Cerita Tentang Bullying yang Terjadi di Rumah Dalam Film Rumah Untuk Alie

Kamis, 12 Februari 2026

Cerita Tentang Bullying yang Terjadi di Rumah Dalam Film Rumah Untuk Alie


Tahukah Sobat Dy bahwa tidak semua luka berasal dari pukulan? Jika luka yang timbul kasat mata, perlahan bekas lukanya akan menghilang. Namun, jika jiwa yang terluka, luka yang ditimbulkan akan membekas lebih lama bahkan mungkin tidak akan pernah hilang. Ada pula luka yang tumbuh diam-diam dari kata-kata, sikap dingin, serta perlakukan tidak menyenangkan yang diterimanya.

Kondisi tersebut akan semakin buruk jika terjadi di tempat yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman, seperti rumah. Kemanapun kita pergi, sejauh apapun kita melangkah tentunya akan kembali ke rumah, bukan. Seperti halnya yang digambarkan dalam novel Rantau Satu Muara karya A. Fuadi.

Alie Ishala Samantha, seorang gadis cantik yang berusia belasan tahun justru mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di rumahnya. Dia menjadi sasaran amukan dan cacian ayah dan keempat kakak lelakinya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi Alie, justru menjadi tempat yang tidak aman baginya.

Judul film ini menggambarkan pencarian rumah bagi Alie, bukan rumah dalam bentuk bangunan, tetapi 'rumah' yang nyaman untuk pulang. Penasaran kan bagaimana ceritanya? Sama, saya pun juga penasaran. 

Pertama kali tahu tentang film ini dari sulung saya. Dia mencerita jika film ini mendapatkan rating yang bagus. Kebetulan pula sudah tayang di Netflix. Demi memuaskan rasa penasaran, akhirnya saya menonton bersamanya.


Deskripsi Film Rumah Untuk Alie

Judul film : Rumah untuk Alie

Sutradara : Herwin Novianto

Skenario : Lottati Mulyani

Pemeran :

Rizky Hanggono sebagai Abimanyu

Tika Bravani sebagai Gianla

Anantya Kirana sebagai Alie Ishala Samantha

Rafly Altama sebagai Natta

Andryan Bima sebagai Samuel

Dito Darmawan sebagai Dipta

Faris Fadjar Munggaran sebagai Rendra

Ully Triani sebagai Tsana

Sebelum saya mengulas film Rumah Untuk Allie, Sobat Dy dapat menyimak trailer berikut ya:



Cerita Tentang Bullying yang Terjadi di Rumah

Ceritanya dimulai dengan Tsana, seorang reporter yang akan dikirimkan ke daerah konflik menggantikan rekannya yang berhalangan bertugas. Dengan berat hati, Abimanyu, suaminya mengijinkannya untuk berangkat. Padahal dia baru saja sampai dari tugas meliput.

Kedua anaknya, Dipta dan Rendra yang diasuh oleh Gianla pun terpaksa merelakan mamanya pergi bertugas. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, Tsana meninggal saat sedang meliput. Tubuhnya tak dapat bertahan menghadapi peluru panas dari peluru yang ditujukan ke daerah pengungsian. 

Kisahnya pun terekam oleh kameramen yang bertugas dan disaksikan oleh Abimanyu dan Gianla yang sedang melihat berita di televisi. Abimanyu tentunya syok mengetahui berita tersebut. Dipta dan Rendra pun kehilangan ibunya. 

Tak lama berselang setelah kepergian Tsana, Abimanyu menikahi Gianla, pengasuh kedua anaknya. Gianla yang juga memiliki dua anak, Natta dan Samuel pun menerima pinangan Abimanyu.

Long short story, pernikahan keduanya dianugerahi seorang anak perempuan cantik yang diberi nama Alie Ishala Samantha. Nama yang cantik sesuai dengan parasnya. Alie menjadi anak perempuan satu-satunya yang sering diusilin keempat kakak lelakinya.

Sayangnya tidak diceritakan detail bagaimana kedekatan keluarga tersebut, hanya ditampilkan bahwa Abimanyu seorang yang sukses dan mereka tinggal di rumah mewah. Gianla pun diterima dengan baik oleh kedua anak Abimanyu, mungkin karena mereka bertiga dekat sejak anak Abimanyu masih balita.

