Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Semangat Untuk Hidup Dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu

 
Semangat Untuk Hidup Dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu

Bagaimana rasanya menjalani hidup ketika untuk makan saja harus puas dengan nasi yang ditaburi garam? Berbagi makan sepiring untuk dua orang. Jika ada rejeki lebih, dapat tambahan lauk ayam atau telur, tapi itupun tetap berbagi. Di keluarga lainnya ada pula ibu bersama ketiga anaknya tanpa suami yang mendampingi. Susah payah pula mereka bertahan untuk hidup. Kedua penggalan cerita tersebut menggambarkan kehidupan Zenna dan Asrul. Keduanya memiliki satu hal yang sama yang membuat keduanya tetap melangkah yaitu semangat untuk hidup.

Kehidupan yang sulit dan keras, jauh dari kata nyaman dan mimpi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik laksana punguk merindukan bulan. Bahkan untuk mimpipun mereka harus sadar diri. 

Asrul dan Zenna tidak mempunyai banyak kemewahan, tetapi mereka berdua memiliki semangat untuk hidup. Mereka memilih untuk berjuang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik walaupun keadaan tidak mudah. Hidup memang tidak selalu memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang. Namun, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.

Gambaran tersebut saya peroleh saat membaca novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya JS Khairen. Sebuah novel yang sejak lama ingin saya baca. Dan akhirnya sulung saya yang justru membeli novelnya saat pameran buku. Akhirnya saya pun meminjamnya sejenak untuk memuaskan rasa penasaran. Konon dari beberapa review yang saya baca, novel ini mendapatkan banyak pujian. Baca hingga akhir artikel yuk!


Spesifikasi Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu 

Judul novel : Dompet Ayah Sepatu Ibu

Penulis : JS. Khairen

Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana

Tahun terbit : cetakan pertama, Agustus 2023. Buku milik putri saya cetakan ke-40

Jumlah halaman : 216

ISBN : 978-602-05-3022-2

Sebagian blurb : Ini kisah tentang ayah dan ibu yang tangisnya mampu menyalakan api, yang tangisnya mampu memadamkan api.

Jujurly saya menyukai novel ini. Novel ini bercerita tentang banyak hal, tidak hanya kisah cinta antara Asrul dan Jenna, tetapi  juga bagaimana mereka berdua melalui setahap demi setahap tantangan hidup. Banyak hal yang dapat dipetik dari novel ini. 


Kisah Asrul dan Zenna Yang Berjuang Dari Keterbatasan

Tidak semua orang memulai hidup dari titik yang sama, begitu pula kisah Asrul dan Zenna yang diceritakan dalam novel ini. Cerita dibuka kisah Zenna seorang gadis pintar yang berjuabg untuk tetap sekolah sekaligus membantu orang tuanya dengan berjualan jagung rebus.

Sebagai anak tengah dari sebelas bersaudara pantang baginya untuk mengeluh. Tangisnya cukup diredam dengan menenggalamkan wajahnya di air agar tangisnya tak terdengar siapapun, termasuk adik dan orang tuanya.Sepatu bekas dari kakak-kakanya turun temurin yang menemaninya menuruni gunung untuk sekolah dan naik gunung kembali untuk pulang. 

Bab berikutnya bercerita tentang Asrul yang tidak naik kelas karena tidak bisa membaca. Ayahnya memukuli kakinya karena kecewa dengan Asrul. Pukulan itu berhenti hingga istri kedua ayahnya memanggilnya pulang. Tinggallah Asrul, adiknya dan ibunya yang sedang mengandung. Mereka tinggal di rumah orang tua ibunya yang jauh dari kata layak.

Ayahnya pun tidak selalu memberi nafkah sehingga ibunya mengumpulkan kayu bakar untuk dijualnya di pasar yang lokasinya cukup jauh, itupun harus menuruni gunung dan menggunakan bisa untuk menuju pasar.

Dua latar belakang yang mirip bukan antara keduanya. Tak lama berselang Zenna kehilangan ayahnya setelah menjanjikannya untuk membeli sepatu, sebuah janji yang tak kan bisa ditepatinya. Zenna batal menikah dan hampir pula batal melanjutkan kuliahnya. Suaranya pun sempat hilang karena sakit yang menyerang pita suaranya. Namun, semua itu tak membuatnya menyerah. 

Sedangkan Asrul, kondissinya tak jauh berbeda. Sejak SMP dia sudah tinggal jauh dari ibunya. Apapun dia kerjakan demi mendapatkan sesuap nasi. Menjadi makelar cinta dengan membuatkan surat cinta untuk pujaan hatinya. Setidaknya perutnya tidak kelaparan selama beberapa waktu berikutnya.

