Semangat Untuk Hidup Dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
Bagaimana rasanya menjalani hidup ketika untuk makan saja harus puas dengan nasi yang ditaburi garam? Berbagi makan sepiring untuk dua orang. Jika ada rejeki lebih, dapat tambahan lauk ayam atau telur, tapi itupun tetap berbagi. Di keluarga lainnya ada pula ibu bersama ketiga anaknya tanpa suami yang mendampingi. Susah payah pula mereka bertahan untuk hidup. Kedua penggalan cerita tersebut menggambarkan kehidupan Zenna dan Asrul. Keduanya memiliki satu hal yang sama yang membuat keduanya tetap melangkah yaitu semangat untuk hidup.
Kehidupan yang sulit dan keras, jauh dari kata nyaman dan mimpi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik laksana punguk merindukan bulan. Bahkan untuk mimpipun mereka harus sadar diri.
Asrul dan Zenna tidak mempunyai banyak kemewahan, tetapi mereka berdua memiliki semangat untuk hidup. Mereka memilih untuk berjuang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik walaupun keadaan tidak mudah. Hidup memang tidak selalu memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang. Namun, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Gambaran tersebut saya peroleh saat membaca novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya JS Khairen. Sebuah novel yang sejak lama ingin saya baca. Dan akhirnya sulung saya yang justru membeli novelnya saat pameran buku. Akhirnya saya pun meminjamnya sejenak untuk memuaskan rasa penasaran. Konon dari beberapa review yang saya baca, novel ini mendapatkan banyak pujian. Baca hingga akhir artikel yuk!
Spesifikasi Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
Judul novel : Dompet Ayah Sepatu Ibu
Penulis : JS. Khairen
Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana
Tahun terbit : cetakan pertama, Agustus 2023. Buku milik putri saya cetakan ke-40
Jumlah halaman : 216
ISBN : 978-602-05-3022-2
Sebagian blurb : Ini kisah tentang ayah dan ibu yang tangisnya mampu menyalakan api, yang tangisnya mampu memadamkan api.
Jujurly saya menyukai novel ini. Novel ini bercerita tentang banyak hal, tidak hanya kisah cinta antara Asrul dan Jenna, tetapi juga bagaimana mereka berdua melalui setahap demi setahap tantangan hidup. Banyak hal yang dapat dipetik dari novel ini.
Kisah Asrul dan Zenna Yang Berjuang Dari Keterbatasan
Tidak semua orang memulai hidup dari titik yang sama, begitu pula kisah Asrul dan Zenna yang diceritakan dalam novel ini. Cerita dibuka kisah Zenna seorang gadis pintar yang berjuabg untuk tetap sekolah sekaligus membantu orang tuanya dengan berjualan jagung rebus.
Sebagai anak tengah dari sebelas bersaudara pantang baginya untuk mengeluh. Tangisnya cukup diredam dengan menenggalamkan wajahnya di air agar tangisnya tak terdengar siapapun, termasuk adik dan orang tuanya.Sepatu bekas dari kakak-kakanya turun temurin yang menemaninya menuruni gunung untuk sekolah dan naik gunung kembali untuk pulang.
Bab berikutnya bercerita tentang Asrul yang tidak naik kelas karena tidak bisa membaca. Ayahnya memukuli kakinya karena kecewa dengan Asrul. Pukulan itu berhenti hingga istri kedua ayahnya memanggilnya pulang. Tinggallah Asrul, adiknya dan ibunya yang sedang mengandung. Mereka tinggal di rumah orang tua ibunya yang jauh dari kata layak.
Ayahnya pun tidak selalu memberi nafkah sehingga ibunya mengumpulkan kayu bakar untuk dijualnya di pasar yang lokasinya cukup jauh, itupun harus menuruni gunung dan menggunakan bisa untuk menuju pasar.
Dua latar belakang yang mirip bukan antara keduanya. Tak lama berselang Zenna kehilangan ayahnya setelah menjanjikannya untuk membeli sepatu, sebuah janji yang tak kan bisa ditepatinya. Zenna batal menikah dan hampir pula batal melanjutkan kuliahnya. Suaranya pun sempat hilang karena sakit yang menyerang pita suaranya. Namun, semua itu tak membuatnya menyerah.