Suatu pagi Gianla pergi dengan Dipta, Rendra dan Alie. Gianla mengendarai mobil, Alie berada di samping Gianla, sedangkan Dipta dan Rendra berada di bangku tengah. Alie yang sedang senang-senangnya membuat video mengajak ibunya untuk membuat video saat sedang menyetir. 

Gianla tidak memperhatikan sebuah truk di sebelah kanannya, sehingga kecelakaan tak dapat dihindari. Gianla meninggal dan Dipta cidera parah sehingga meninggalkan cacat pada kakinya hingga dia dewasa. Hal inilah yang membuat Dipta dendam dengan Alie.

Tak hanya Dipta yang marah, tetapi ayahnya dan ketiga kakak lelaki lainnya pun turut menyalahkan Alie atas kematian ibunya. padahal Alie pun berduka dan merasa bersalah karena kematian ibunya. Derita Alie pun dimulai. Alie kerap mendapatkan makian, bentakan hingga pukulan dan tamparan.

Tak jarang Alie berangkat ke sekolah dengan bekas lebam yang berusaha ditutupinya. Alie pun berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, sedangkan keempat kakaknya berangkat ke sekolah, kuliah dan bekerja menggunakan mobil. Padahal Natta dan Samuel bersekolah yang sama dengan Alie.

Sepeninggal Gianla, kehidupan keluarga Abimanyu tidak hanya kacau karena kehilangan sosok ibu, tetapi Abimanyu juga bangkrut sampai untuk membayar ART pun sudah tak sanggup. Alhasil semua pekerjaan rumah tangga, baik memasak, mencuci, setrika hingga membersihkan rumah semua dilakukan Alie seorang diri. Lengkap sudah penderitaan Alie. 

Rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk pulang, tetapi Alie tetap tinggal di sana dan berusaha melakukan tugasnya dengan baik. Cerita tentang bullying yang terjadi di rumahnya disimpannya rapat-rapat. Dia hanya berharap suatu hari sikap kakak dan ayahnya melunak dan baik kepadanya, walaupun entah kapan terjadi.


Bullying yang Berlanjut di Sekolah

Salah satu anak perempuan teman Natta, kakak Alie menaruh hati pada Natta. Dia berpikir Alie juga menaruh hati pada Natta. Dia tidak tahu jika Natta adalah kakak Alie. Sayangnya Natta dan Samuel sepakat untuk tidak menginformasikan ke teman-temannya bahwa Alie adalah adik mereka. Alie pun dilarang menginformasikan hal yang serupa.

Anak perempuan tersebut bersama teman-temannya pun membully Alie karena menganggap Alie saingannya, mulai dari memaksa Alie makan bakso yang sangat pedas, menyiram air hingga rambut dan seragamnya basah kuyup dan lainnya.

Penderitaan Alie tidak hanya terjadi di rumah tetapi berlanjut juga di sekolah. Puncaknya anak perempuan tersebut memfitnah Alie yang melakukan perundungan padanya dengan membuat video yang menyudutkan Alie. Hingga ayahnya dipanggil ke sekolah. Padahal cerita yang terjadi sebaliknya.


Ketakutan dan Kecemasan Alie

Alie tumbuh sebagai pribadi yang takut, cemas dan kehilangan rasa percaya diri. Bullying yang diterimanya berdampak signifikan pada perkembangan mental dan emosionalnya.

Alie menjadi pribadi yang pendiam, tertutup dan sulit untuk mengekspresikan perasaannya. Beruntung kedua sahabatnya berhasil meyakinkan Natta dan Samuel bahwa video yang menyudutkan Alie hanyalah video editan dan bukan Alie yang melakukan bulyying, justru Alie korban bullying.

Untuk membela dirinya sendiri Alie pun tidak mampu, karena semua menyudutkannya dan tidak mau mendengarnya. Bahkan saat ayahnya mengusirnya karena dipanggil ke sekolah setelah Alie tidak sengaja menekan saklar yang salah sehingga mengakibatkan laboratotium terbakar karena konsleting.