Cerita bab demi bab bergantian menceritakan tentang kehidupan Asrul dan Zenna. Hingga akhirnya keduanya kuliah di IKIP Padang. Keduanya saling membantu dan mendukung selama kuliah di IKIP. Zenna yang berjualan makanan sambil kuliah memberikan makanan hasil buatannya berdasarkan resep yang diperolehnya dari Harian Semangat tempat Asrul bekerja.

Keduanya pun menikah karena sudah merasa nyaman satu sama lain dan menyadari bahwa hanya semangat yang mereka miliki untuk lolos dari satu kesulitan demi kesulitan. O iya novel ini juga mneggunakan bahasa Minang pada sebagian dialognya, sama halnya dengan novel Negeri 5 Menara yang juga menggunakan bahasa Minang dalam percakapannya.

Namun, tidak perlu khawatir bagi pembaca yang tidak bisa bahasa Minang, ada catatan kakinya kok yang menjelaskan arti katanya dan justru bisa menambah kosakata baru, lho.

Review Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu

Semangat Untuk Hidup versi Asrul dan Zenna

Sobat Dy pernahkah merasakan kadang hidup itu tidak adil pada kita dan rasanya berat sekali untuk menjalaninya? Jujurly saya pernah merasakannya. Namun, saat membaca novel ini, kok rasanya kisah saya ga sebanding dengan kisah Asrul dan Zenna.

Setiap orang mempunyai perjuangannya masing-masing. Tidak perlu membandingkannya. Namun, satu hal yang pasti kita tidak bisa emmilih dari mana kita memulai kehidupan, dari orang tua mana kita dilahirkan, tetapi kita memilki pilihan untuk menentukan langkah berikutnya. Walaupun kita tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, setidaknya tetap berusaha untuk melangkah.

Beberapa hikmah yang saya peroleh saat membaca novel Dompet Ayah Sepatu Ibu :

Tidak menyerah pada keadaan

Asrul dan Zenna bukan berasal dari keluarga yang berada, tapi keduanya tidak menyerah begitu saja. Mereka berdua berusaha untuk kuliah dengan bekerja paruh waktu. Asrul bekerja di Harian Semangat, sedangkan Zenna bekerja di toko sepatu, membuat makanan untuk dijual di kampus. Saat libur kuliah Asrul membantu bapaknya berjualan.

Uang yang diperolehnya tidak hanya untuk membiayai hidupnya dan kuliahnya, tetapi juga dikirimkan ke kampung untuk membantu biaya hidup keluarganya dan sekolah adik-adiknya. 


Mengelola keuangan

Sebagian uang Asrul dan Zenna dikirimkan ke kampung sehingga uang yang tersisa pun tak banyak. Mereka berdua harus pandai mengelola uang agar cukup untuk membiayai kehidupannya dan membiayai kuliahnya. Walaupun kuliah negeri lebih terjangkau tetapi nominal yang dibutuhkan tak bisa dibilang sedikit.

Zenna pernah membatalkan mendaftar ulang dan mengikuti UMPTN tahun berikutnya demi mencukupkan dana untuk membayar biaya semester, daftar ulang dan biaya hidup selama di Padang. Saat itu Zenna bekerja sebagai pengrajin emas. Penghasilannya dibelikan emas yang nantinya dijual sesuai rencananya, kuliah di IKIP Padang.

Zenna menabung emas dan menyimpannya di kaleng, dia akan menjualnya jika dibutuhkan. Kadang kaleng itu hampir penuh pun sebaliknya kadang kosong tak bersisa. Namun, keduanya tak menyerah pada keadaan.


Bekerja dengan semangat

Tak ada pilihan lain untuk mendapatkan uang selain dengan bekerja. Zenna pernah bekerja sebagai pengrajin emas untuk mengumpulkan biaya daftar ulang kuliah dan biaya hidup di Padang. Asrul bekerja membuat kliping, mencari informasi untuk membuat berita agar lolos tayang di harian Semangat, tempatnya bekerja. 

Selama pekerjaan itu halal, pantang malu bagi mereka untuk melakukannya. Bahkan membuatkan surat cinta untuk temannya pun pernah dilakukan Asrul. Bahkan ada yang akhirnya menjadi sepasang suami istri


Tetap berbuat baik

Rumah kontrakan Asrul dan Zenna hanya memiliki 2 kamar, tetapi mereka memilih untuk mengajak adik-adiknya dan ibunya untuk tinggal di Padang sehingga adiknya dapat menempuh pendidikan yang lebih baik.

