Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Lucu Sehari-hari Mertua dan Menantu Dalam Review Novel Catatan Harian Menantu Sinting

 

Cerita Lucu Sehari-hari Mertua dan Menantu Dalam Review Novel Catatan Harian Menantu Sinting

Jujurly saya tidak pernah mengetahui novel Catatan Harian Menantu Sinting, ternyata ceritanya lucu dan relate dengan kehidupan sehari-hari terlepas dari latar belakang suku budayanya ya. Kebetulan saja novel ini menggunakan latar belakang budaya suku Batak. Baik mertua maupun menantunya.

Setelah sebelumnya membaca novel dengan latar belakang budaya minang di novel Negeri 5 Menara dan film dengan latar belakang budaya Jawa di film Seni Memahami Kekasih. Sekarang saya belajar budaya Batak. Cukup banyak catatan kaki di novel ini tentang arti kata-kata yang digunakan dalam dialog. Sekalian belajar bahasa Batak, termasuk cara pelafalannya yang ternyata cukup membuat saya agak kelu menirukannya.

Uniknya lagi saat membacanya terasa seperti bertutur. Tokoh utamanya, Minar, si menantu bercerita bagaimana interaksinya dia dengan mertuanya. Dia tetap berusaha sopan tetapi kegundahan hatinya pun diceritakan. Nah letak kelucuannya di sini. Auto ngakak deh bacanya. Beneran terasa terhibur tapi relate. Sambil mbatin untung mertuaku ga segitunya seperti Inangnya (panggilan ibu dalam bahasa Batak) Sahat, suami Minar.

Novel ini termasuk dalam genre metropop. Tertulis di ujung atas kiri sampul novelnya. Salah satu genre yang dipopulerkan penerbit Gramedia Pustaka Utama. Dan ternyata saya menyukai genre metropop ini karena terasa relate. Novel metropop favorit saya adalah karya Almira di antaranya Home Sweet Loan, Melbourne Wedding Marathon, Ganjil dan Genap, Resign.


Menariknya Metropop

Sebetulnya metropop merupakan akronim dari metropolitan populer. Cerita tentang kehidupan masyarakat urban dengan gaya yang ringan, modern dan dekat dengan keseharian. Wajar kan jika pembacanya merasa relate dengan cerita-ceritanya. IKtulah mengapa saya menyukai genre metropop. Berasa curhat sama teman gitu lho.

Apalagi di novel ini penulisannya beda dengan novel lainnya. Entah mengapa penulisnya, Rosi L. Simamora membuatnya begitu. Percakapannya dibuat seperti dialog yang ada di buku pelajaran atau apa ya eperti dialog gitu. Jadi ada dialog masing-masing tokohnya.

Konfliknya realistis, sudah menjadi rahasia umum kan kalau mertua dan menantu itu jarang yang akur tapi tetap saling menjaga, takut kualat kalau kata Minar. Ada juga cerita tentang karir yang mentok dan pengen keluar dari pekerjaan di novel Resign. Apapun itu konfliknya realistis, ada percintaan, pernikahan, persahabatan, hubungan dengan keluarga.


Novel Catatan Harian Menantu Sinting

Pernikahan bukanlah hanya menyatukan dua individu, tetapi juga menyatukan dua keluarga besar. Hal itukah yang diceritakan tokoh Minar dalam catatan hariannya. Apalagi setelah menikah Minar tinggal di rumah mertuanya.

Minar dan Sahat tidak diperkenankan tinggal sendiri. Apalagi masih ada kamar kosong di rumah mertuanya. Keduanya menempati kamar ibu Sahat, sedangkan ibu Sahat geser ke kamar tengah. Kakak sulung Sahat yang belum menikah, Monang tinggal di kamar loteng.

Mereka berdua boleh pindah jika Monang sudah menikah. Ya namanya pengantin baru ya, ada aja cerita serunya. novel ini untuk usia dewasa ya, tidak hanya untuk 17 tahun ke atas karena ada cerita yang memang hanya boleh diketahui pasangan yang sudah menikah.

Konflik-konflikpun muncul karena Mnar dan ibu mertuanya beda pola pikir, beda pendapat, yang pasti beda generasi. Seru membaca keributan-keributan di antara mereka berdua, tapi lucu lo.

Konflik yang muncul di antaranya Minar anti memakan anjing karena dia penyayang anjing, sedangkan mertuanya suka mengonsumsi anjing, secara suku Batak (berdasarkan novel ini) sangat menyukai daging anjing. Minar dan Sahat ingin menunda memiliki momongan karena ingin menikmati masa berduaan, sedangkan ibu mertua ingin segera mempunyai cucu laki-laki sebagai penerus marga, secara anak sulung laki-laki tak kunjung menikah dan Sahat anak laki-laki bungsu, kedua kakak lainnya perempuan. Dan perbedaan lainnya yang membuatnya semakin seru dan lucu.