Sedangkan Asrul, kondissinya tak jauh berbeda. Sejak SMP dia sudah tinggal jauh dari ibunya. Apapun dia kerjakan demi mendapatkan sesuap nasi. Menjadi makelar cinta dengan membuatkan surat cinta untuk pujaan hatinya. Setidaknya perutnya tidak kelaparan selama beberapa waktu berikutnya.
Cerita bab demi bab bergantian menceritakan tentang kehidupan Asrul dan Zenna. Hingga akhirnya keduanya kuliah di IKIP Padang. Keduanya saling membantu dan mendukung selama kuliah di IKIP. Zenna yang berjualan makanan sambil kuliah memberikan makanan hasil buatannya berdasarkan resep yang diperolehnya dari Harian Semangat tempat Asrul bekerja.
Keduanya pun menikah karena sudah merasa nyaman satu sama lain dan menyadari bahwa hanya semangat yang mereka miliki untuk lolos dari satu kesulitan demi kesulitan. O iya novel ini juga mneggunakan bahasa Minang pada sebagian dialognya, sama halnya dengan novel Negeri 5 Menara yang juga menggunakan bahasa Minang dalam percakapannya.
Namun, tidak perlu khawatir bagi pembaca yang tidak bisa bahasa Minang, ada catatan kakinya kok yang menjelaskan arti katanya dan justru bisa menambah kosakata baru, lho.
Semangat Untuk Hidup versi Asrul dan Zenna
Sobat Dy pernahkah merasakan kadang hidup itu tidak adil pada kita dan rasanya berat sekali untuk menjalaninya? Jujurly saya pernah merasakannya. Namun, saat membaca novel ini, kok rasanya kisah saya ga sebanding dengan kisah Asrul dan Zenna.
Setiap orang mempunyai perjuangannya masing-masing. Tidak perlu membandingkannya. Namun, satu hal yang pasti kita tidak bisa emmilih dari mana kita memulai kehidupan, dari orang tua mana kita dilahirkan, tetapi kita memilki pilihan untuk menentukan langkah berikutnya. Walaupun kita tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, setidaknya tetap berusaha untuk melangkah.
Beberapa hikmah yang saya peroleh saat membaca novel Dompet Ayah Sepatu Ibu :
Tidak menyerah pada keadaan
Asrul dan Zenna bukan berasal dari keluarga yang berada, tapi keduanya tidak menyerah begitu saja. Mereka berdua berusaha untuk kuliah dengan bekerja paruh waktu. Asrul bekerja di Harian Semangat, sedangkan Zenna bekerja di toko sepatu, membuat makanan untuk dijual di kampus. Saat libur kuliah Asrul membantu bapaknya berjualan.
Uang yang diperolehnya tidak hanya untuk membiayai hidupnya dan kuliahnya, tetapi juga dikirimkan ke kampung untuk membantu biaya hidup keluarganya dan sekolah adik-adiknya.
Mengelola keuangan
Sebagian uang Asrul dan Zenna dikirimkan ke kampung sehingga uang yang tersisa pun tak banyak. Mereka berdua harus pandai mengelola uang agar cukup untuk membiayai kehidupannya dan membiayai kuliahnya. Walaupun kuliah negeri lebih terjangkau tetapi nominal yang dibutuhkan tak bisa dibilang sedikit.
Zenna pernah membatalkan mendaftar ulang dan mengikuti UMPTN tahun berikutnya demi mencukupkan dana untuk membayar biaya semester, daftar ulang dan biaya hidup selama di Padang. Saat itu Zenna bekerja sebagai pengrajin emas. Penghasilannya dibelikan emas yang nantinya dijual sesuai rencananya, kuliah di IKIP Padang.
Zenna menabung emas dan menyimpannya di kaleng, dia akan menjualnya jika dibutuhkan. Kadang kaleng itu hampir penuh pun sebaliknya kadang kosong tak bersisa. Namun, keduanya tak menyerah pada keadaan.
Bekerja dengan semangat
Tak ada pilihan lain untuk mendapatkan uang selain dengan bekerja. Zenna pernah bekerja sebagai pengrajin emas untuk mengumpulkan biaya daftar ulang kuliah dan biaya hidup di Padang. Asrul bekerja membuat kliping, mencari informasi untuk membuat berita agar lolos tayang di harian Semangat, tempatnya bekerja.