Alie gugup, tidak fokus dan serba ketakutan karena dibully baik di rumah maupun di sekolah. Hmm, bisa dibayangkan bukan, seorang anak yang masih mencari jati diri mendapat perundungan di sekolah dan di rumah tiada henti. Bagaimana pertumbuhan jiwanya? Rasanya ingin kupeluk Alie saat itu juga. 

Sesaat setelah Alie mendonorkan darah untuk Dipta yang tertusuk pisau preman saat menyelamatkan Alie yang akan diperkosa preman, Alie pergi meninggalkan rumah sakit. Dia berjalan tanpa tujuan, ketakutan, bingung. Dia hanya ingin bertemu ibunya, mendapatkan rumah yang nyaman, sunyi dan membuatnya bahagia.

Karena linglung dan tidak memperhatikan sekitar, Alie pun tertabrak mobil. Di sinilah akhir yang membingungkan, bukan pula plot twist yang apik menurut saya. Alie diceritakan meninggal, dimakamkan di samping makam ibunya dan bertemu dengan ibunya. Alie telah menemukan rumah yang nyaman untuknya. Namun, tak lama kemudian Alie bangun dari koma karena ibunya memintanya kembali menemui ayah dan keempat kakaknya.


Pesan Moral Dari Film Rumah Untuk Alie

Keluarga mempunyai peran yang penting untuk menciptakan ruang yang nyaman dan aman bagi anak. Keluarga seharusnya menjadi tempat pertama dimana anak merasa diterima, didengar dan dicintai tanpa syarat.

Alie pun merasa kehilangan dan bersalah karena kematian ibunya, tanpa disalahkan ayah dan kakaknya pun dia sudah menderita. Bagaimana dia bisa menyembuhkan traumanya dan tumbuh menjadi pribadi yang utuh jika dia dikucilkan dan mendapat makian dan amarah setiap hari.

Film ini juga menekankan pentingnya empati dan komunikasi dalam keluarga. Orang dewasa kadang tidak menyadari bahwa sikap dan ucapan mereka dapat melukai anak. Film ini juga mengajak penonton melihat dari sudut pandang Alie, betapa dia ketakutan dan cemas, sekaligus mengajak penonton peka terhadap perasaan anak dan memahami bahwa setiap kata memiliki dampak


Rumah Untuk Alie

Rumah untuk Alie tidak hanya sekedar film yang mengharukan karena bercerita tentang bullying yang terjadi di rumah, ketakutan seorang anak yang tidak mempunyai ruang untuk bercerita.

Film ini juga merefleksikan pola asuh dalam keluarga. Apakah rumah kita sudah menjadi tempat yang aman untuk anak? Apakah anak diberi ruang untuk berbicara dan didengar? Relate dengan kehidupan di masyarakat, bukan.

Film ini juga mengajak kita untuk lebih peka, lebih peduli, lebih empati dan bertanggung jawab untuk menciptakan rumah yang nyaman, aman dan penuh kasih. Semoga cerita tentang bullying di rumah berhenti sampai kisah Alie saja dan tidak ada Alie berikutnya yang kebingungan mencari rumah.  

Apakah Sobat Dy sudah menonton Rumah untuk Alie atau film sejenis yang bercerita tentang bullying yang terjadi di rumah? Yuk cerita di kolom komentar!


32 komentar

  1. Topik yang penting dan disampaikan dengan sangat baik. Review ini tidak hanya membahas film, tapi juga membuka ruang refleksi tentang isu bullying yang masih relevan sampai sekarang. Tulisan yang bermakna dan berdampak.

    BalasHapus
  2. aku nonton
    nangis aku kalau ternyata akhirnya seperti itu
    sungguh sangat biadab tuh yang memperlakukannya tidak baik
    setelah tiada mau apa?
    telat untuk menyesal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, keknya maju mundur juga nonton film ini, aku lemah apalagi yang dibully anak bocah huwaaahh.
      Padahal keluarga mereka berpotensi menjadi family bahagia kalau utuh yaa.
      Bahkan di akhir Alie kok tetep nggak bahagia, ngarepnya ceritanya berakhir dengan lebih bahagia lagi siiihh. Pengen maki2 sutradaranya *uppss.
      Berharap ada keajaiban gitu, Alie bisa diakui lagi sama keluarganya. Keluarganya juga sadar kalau ibunya meninggal ya karena udah takdir aja.
      Ini tu sedihnya melebihi kalau ada ibu meninggal karena abis melahirkan bayi. Apakah si baby ini yang salah? Huhu.

