agar tetap on track. Emang menahan euforia itu sulit ya. Apalagi kalau mudik. Jadi tetap harus ada planning, sama kaya kalau mau liburan. Jadi nggak kalap. Sebisa mungkin semua tercukupi dengan THR dan tidak mengganggu tabungan. Kalau bisa malah THR-nya sisa dan nambah tabungan.
BalasHapusIyaa betul banget Mbak Dy, kalau kita tidak pinter² ngelola uang thr yang ada malah boncos dan tekor lho...boro² bisa menabung yaa....yang ada uang habis buat beli² yang sebenarnya enggak terlalu penting.
BalasHapusLebaran kalau terlalu euforia malah bisa jadi bahaya, ya. Iya, bahaya ke keuangan kita. Padahal Islam ga ngajarin kaya gitu, eh kita nya aja yang memang kureng dalam hal manajemen finansial nya. Makanya tulisan Mbak Dyah ini manfaat banget untuk kita semua, apalagi menjelang lebaran kaya gini agar siap-siap mengelola keuangan lebaran dengan bijak
BalasHapusStrategi mengatur uang THR ini rasanya seperti sedang diingatkan oleh "kakak bijak" agar tidak khilaf di tengah gempuran diskon lebaran ini ya kak! Memang benar, godaan melihat saldo meroket dalam sekejap itu luar biasa, tapi kalau nggak punya blueprint yang jelas, THR itu biasanya cuma mampir minum sebentar lalu pamit lagi.
BalasHapusAku sangat sepakat dengan poin kak Dyah soal prioritas melunasi utang atau menambah dana darurat sebelum "berpesta". Membagi pos pengeluaran secara spesifik—dari urusan zakat, salam tempel buat keponakan, sampai tabungan masa depan—adalah bentuk cinta kita pada diri sendiri di masa depan.
Setelah dapat THR emang harus punya rencana keuangan yang matang ya Mbak. Prioritaskan yang wajib seperti bayar zakat, bukannya dihabiskan buat shopping.
BalasHapusMemang, Mbak. Menjelang lebaran, diskon dan promo sangat menggoda iman dan dompet hahaha. apalagi sekarang belanja online. tinggal selonjoran, bayar pakai mobile banking. eh.. tau-tau kok saldo banyak berkurang hahaha.
BalasHapusIntinya memang jangan nafsu. mana kebutuhan mana keinginan. Pastinya disiplin dengan catatan THR yang sudah ditetapkan dari awal. Kalau tidak... dijamin boncos. bisa pusing pala beibe habis lebaran hahaha.
Kalau uang THR biasanya yang dikasih suami jarang saya pakai buat kebutuhan karena saya anggapnya itu bonus. Biasanya 80% akan saya larikan ke dana investasi mbak dan sisanya dana darurat. Tapi memang betul, kalau ada alokasi seperti ini kita jadi nggak boncos buat pengeluaran. Lebih tertata juga.. 😍😍
BalasHapusPengaturan keuangan setelah lebaran ini memang kadang bikin orang tuh gak kepikiran ya. Ingetnya cuma bagi² angpao aja, sama beli baju lebaran, tapi memikirkan setelah lebarannya malah lupa ya
BalasHapusKunci terbaik untuk selalu di ingat cara mengatur uang THR itu menurutku, ada kehidupan setelah lebaran. Karena ya gitu, kalau udah ada uang ada aja terasa butuh padahal biasanya itu influsif aja. Dan di atas semuanya, perlu banget untuk sadar akan perencanaan seperti semua list yang tertulis. Thanks untuk remindernya.
BalasHapusbenerr bangett.
Hapusmemang ngga boleh FOMO dan anti-impulsive buying ya.
klo dah berkaitan dgn THR, kudu mindfull
Aku udh 4 tahun ini semenjak gak kerja enggak dpt thr hehe , namun memang alhamdulilahnya ngasih thr jasinya hususon bebrrpa pegawai. Nah berhubung itu kewajiban ya buat oegawai aku ngakalinya ddngan menyisihkan sebgian keuntungan untuk thr pegawai ya gitu aku buat tabungan rencana husus thr tar tahun depan cair jadi sedikit tdak membebani
BalasHapusSalah satu pengeluaran rutin kami saat dapet THR itu adalah nyimpen buat Qurban mbak. Jadi supaya nanti bisa qurban, ya disisihkan terlebih dulu betul dari THR yang diterima. Baru berikutnya untuk memenuhi kebutuhan menjelang lebaran. Alhamdulillah ya walaupun dompet kembali Fitri, tapi kalau sudah dimasukkan dan dikeluarkan sesuai kebutuhannya, perasaannya tuh lega aja dan gak jadi penyesalan karena sudah sesuai perencanaan. :D
BalasHapusMantuull banget tips nya mbaa
BalasHapusmemang kudu bijak dan mindfull kalo kelola THR.
jangan kalaapp.
jangan FOMO
uang THR ini kalau nggak cepat dialokasikan biasanya memang habis nggak ketahuan. Ini kejadian di aku sih selama beberapa tahun terakhir. Meski ya biasanya kepakainya buat rumah tangga juga cuma kadang kesal kok nggak ada yang bisa disimpan sih uangnya
BalasHapusSkala prioritas penggunaan teori sangat penting karena kita kadang-kadang suka kebawa nafsu saat liburan karena biasanya kita suka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting dengan alasan setahun sekali Padahal uangnya bisa dipakai untuk hal yang berguna dan bermanfaat untuk masa depan
BalasHapusBener banget, kalau nggak diatur bakal bablas nggak berasa itu uang THR ya kak... Pas dapat THR, suamiku biasanya langsung ngepos-posin. Dan berdasarkan prioritas juga.. Pas puasa menjelang lebaran memang kebutuhan bakal dobel apalagi kalau yang mudik ya. Nah, kalau aku sekeluarga nggak mudik karena satu kota, jadi uang THR bisa dimasukin juga ke tabungan, termasuk dana darurat sama dana pendidikan anak.
BalasHapusCara mengatur uang THR dengan tepat bikin lebaran anti boncos ya mbak
BalasHapusUang THR kudu dibagi per pos, biar nggak kalap saat belanja