Apapun konfliknya dengan ibu mertua, Minar tetap mehormati ibu mertuanya. Dan tetep Sahat dong yang jadi penengah dan tempat omelan Minar kalau sudah tidak tahan dengan tingkah ibu mertuanya.


Spesifikasi Novel Catatan Harian Menantu Sinting 

Judul novel : Catatan Harian Menantu Sinting

Penulis : Rosi L. Simamora

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman : 227

elSBN : 978-602-03-8068-1


Mengapa Cerita Lucu Sehari-hari dalam Novel Ini Terasa Relate?

Beberapa cerita lucu sehari-hari yang ada dalam novel ini di antaranya :

Cuci manual vs mesin cuci

Inang dan Minar beda generasi tentu saja beda pikir kan, termasuk tentang mencuci baju. Menurut Inang mencuci baju lebih bersih kalau diucek dengan tangan bukan dicuci dengan mesin cuci, sedangkan bagi Minar yang penting baju sudah dicuci, beres walaupun dengan mesin cuci.

Kalau ini mah ga hanya Inang dan Minar yang ribut ya, yang lain pun juga banyak yang meributkan hal ini.




Senter pink

Sebetulnya bukan senter pada umumnya, tetapi sebuah s*x toys yang bentuknya mirip senter, oleh-oleh Sahat untuk istrinya setelah perjalan dinas dari luar negeri. Inangnya dibelikan sebuah senter kecil berwarna biru. Namun, agar inangnya tidak curiga sekaligus tidak iri dengan menantunya. Menantu dan mertua ini bersaing merebutkan perhatian Sahat. S*x yoys itu pun diberi nama senter pink. Dan ibunya menemukan senter pink tersebut karena kecerobohan keduanya yang tidak menyimpannya di tempat yang pribadi. Alhasil diambillah senter itu. Panas dinginlah Sahat dan Minar mengetahui senter itu diambil ibunya


Lingerie

Mertuanya Minar menemukan lingerie yang lupa disimpan Minar dengan rapi. Karena tidak mengetahui itu apa, mertuanya menggunakannya untuk menambal kebayanya. Kebayang kan bagaimana paniknya Minar bagaimana jika mertuanya mengetahui bahwa itu sebenarnya pakaian dalam. Buyar deh rencananya untuk mengenakannya di depan suaminya.


Penutup

Di balik tingkah Minar, Inang, dan Sahat yang sering membuat saya tertawa, novel ini mengingatkan bahwa setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam menunjukkan kasih sayang. Perbedaan kebiasaan, pola pikir, bahkan budaya memang bisa memicu gesekan. Namun, selama masih ada komunikasi, saling menghormati, dan kemauan untuk memahami satu sama lain, hubungan itu tetap bisa terjalin dengan baik.

Saya menutup halaman terakhir novel ini sambil tersenyum. Ternyata cerita tentang mertua dan menantu tidak selalu harus penuh drama. Bisa juga dibalut humor yang membuat pembacanya tertawa, tetapi tetap membawa pulang pelajaran berharga. Dan yang paling saya syukuri, setelah membaca kisah Minar, saya jadi semakin bersyukur memiliki mertua yang baik hati. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa novel ini terasa begitu dekat di hati saya.

Kalau sedang mencari bacaan yang ringan, menghibur, tetapi tetap menyimpan banyak pelajaran tentang kehidupan rumah tangga dan keluarga, Catatan Harian Menantu Sinting layak masuk daftar bacaan. Siapkan camilan saat membacanya, ya. Siapa tahu Sobat Dy juga akan tertawa sendiri seperti saya ketika mengikuti keseharian Minar dan mertuanya.

Dan novel ini pun sudah difilmkan. Jadi penasaran untuk menontonnya. Nanti kalau saya sudah menonton akan segera saya buat reviewnya. Apakah filmnya lebih konyol dibandingkan dengan novelnya.

23 komentar untuk "Cerita Lucu Sehari-hari Mertua dan Menantu Dalam Review Novel Catatan Harian Menantu Sinting"

  1. Ngakak banget. Istilah untuk menutupi benda-benda aneh ini memang unik banget. Bakalan masuk wishlist untuk dibaca ke depan. Terima kasih rekomenbdasinya, Kak Dyah.

    BalasHapus
  2. Aku belum baca lengkap novel 'Catatan Harian Menantu Sinting' ini aja udah ngerasa lucunya lho. Apalagi kalau baca novelnya langsung. Memang ku akui kalau suku Batak itu jika sudah cerita: lucu pool. Aku punya teman akrab orang Batak, kalau sudah cerita: sakit perut dibuatnya. Dialek, gaya bahasa, pembawaan..kayaknya udah menjadi paket lengkap kelucuan mereka.

