"Aldo, jangan lewat dekat rumah itu kalau sudah sore!" teriak ibunya dari teras rumah.
"Iya, Bu!" jawab Aldo sambil menuntun sepedanya.
Rumah yang dimaksud Bu Siti adalah rumah tua di ujung jalan kampung mereka. Letaknya hanya berjarak satu rumah dari rumah Aldo. Rumah itu sudah bertahun-tahun tidak dihuni. Cat temboknya mengelupas, jendelanya kusam, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar setinggi lutut.
Banyak anak di kampung percaya rumah itu berhantu. Ada yang mengaku melihat bayangan putih di jendela. Ada juga yang pernah mendengar suara langkah kaki di malam hari. Oleh karena itulah tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya.
Sore itu, sepulang sekolah, Aldo kembali melewati rumah tersebut. Awalnya tidak ada yang aneh. Namun ketika sepedanya melintas di depan rumah tersebut matanya menangkap sesuatu. Sebuah bayangan bergerak cepat di balik jendela besar di bagian depan rumah.
Aldo langsung menghentikan sepedanya. Ia mengucek matanya. Tidak ada bayangan di balik jendela. 'Ah tidak ada apa-apa, mungkin aku tadi salah lihat,' gumam Aldo.
Mungkin hanya perasaannya. Namun, sebelum ia sempat mengayuh sepeda lagi, tirai usang di balik jendela bergoyang pelan. Seolah ada seseorang yang baru saja mengintip dari sana.
Bulu kuduk Aldo berdiri. Dengan cepat ia mengayuh sepedanya pulang.Malam harinya, Aldo sedang membaca buku di ruang tamu. Ada kedua orang tuanya juga. Tanpa sengaja Aldo mendengar percakapan orang tuanya.
"Pak, aku dengar suara aneh lagi semalam dari rumah itu," kata ibu Aldo.
Ayah Aldo yang sedang membaca koran mengangkat kepala. "Suara apa?" tanyanya.
"Seperti suara orang menyapu, Yah," jawa Bu Siti.
"Sapu?" tanya ayah Aldo mengernyitkan dahi.
"Iya. Srek... srek... srek..." lanjut ibu Aldo.
Ayah Aldo tersenyum, "Mungkin suara ranting yang tertiup angin," sahutnya.
Ibu Aldo menggeleng, " Bukan. Aku yakin suara itu berasal dari rumah kosong itu," sanggahnya.
Aldo yang mendengar pembicaraan itu langsung teringat pada bayangan di jendela. Jangan-jangan memang ada sesuatu di sana. Rasa penasaran mulai tumbuh dalam pikirannya.
Keesokan harinya saat jam istirahat, Aldo menceritakan semuanya kepada sahabatnya, Sultan.
"Kau serius melihat bayangan?" tanya Sultan sambil membuka bekal makan siangnya.
Aldo mengangguk. "Aku yakin, bukan halusinasi" jawab Aldo.
Sultan mendekatkan wajahnya ke arah Aldo,
"Aku juga pernah melihat cahaya kecil dari rumah itu," ujar Sultan.
"Cahaya?" tanya Aldo tidak percaya.
"Iya. Seperti lampu senter," lanjut Sultan.
Mata Aldo membesar. "Kau tidak pernah cerita!" hardik Aldo.
"Aku takut ditertawakan," jawab Sultan tak kalah sengitnya.
Keduanya saling pandang. Lalu sebuah ide muncul di kepala Sultan.
"Bagaimana kalau kita menyelidikinya?" ajak Sultan.
Aldo ragu. "Menyelidiki rumah berhantu?" tanya Aldo tak percaya.
"Justru itu. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawab Sultan.
Aldo berpikir sejenak. Akhirnya ia mengangguk.
"Baiklah. Kita jadi detektif," jawab Aldo.
Sultan menyeringai lebar. "Detektif Aldo dan Sultan siap bertugas!" lanjut Sultan.
Sepulang sekolah mereka mulai melakukan pengamatan. Mereka bersembunyi di balik pohon mangga yang tumbuh tidak jauh dari rumah kosong.