      Hapus
  3. Kayaknya ini film yang full mengsedih yaa mbak. Baca ceritanya kok agak beraat banget liat kehidupannya alie. Macem udah jatuh tertimpa tangga, ketiban genteng dan ketabrak meteor. Daleeeem banget, hahaha.
    Cuma yang agak aku sayangkan, penggunaan adegan tabrakan sebagai jalan menuju perubahan cerita dan plot twist itu agak klise sih. Aku makin kesini gatau kenapa suka sebel sama film yang nampilin adegan tabrak-tabrakan gini. beasa kayak jalan pintas buat ngubah cerita

    BalasHapus
  4. Aku berhenti sejenak sebelum berkomentar.
    Film ini sesuatu yang nyata dalam perjalanan kehidupanku sebagai pendengar. Keluarga memang pondasi utama dalam kehidupan, di sanalah tempat belajar bertumbuh dan kelak mau sejauh manapun melangkah akan kembali, benar sekali seperti yang sudah dikau ungkapkan di awal tulisan.

    Buatku, film ini mengajak untuk tetap menjadii 'rumah' walau sehebat apapun kehidupan memurnikan. Seperti perkara kecelakaan, kalau dari kacamataku itu gambaran hidup menguji keluar yang sudah penuh.

    Karena hidup tidak pernah berhenti di satu titik. Ia berputar, ketika sudah penuh dalam kasih sayang, keberhasilan maka akan tiba waktunya di ambil dan begitu terus berputar sampai kembali pada pemilik.

    Aaah jadi panjang, maafkan.

    BalasHapus
  5. Aku khusus drama atau film tema bullying, memang ga akan nonton mba. Aku skip, tp aku akan baca spoiler nya. Kalau nonton sering, udah pasti ga kuat, ngaruh banget utk mood ku nanti. Jadi lebih bagus spoiler. At least ga sesek nontonnya.

    Apalagi ini film dr awal sampe akhir kok ya sedih bangettt 😅😅😅. Dan endingnya kenapa tau2 hidup lagi 😅😅?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbaak. aku pun gak tega buat nontonnya. Gapapa deh baca sinopsisnya aja gini. Kayanya aku gak kuat banget nontonnya deh, antara gak habis pikir kenapa bisa dibully sampai segitunya tapi ngerti kalau hal tersebut mungkin banget terjadi dalam kehidupan nyata pun. Ituu yang bikin sedih.
      Persis perasaan mba Dyah, rasanya pengen banget peluk Alie saat itu juga, karena kayak berasa sulit gitu hidupnya, hiks.

      Hapus
  6. Kalau dramanya full kekerasan baik di rumah dan di sekolah, aku bakal skip mbak. Jujur rasanya jadi dark sekali untuk dunia anak² dan dewasa, bagaimana tidak? Rasanya kok tidak ada tempat aman untuk Alie ya. 😭

    Topik² bullying dan kekerasan di sekolah tuh, memang kerap terjadi di sekitar kita. Karena sudah kerap melihat kasus² seperti ini, makanya pas baca review ini, agak terenyuh saya. 🥹

    BalasHapus
  7. Dari awal rame bukunya sampai difilmkan, saya termasuk yang tak menonton filmnya. Liat seliweran trailer nya saja sudah lumayan bikin tremor. Sebagai orang yang pernah mengalami bullying di masa kecil, rasanya tak kuat melihat gambaran hal-hal serupa, walaupun dalam bentuk film semata.
    Mudah-mudahan gambaran cerita Alie banyak menyadarkan orang bahwa bullying memberi dampak jangka panjang yang ga main-main

    BalasHapus
  8. Sempat nonton pas tayang di bioskop, sayangnya sepi peminat. Secara keseluruhan filmnya memang punya nada yang sedih dan kelam, tapi punya pesan berharga soal bullying yang terjadi di lingkungan rumah.