    BalasHapus
  3. aku udah nonton versi filmnya, kocak namun penuh makna :D

    BalasHapus
  4. Huahahaha, aku ya pengen ketawa bagian lingerie dipake nambal kebaya. Emang secara bentuk tuh mirip broklat cuma tipis, tapi ya di pake buat nambal kebaya tuh berasa gimana... :D

    Aku jarang baca metropop mbak. Kayaknya pas kuliah aku pernah baca buku sejenis metropop gitu, judulnya Miss B atau apalah itu. Metropop itu bacaan ringan banget dan cocok kalau dibaca buat selingan setelah bacaan berat. Cuma sekarang aku lagi pengen baca buku humor-humor receh mbak. Pengen jadinya baca buku ini. Tak ubek-ubek ipusnas dulu kali aja ada... :D

    BalasHapus
  5. Ya ampun pas baca senter pink dan lingeri saya pun gak kuat ngakak sendiri. Terbayang bagaimana konyol dan serunya adegan Inang dan menantunya itu

    Kalau memang sudah difilmkan saya juga penasaran banget sama film nya. Metropop jadi komedi kali ya...

    BalasHapus
  6. Aku waktu itu baca dari ipusnas. 🤣🤣. Sakit perut bacanya, apalagi sebagai orang Batak aku paham lah gimana keluarga Batak itu 🤣🤣🤣. Untung aja suami orang Jawa.

    Paling ngakak pas dildo ketauan memang 😭🤣🤣🤣🤣. Aduuuh ga kebayang lah malunya hahahahaha.

    Aku udh nonton juga filmnya mba. Tp menurutku LBH bgs buku lah, lucunya lebih dpt di buku

    BalasHapus
  7. Aku juga salah satu pecinta genre metropop, utamanya almira bastari karena memang ceritanya tuh always relateeeee dengan kehidupan sehari2. Apa karena aku perantau ya?

    Ini kok aku baca contoh ceritanya udah seru yaaa. ahihihi. berasa cocok banget, gesekan yang terjadi antara menantu sama mertua.
    Dulu istriku juga sempet berselisih paham soal mesin cuci. Dimana istriku tuh cocoknya sama mesin cuci full otomatis, 1 tabung. Tapi ibuku ngerasa itu ga bersih, dan maunya nyuci pake 2 tabung meski agak repot.

    Yaaa gitu dah, hahahahah

    BalasHapus
  8. Dari judulnya pun aku sudah bisa menduga kalau ceritanya pasti ada humor-humornya.

    Kalau dari penuturan kakak, aku bisa menduga kalau menantunya ada gila-gilanya (kata orang Batak begitu). Terus mertuanya tuh sebenarnya sayang. Cuma 'kan orang Batak tu keras. Jadi, kek galak gitu nggak sih?

    Bisa nih jadi hiburan di akhir pekan.

    BalasHapus
  9. Memang seru kalau ceritanya related denga kehidupan, dan Kak Rosi ini kerap meramunya begitu. Kalau ga salah daku pernah baca novel dia yang lain, cuma lupa judulnya apa

    BalasHapus
  10. Filmnya diperankan Raditya Dika dan Ariel Tatum kalo ngga keliru.
    Emang seruuu kalau pantengin drama mertua dan menantu.
    Apalagi ini setting-nya Batak ya kan.
    Makin sweruuu pol!

    BalasHapus
  11. senter pink sama lingerie dijadikan tambalan kebaya itu benar-benar konyol banget, nggak kebayang gimana paniknya Minar sama Sahat. Tapi setuju banget, dinamika mertua dan menantu memang seru kalau dibawakan dengan humor begini. Ringan, menghibur, tapi tetap ada pesan hangat soal saling menghargai perbedaan generasi. Jadi makin penasaran juga nih sama versi filmnya, bakalan sekonyol novelnya atau nggak ya?

    BalasHapus
  12. Ngakak banget baca soal Senter Pink, sumpah. Nggak bisa kebayang kalau itu terjadi padakuuu. Belum lagi soal Lingerie buat nambal kebaya, full ngakak wkwkw. Eh tapi aku nggak punya sih, hehe. Tapi lucu juga ceritanya, baca ulasanya aja ngakak apalagi full novelnya. Mungkin ini juga alasan kenapa kita harus tinggal jauh dari mertua kali ya, ada-ada saja pokoknya ceritanya :D

    BalasHapus
  13. Nah, aku malah langsung keinget sama film nya begitu baca kata Minar dan Sahat. Yang memerankan Sahat itu Raditya Dika soalnya. Emang kocak banget sih film nya menurut ku dan Batak sekali. Seru buat dinikmati sambil santai.