Rumah milik Asrul dan Zenna tidak besar dan berada di perbatasan kota Padang dengan kabupaten. Namun, rumah tersebut pernah menampung beberapa keluarga teman Asrul dan Zenna yang tertimpa bencana alam. Walaupun mereka berdua terpaksa mengambil tabungannya untuk menyediakan makan dan minuman untuk tamu-tamu mereka, keduanya tak segan melakukannya.


Jeli melihat peluang

Asrul melihat peluang untuk memuat surat cinta karena kerap mendengarkan teman-teman perempuannya memperbincangkan teman-teman prianya. Dia menawarkan pada teman-teman pria untuk membuatkan surat cinta pada teman wanita yang dimaksud. Di kesempatan lain Asrul menangkap peluang mejadi marketing iklan di Harian Semangat dengan

Begitu pula Zenna, untuk menambah penghasilan, dia membuat kue dan menjualnya di kampus. Di waktu lain dia pun masih bekerja di toko sepatu sepulang kuliah. Bekerja dan tetap kuliah, tidak hanya sekedar kuliah tetapi juga berprestasi. 


Pendidikan dan pengetahuan dapat menjadi jalan menuju perubahan

Pendidikan dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari sekolah tapi juga sumber yang lain, entah dari koran ataupun dari orang tua. Dengan bekal pendidikan dan pengetahuan dapat membuka wawasan, memperluas pilihan, memberi kesempatan untuk memperbaiki masa depan sekaligus dapat menjadi investasi jangka panjang.

Setidaknya hal tersebut dapat membuat adik-adik Zenna mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.


Jangan melupakan orang yang berjuang bersama kita

Dibalik kesuksesan yang kita raih ada perjuangan dari orang-orang terkasih. Ada yang ikut berjuang, ada pula yang mendoakan, bahkan ada juga yang berkorban baik harta maupun tenaga. 

Ada doa dan tangis ibu di sepertiga malam untuk kita seperti yang dilakukan Ummi dan Umak, ibu Asrul dan Zenna. Keduanya melakukan sholat tahajjud di sepertiga malam. Ada lelah ayah yang berjuang mencukupkan nafkahnya untuk anak dan istrinya. Abak, panggilan ayah Zenna bersusah payah membangun sepetak rumah agar anak dan istrinya dapat berteduh di dalamnya.


Penutup

Bagi saya novel ini bagus dan layak untuk dibaca. Saya tidak hanya ingin segera menuntaskan membacanya tetapi juga banyak mendapatkan hikmah dari setiap bab demi bab yang saya baca.

Dompet Ayah Sepatu Ibu membuat saya percaya bahwa hidup perlu diperjuangkan. Asrul dan Zenna tidak memulai hidup dengan banyak harta, tetapi keduanya memiliki sesuatu yang berharga, yaitu semangat untuk hidup.

Dan mungkin, itulah salah satu pelajaran terbesar dari novel ini. Bahwa kadang untuk terus melangkah, kita tidak membutuhkan banyak hal. Kita hanya perlu semangat untuk bertahan dan mencoba sekali lagi.

Apakah Sobat Dy pernah membaca novel Dompet Ayah Sepatu Ibu? Yuk ceritakan di kolom komentar bagaimana pendapat Sobat Dy tentang novel ini!

27 komentar untuk "Semangat Untuk Hidup Dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu"

  1. Novel-novel JS. Khairen selalu sukses membuat kesan mendalam di hati para pembacanya. Banyak tema yang relate dengan kehidupan kita dan memotivasi untuk menjadi lebih baik, seperti halnya cerita dalam Dompet Ayah, Sepatu Ibu.

    Poin plus nya JS. Khairen dalam Dompet Ayah, Sepatu Ibu mengenalkan kita pada diksi-diksi indah Minang sebagai tanah asli kelahirannya, sambil tak lupa memberikan footnote agar kita pahami lebih dalam.