Hari pertama tidak ada kejadian apa pun. Rumah itu terlihat sunyi. Hari kedua juga sama. Namun pada hari ketiga, sesuatu akhirnya terjadi.
Sekitar pukul empat sore, pintu belakang rumah terbuka perlahan.
Kreeek...
Aldo dan Sultan langsung menahan napas. Seorang anak laki-laki keluar sambil membawa karung. Di belakangnya muncul seorang anak perempuan yang lebih kecil.
"Ada orang!" bisik Sultan. Aldo mengangguk cepat. Mereka memperhatikan kedua anak itu berjalan menuju jalan raya.
"Bukan hantu," kata Aldo.
"Tapi siapa mereka?" tanya Aldo.
"Itulah yang harus kita cari tahu," jawab Sultan.
Keesokan harinya mereka kembali mengamati. Kali ini mereka mengikuti kedua anak itu dari kejauhan.Ternyata mereka menuju pasar.
Di sana anak laki-laki itu membantu pedagang memindahkan karung berisi sayuran ke lapak jualannya. Ia mengangkat beban yang cukup berat untuk anak seusianya. Sementara adiknya membantu menyusun keranjang kosong. Seorang pedagang memberikan beberapa lembar uang kepada mereka.
"Jadi mereka bekerja," gumam Aldo.
"Kenapa anak-anak tinggal di rumah kosong dan bekerja di pasar?" tanya Sultan.
Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran mereka sepanjang hari. Akhirnya mereka memutuskan untuk menemui kedua anak itu secara langsung.
Sore berikutnya, Aldo dan Sultan memberanikan diri mendatangi rumah kosong tersebut. Jantung Aldo berdegup kencang ketika mereka melangkah melewati rumput yang tinggi. Rumput liar bergesekan dengan kaki mereka.
Tok... tok... tok...Sultan mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari dalam rumah. Pintu terbuka sedikit. Seorang anak laki-laki muncul. Wajahnya tampak waspada.
"Kalian siapa?" tanyanya.
"Aku Aldo," jawab Aldo memperkenalkan diri.
"Aku Sultan," ujar Sultan.
"Kami tinggal di dekat sini," lanjut Sultan.
Anak laki-laki itu tetap diam.
"Kami tidak berniat mengganggu," lanjut Aldo.
"Kami hanya ingin berkenalan." sahut Sultan.
Setelah beberapa saat, anak itu membuka pintu lebih lebar.
"Aku Fajar," ucapnya memperkenalkan diri. Lalu ia menunjuk anak perempuan di belakangnya.
"Ini adikku, Rina," lanjut Fajar.
Saat memasuki rumah, Aldo dan Sultan terkejut.Rumah itu ternyata cuk up bersih.Lan tai disapu rapi. Di sudut ruangan ada tikar, pakaian yang dilipat, dan beberapa peralatan makan sederhana.
"Jadi kalian benar-benar tinggal di sini?" tanya Sultan.
Fajar mengangguk, "Iya," jawab Fajar.
"Kenapa?" tanya Aldo.
Fajar terdiam.
Rina menunduk.
Akhirnya Fajar mulai bercerita. Mereka berasal dari sebuah desa yang cukup jauh.Sej ak kecil mereka tinggal bersama nenek. Ibu mereka bekerja di kota karena kesulitan ekonomi, ibunya jarang pulang.
Beberapa bulan lalu nenek meninggal dunia karena sakit. Setelah itu mereka hidup sendiri.
"Nenek pernah bilang bahwa Ibu bekerja di kota ini. Jadi kami pergi mencarinya," lanjut Fajar.
"Kalian pergi berdua saja?" tanya Aldo terkejut.
Fajar mengangguk. "Awalnya kami punya uang tabungan sedikit. Tapi uang itu habis di perjalanan. "Lalu kami menemukan rumah ini," jawab Fajar.
Rina menambahkan dengan suara pelan, "Kami hanya ingin bertemu Ibu."
Mendengar cerita itu, hati Aldo terasa sedih. "Kenapa tidak meminta bantuan orang dewasa?" tanyanya.