    BalasHapus
  9. Sudah nonton juga film ini, nggak lama setelah masuk ke layanan film berbayar. Buku-buku seri ini juga ada di rumah. Terus terang agak nggak nyaman waktu menyimaknya karena kok kayak bertubi-tubi banget yang menimpa Alie ini 😭 dan di sisi lain kayak ada plot hole gitu. Tapi ya penasaran juga sih nanti sekuelnya akan seperti apa.

    BalasHapus
  10. Dari rumah memang seharusnya menciptakan suasana yang damai. Tak ada perundingan, semua merata mendapatkan kasih sayang.
    Begitu juga dengan lingkungan sekitar yang perlu kondusif. Lewat film ini, jadi ada pembelajaran penting ya, semoga pada memahaminya

    BalasHapus
  11. Terus setelah Allie sadar dari koma keluarganya jadi baik nggak mbak? Kalau nggak kasian amat sih. Mending meninggal aja udah 😆

    Duh aku nggak akan sanggup nonton film ini. Terlalu kasihan nasib tokoh utamanya.

    BalasHapus
  12. Benar sekali, rumah seharusnya menjadi healing space, tapi bagi Alie justru menjadi sumber trauma terdalam. Fenomena scapegoating dalam keluarga seperti yang dialami Alie ini sangat nyata dan berbahaya bagi mental anak.
    Film ini jadi pengingat keras untuk kita para orang tua agar lebih bijak mengelola emosi dan duka, supaya tidak melimpahkannya pada anak. Luka batin sering kali lebih sulit sembuh daripada luka fisik.

    BalasHapus
  13. Saya baca review cerita film Alie ini saja ikutan masuk ke dalam alur cerita. Sedih dan sangat disayangkan dimana rumah yang harusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman justru menjadi neraka. Itulah namanya kalau sudah dirasuki Jin Dasim keluarga bisa hancur. Nauzubillahiminjalik

    BalasHapus
  14. Aku nonton, mbak. Nonton enggak sengaja, eh malah jadi kepikiran :) Benar ya, bullying itu bikin trauma berkepanjangan, dan tanpa support system yang baik, bakal lama sembuhnya.

    BalasHapus
  15. Saya baru lihat cuplikannya aja yang adegan di mobil. Sebetulnya, sempet kesel juga dengan karakter Allie di situ karena gak mau diem banget. Cukup mengganggu ibunya ketika menyetir. Jadi, cukup wajar kalau kakak-kakaknya 'memusuhinya' karena pasti mereka sebetulnya sama-sama terluka kehilangan ibu. Cuma memang sedih juga kalau sampai berlebihan membenci Allie. Kayaknya emosi saya bakal terkuras deh menonton ini.

    BalasHapus
  16. Duh aku kok nggak bakalan tega nontonnya ya. Baca cerita review nya aja udah sedih banget. Bullying nya double kill kalau kata gamers.

    Beneran kasihan sekali sosok Alie dan aku harap hal ini tidak terjadi kepada anak-anak di seluruh negeri. Kasihan banget, beneran trauma berat pastinya. Endingnya agak kureng ya berarti? Masih ada di Netflix sekarang ini?

    BalasHapus
  17. Saya nonton film ini di biokop sama suami dan aduuh sedih banget filmnya. Kasian Allie dibuly sekeluarga. Iya sih, Allie yang bikin ibunya meninggal. Tapi bapaknya kan harusnya bertanggung jawab buat keluarga,,,hehehe,,,esmosi saya nonton film ini,,

    BalasHapus
  18. Sedih banget deh jadi Allie, udah ngebayangin gimana nggak enaknya menerima bullyan dari dalam rumah maupun di sekolah. Endingnya gantung kah? Apa Alie akan diterima dengan baik lagi di lingkungan keluarganya setelah koma?

    BalasHapus
  19. Owh tadinya aku pikir ini film luar hehe, ternyata film Indonesia. Kyknya sempat lihat penggalan episode yang anak cewek main hp di mobil sama ibu dan kakak2nya sambjl ngajak ngomong terus lalu kecelakaan itu yaa.
    Padahal kecelakaan itu krn takdir semata yaa, sayangnya anak yang disalahkan. Mana juga dibully di sekolah, kasihan.
    Duh keknya aku gak kuat deh nonton film kyk gini, takut nangis haha.
    Semoga endingnya bagus dan Allie menemukan jalan untuk berdamai dengan dirinya dan keluarganya.
    Juga keluarganya insyaf tu padahal kan adik mereka sendiri yang seharusnya dilindungi ya hiks.