Selama pekerjaan itu halal, pantang malu bagi mereka untuk melakukannya. Bahkan membuatkan surat cinta untuk temannya pun pernah dilakukan Asrul. Bahkan ada yang akhirnya menjadi sepasang suami istri
Tetap berbuat baik
Rumah kontrakan Asrul dan Zenna hanya memiliki 2 kamar, tetapi mereka memilih untuk mengajak adik-adiknya dan ibunya untuk tinggal di Padang sehingga adiknya dapat menempuh pendidikan yang lebih baik.
Rumah milik Asrul dan Zenna tidak besar dan berada di perbatasan kota Padang dengan kabupaten. Namun, rumah tersebut pernah menampung beberapa keluarga teman Asrul dan Zenna yang tertimpa bencana alam. Walaupun mereka berdua terpaksa mengambil tabungannya untuk menyediakan makan dan minuman untuk tamu-tamu mereka, keduanya tak segan melakukannya.
Jeli melihat peluang
Asrul melihat peluang untuk memuat surat cinta karena kerap mendengarkan teman-teman perempuannya memperbincangkan teman-teman prianya. Dia menawarkan pada teman-teman pria untuk membuatkan surat cinta pada teman wanita yang dimaksud. Di kesempatan lain Asrul menangkap peluang mejadi marketing iklan di Harian Semangat dengan
Begitu pula Zenna, untuk menambah penghasilan, dia membuat kue dan menjualnya di kampus. Di waktu lain dia pun masih bekerja di toko sepatu sepulang kuliah. Bekerja dan tetap kuliah, tidak hanya sekedar kuliah tetapi juga berprestasi.
Pendidikan dan pengetahuan dapat menjadi jalan menuju perubahan
Pendidikan dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari sekolah tapi juga sumber yang lain, entah dari koran ataupun dari orang tua. Dengan bekal pendidikan dan pengetahuan dapat membuka wawasan, memperluas pilihan, memberi kesempatan untuk memperbaiki masa depan sekaligus dapat menjadi investasi jangka panjang.
Setidaknya hal tersebut dapat membuat adik-adik Zenna mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.
Jangan melupakan orang yang berjuang bersama kita
Dibalik kesuksesan yang kita raih ada perjuangan dari orang-orang terkasih. Ada yang ikut berjuang, ada pula yang mendoakan, bahkan ada juga yang berkorban baik harta maupun tenaga.
Ada doa dan tangis ibu di sepertiga malam untuk kita seperti yang dilakukan Ummi dan Umak, ibu Asrul dan Zenna. Keduanya melakukan sholat tahajjud di sepertiga malam. Ada lelah ayah yang berjuang mencukupkan nafkahnya untuk anak dan istrinya. Abak, panggilan ayah Zenna bersusah payah membangun sepetak rumah agar anak dan istrinya dapat berteduh di dalamnya.
Penutup
Bagi saya novel ini bagus dan layak untuk dibaca. Saya tidak hanya ingin segera menuntaskan membacanya tetapi juga banyak mendapatkan hikmah dari setiap bab demi bab yang saya baca.
Dompet Ayah Sepatu Ibu membuat saya percaya bahwa hidup perlu diperjuangkan. Asrul dan Zenna tidak memulai hidup dengan banyak harta, tetapi keduanya memiliki sesuatu yang berharga, yaitu semangat untuk hidup.
Dan mungkin, itulah salah satu pelajaran terbesar dari novel ini. Bahwa kadang untuk terus melangkah, kita tidak membutuhkan banyak hal. Kita hanya perlu semangat untuk bertahan dan mencoba sekali lagi.
Apakah Sobat Dy pernah membaca novel Dompet Ayah Sepatu Ibu? Yuk ceritakan di kolom komentar bagaimana pendapat Sobat Dy tentang novel ini!


Novel-novel JS. Khairen selalu sukses membuat kesan mendalam di hati para pembacanya. Banyak tema yang relate dengan kehidupan kita dan memotivasi untuk menjadi lebih baik, seperti halnya cerita dalam Dompet Ayah, Sepatu Ibu.
BalasHapusPoin plus nya JS. Khairen dalam Dompet Ayah, Sepatu Ibu mengenalkan kita pada diksi-diksi indah Minang sebagai tanah asli kelahirannya, sambil tak lupa memberikan footnote agar kita pahami lebih dalam.
Kabarnya novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu ini akan diangkat ke layar lebar juga, ya. Kalau versi bukunya saja sudah sangat luar biasa, hmm.. jadi penasaran juga dengan versi filmnya