Fajar menatap lantai,"Kami takut dianggap pengemis. Kami juga tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa," jawab Fajar.
Untuk bertahan hidup, Fajar bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Sedangkan Rina membersihkan rumah dan memasak makanan sederhana. Tiba-tiba Aldo teringat sesuatu.
"Jadi suara srek... srek... setiap malam itu..." tanya Aldo ragu.
Rina tersenyum malu,"Aku menyapu halaman," jawabnya.
Aldo dan Sultan saling pandang.
Ternyata misteri suara aneh itu sudah terpecahkan.
***
Malam itu Aldo menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya. Ibu Aldo tampak sangat terkejut.
"Ya ampun, mereka masih anak-anak'" ujar ibu Aldo.
Ayah mengangguk serius, "Kita tidak bisa membiarkan mereka tinggal sendiri," sahut ayah Aldo.
Keesokan harinya Ayah menghubungi ketua RT. Warga kampung kemudian berkumpul untuk membantu. Awalnya Fajar dan Rina ketakutan ketika beberapa orang datang ke rumah kosong.
Namun Ayah Aldo berbicara dengan lembut, "Kami tidak akan mengusir kalian. Kami hanya ingin membantu."
Perlahan keduanya mulai percaya. Warga memberi mereka makanan dan pakaian bersih. Ketua RT lalu membantu mencari informasi tentang ibu mereka berdasarkan cerita Fajar. Pencarian berlangsung beberapa minggu. Semua orang berharap kabar baik segera datang.
Pada suatu sore, ketua RT datang ke rumah Aldo dengan wajah gembira."Kita menemukan ibunya!"
Aldo yang sedang mengerjakan PR langsung berdiri. "Benarkah?" tanya Aldo tidak percaya.
"Benar!" jawab Pak RT.
Ternyata ibu Fajar dan Rina bekerja di sebuah pabrik di kota ini..Selama ini ia kehilangan kontak dengan keluarganya setelah handphonenya dicuri Ia sama sekali tidak tahu bahwa ibunya telah meninggal dan kedua anaknya pergi mencarinya.
Keesokan harinya pertemuan itu akhirnya terjadi. Saat melihat seorang perempuan berlari mendekat, Rina langsung mengenalinya.
"Ibu!" panggil Rina. Anak perempuan itu berlari secepat mungkin.
Perempuan tersebut memeluk Rina erat-erat. Air mata mengalir di pipinya.
Fajar yang biasanya tampak kuat pun tidak mampu menahan tangis. "Ibu..." ujar Fajar.
Maafkan Ibu," kata perempuan itu sambil memeluk kedua anaknya.
"Aku sudah mencari kalian ke mana-mana," ujar Rina.
Suasana menjadi haru. Banyak warga yang ikut menyeka air mata. Aldo dan Sultan tersenyum bahagia.
Misteri rumah kosong di ujung jalan akhirnya terpecahkan. Bukan hantu yang tinggal di sana. Melainkan dua anak pemberani yang sedang berjuang mencari keluarganya.
Dalam perjalanan pulang, Sultan menatap rumah kosong itu sekali lagi.
"Siapa sangka rahasianya seperti ini," celetuk Sultan.
Aldo mengangguk. "Aku senang kita menyelidikinya. Kalau tidak, mungkin mereka masih tinggal sendirian di sana."
Aldo tersenyum. Hari itu ia belajar satu hal penting. Tidak semua hal yang tampak menakutkan benar-benar menakutkan. Kadang-kadang, di balik sebuah misteri, ada seseorang yang membutuhkan bantuan dan kepedulian. Dan terkadang, keberanian untuk mencari tahu kebenaran bisa membawa kebaikan bagi banyak orang.
Cerita anak di atas diperuntukkan untuk anak berusia 9 hingga 12 tahun. Salah satu cerita anak yang merupakan dengan genre misteri. Bukan berarti cerita horor atau mistis lho. Melainkan seperti cerita detektif.
Proses saya belajar menulis cerita anak. Bagaimana menurut Sobat Dy? Ditunggu kritik dan sarannya ya,


Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.
Terima kasih