    BalasHapus
  20. Sungguh miris sekali ya Mbak. Rumah yang seharusnya tempat paling nyaman, justru berubah menjadi bagaimana neraka. Bahkan orang terdekat yang seharusnya melindungi justru malah yang membully. Jadi penasaran mau nonton film ini. Kebetulan bukan ini saya masih langganan Netflix Mbak hehehe

    BalasHapus
  21. Wah filmnya diangkat dari novel laris kan ya ternyata ceritanya tragis banget huhu kok sedih sih bacanya.. tapi banyak pelajaran yang bisa dipetik ya dari film ini...

    BalasHapus
  22. Aku ada sih lihat cuplikan film ini di netflix tapi belum kutonton karena takut nggak kuat lihat tema Bullyingnya. Jadi penasaran apakah akhirnya Alie bisa menemukan kedamaian dalam hidupnya?

    BalasHapus
  23. belum pernah nonton..tapi bullying memang sering dianggap hal sepele, padahal dampaknya bisa panjang banget dan nempel sampai dewasa. Kadang pelakunya merasa cuma bercanda, tapi buat yang kena itu bisa jadi luka yang nggak kelihatan. dirasa terus seumur hidup..

    BalasHapus
  24. Aduh, aku baca review mbak diah ini aja bikin bergidik
    Aku menghindari film yg mengangkat tema bullying, pasti sedih dan ngenes soalnya

    BalasHapus
  25. Ketika muncul trailer film ini di bioskop, rasanya sesak ketika menyaksikannya. Bingung kok bisa benci banget para kakak dengan adik perempuannya. Kesannya drama banget tapi dalam kehidupan nyata bisa saja hal tersebut memang terjadi. Baca rekap film tersebut dari tulisan kak Dyah jadi makin sedih.

    Pesan filmnya bagus sih, bagaimana menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi setiap anggota keluarga.

    Salam hangat kak Dyah.

    BalasHapus
  26. Baca ulasan ini kok sedih ya, sedih banget. Dibully, di keluarga sendiri itu sakit banget. Padahal Alie juga pasti berduka kehilangan Ibunya. Mau nonton, tapi kayanya harus nyiapin hati dulu yang bener

    BalasHapus
  27. Duhhh film sesedih ini dari awal konsisten sampe akhir ya. Beneran bikin nggak tega pengen nontonnya pun. Kenapa ya, terlalu sedih. Maksud ku bullying dari keluarga udah berat ekh kawan sekolahnya pun bullying juga, dari semua sisi. Bisa depresi kalau nggak kuat. Endingnya agak bikin bingung sih kalau begitu. Hmmmppp, ketabrak, koma dan bangun lagi? Apakah ada kebahagian setelah itu? Bertanya-tanya.

    BalasHapus
  28. Baca resensi filmnya tampaknya ini film sedih banget ya. Mesti siap-siap tisu buat nontonnya. Sebagai mantan korban bullying, sebenarnya saya suka menghindari film-film dengan tema ini sih. Tapi memang banyak yang bisa dipelajari dari film dan cerita dengan tema ini agar tidak ada korban bullying lagi terutama di sekolah.

    BalasHapus
  29. Bullying memang tidak hanya kekerasan fisik ya, mba. Sebaliknya yang membekas itu kekerasan verbal, makanya ada pepatah, mulut lebih tajam dari silet jadi kita harus hati-hati. Alur ceritanya mirip sekali dengan short drama china.

    BalasHapus
  30. Aku pernah nonton trailernya. Wajar bila awalnya kelakuan Alie yang bikin dia akhirnya di-bully habis-habisan oleh kakaknya. Kalau ayahnya, bisa jadi karena duka yang terlewat dalam kali ya.

    Pas sekali ada di Netflix. Sepertinya aku tergoda untuk ikut menonton juga.

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.

Terima kasih