    Nah, kalau bukunya malah belum pernah baca. Cakep lho cover buku Catatan Harian Menantu Sinting, suka sama warna nya.

    BalasHapus
  14. Wkwk....ceritanya kocak banget mbaak...ini kalau diangkat ke layar lebar pasti seruu deh..banyak adegan bikin ketawanya...kebayang itu senter pink dimainin ibu mertua wkkwkwk..ada ada aja yaa ide menulisnya pengarang buku ini...kocak bener deh.

    BalasHapus
  15. Baca review ini bikin senyum sendiri dari awal sampai akhir kak Dyah.

    Cerita Minar sama Inang-nya itu kayak potret nyata rumah tangga Batak—beda generasi, beda kebiasaan, tapi tetep hangat tuh.

    Yang paling relate itu soal cuci baju manual versus mesin, atau lingerie yang malah dipakai nambal kebaya.

    Lucu banget tau, sekaligus bikin mikir, untung mertuaku nggak segitunya.

    Novelnya ringan, ngakak, dan ngasih pelajaran soal saling pengertian. Worth dibaca sambil ngemil nih.

    BalasHapus
  16. Aku ada juga jih baca novel ini tapi I belum selesai soalnya bacanya di ipusnas jadi pas baru baca beberapa puluh halaman eh bukunya sudah nggak ada di rak lagi. Tapi di sini Ceritanya hubungan mertua vs menantunya dibikin lucu ya bukan yang bikin kesal gitu kayak yang sering muncul di soamed

    BalasHapus
  17. Penulisnya berhasil dan sukses memasukkan unsur humor ke topik-topik yang cukup sensitif di dalam kehidupan menantu dan mertua dan ini membuat ceritanya jadi menarik dan ringan padahal ini adalah isu yang cukup berat sebenarnya dalam kehidupan berkeluarga

    BalasHapus
  18. Menarik bukunya. Lucu kayaknya. Cari aaaah...

    Dari review ini aku menangkap gesekan dengan mertua itu pasti ada saja, tapi kalau ditanggapi dengan lucu, ya jadinya cerita lucu. Kalau ditanggapi dengan drama, ya jadinya drama rumah tangga 😆

    BalasHapus
  19. Astagfirullah, saya jadi ketawa sendiri saat membaca bagian insiden "senter pink" dan baju dinas yang berakhir jadi tambalan kebaya, benar-benar tidak terbayangkan bagaimana campur aduknya perasaan Minar dan Sahat di momen itu.
    Saya sepakat, daya tarik utama genre metropop memang ada pada kemampuannya mengemas dinamika sehari-hari, yang sebenarnya kalau dialami langsung bisa bikin pusing tujuh keliling, menjadi sesuatu yang ringan, segar, sekaligus sarat makna. Dinamika mertua dan menantu memang topik klasik yang sangat dekat dengan realitas kita, apalagi di fase awal pernikahan ketika dua isi kepala dan dua generasi dipaksa berbagi ruang yang sama. Sepertinya bakal seru nih kalau bisa nonton filmnya langsung he...he...

    BalasHapus
  20. Wah budaya Batak yaaa. Secara nggak langsung kalau baca novel ini berarti bisa belajar dikit2 adat sana donk ya. Tapi keknya kental sekali dengan patriarki nggak sih?
    Tapi keknya generasi muda di novel ini udah lumayan paham ya tentang hubungan yang lebih modern?
    Bagian makan daging anjing juga huhu, tentu buat yang muslim dan dog lover bakalan tercengang2 nih yaa.
    Tapi sepertinya emang lebih banyak hal2 lucuk yang kita dapati di antara konflik mertua menantu di novel ini ya mbak.
    Aku tandain dulu novelnya, semoga segera bisa baca juga :D

    BalasHapus
  21. Judulnya aja sudah bikin ketawa 😂 “Catatan Harian Menantu Sinting” ..kok berasa relate sama aku yang agak syntyng..ini terdengar seperti bakal penuh kejadian absurd yang relate sama kehidupan rumah tangga. Penasaran dengan cerita lucu sehari-harinya, apalagi kalau dibumbui drama keluarga. Kayaknya seru juga ya mbaa buat bacaan santai long weekend

    BalasHapus
  22. Hahaha mungkin saya salah satunya yang bakalan sinting jadi mantu karena punya prinsip sendiri
    Makanya sekarang aku malah menjaga jarak dari semua
    Malas bermasalah

    BalasHapus
  23. kalau ada kehidupan menantu dan mertua yang akur seperti ini, sebagai penonton atau pembaca pastinya ikutan seneng. Apalagi kalau dikemas dengan genre komedi. Ngebayanginnya aja aku udah pasti ketawa ketiwi nih kalau sampe nonton versi visualnya

    BalasHapus