    Kabarnya novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu ini akan diangkat ke layar lebar juga, ya. Kalau versi bukunya saja sudah sangat luar biasa, hmm.. jadi penasaran juga dengan versi filmnya

    BalasHapus
  2. Semangat untuk hidup dari novel ini memang sangat besar ya
    Bagi saya juga novel ini memang sangat bagus dan layak untuk dibaca. Ada banyak hikmah dari setiap bab demi bab yang dikisahkan dalam novelnya

    Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu melalui tokohnya Asrul dan Zenna mencontohkan bagaimana memulai hidup dengan tanpa harta, tetapi keduanya memiliki sesuatu yang berharga, yaitu semangat untuk hidup. Dan itu pelajaran penting dalam kehidupan ini

    BalasHapus
  3. Aku juga sudah baca novel ini mbaa dan kebetulan punya beberapa koleksi novel dari JS Khairen ini karena menurutku selalu ada sarat makna dlm setiap ceritanya dan dari sini kita jga bisa melihat pengorbana orangtua demi sekolah anaknya, kalo gak salah ini cerita tentang kedua orang tua JS Khairen yaa...
    Setahuku novel ini juga sedang dalam pengerjaan film nya, gak sabar sie pengen tau seperti apa film nya nanti apakah akan sebagus novelnya soalnya kan kadang ekpektasi kita sebagai pembaca berbeda dengan eksekusi dari pembuat film yaa hehe

    BalasHapus
  4. JS Khairen emang keren! Dia pernah jadi narasumber bedah buku di Perpustakaan BI, jl Mayangkara (dekat BonBin Surabaya)
    Pokoke seruuu emang sosok satu ini.
    Bisa bikin GenZ semangatt baca juga. Aaakk, ga sabar buat lihat pilemnyaaa, katanya mau diadaptasi ke bentuk layar lebar

    BalasHapus
  5. Saya sudah baca novel ini. Memang keren isi dalamnya, karena mengajarkan kita untuk bersemangat dalam menghadapi hidup, tidak peduli apa latar belakang kita dan bagaimana kondisi kita. Salut sama Asrul dan Zenna yang hidupnya bisa tahan banting.

    Apalagi kalau memang kisahnya mau ditayangkan ke layar lebar. Wah, engga sabar deh pengen nonton.

    BalasHapus
  6. Buku ini banyak banget direkomendasiin. Banyak yang beli dan tunjukin di sosmed juga. Tahun lalu saya juga ikutan beli di toko orens, tapi belum ada selera untuk bacanya. Setelah baca ulsannya di sini jadi semangat untuk bacanya.

    BalasHapus
  7. Menarik nih. Terkadang novel yang bagus begini bisa memberi pembelajaran hidup. Meskipun katakanlah, ceritanya hanyalah fiksi. Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu nih kayaknya emang menggambarkan betapa semangat untuk mengubah kehidupan itu penting

    BalasHapus
  8. Saya belum pernah membaca novel atau buku JS. Khairen. Tapi dengan buku terbit di Gramedia dan sudah cetakan 40, pastinya buku ini bagus dan termasuk best seller. Saya jadi ingin membacanya. Apalagi kisahnya sangat relevan dengan kehidupan dan banyak dialami oleh orang. Banyak hal yang bisa diambil, terutama soal semangat berjuang hidup, karena semua akan indah pada waktunya. Ini kalau difilmkan, pasti bagus sekali.

    BalasHapus
  9. Perjuangan Asrul dan Zenna bener-bener jadi pengingat kalau keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Kisah simpel kayak berbagi nasi garam atau simpanan emas di kaleng itu kerasa dekat dan jujur banget. Salute juga buat anaknya yang jeli pilih buku bagus sampai bikin ibunya ikut ketagihan baca
    Jadi makin penasaran pengen baca sendiri karya JS Khairen yang satu ini.

    BalasHapus
  10. Salah satu readlistku nih mbak, yang sayangnya sampe sekarang belum aku beliii bukunya. Waktu tu cuma baca sampel gratisnya doang di Google PlayBook. Itupun aku langsung nahan air mata, saking sedih premis cerita dan pilihan diksi mas khairen yang begitu powerful.

    Ah, kalau beneran bakal diangkat ke layar kaca, kayaknya mantap betul sih ini. Apalagi latar cerita ekonomi lemah yang diangkat kang Khairen ini, memang relate sekali dengan realita di Indonesia.

    BalasHapus
  11. Wah, aku tiap ke Gramedia selalu ketemu buku ini, tapi karena masih ada PR baca buku lain jadi aku belum berani membelinya.
    Asrun dan Zenna, hmmm, jangan2 nih berangkat dari kisah nyata penulisnya? Hehe
    Tapiii aku setuju mbak, hidup perlu diperjuangkan, apalagi kalau menyangkut ortu yang waktu zaman sekolah tu kek bekerja keras membiayai kita sekolah supaya sukses yaa.
    Sekarang gantian kita yang menjadi ortu, yang berusaha tanpa pamrih mengantarkan anak2 kita ke gerbang kesuksesan dunia akhirat.
    Soal semangat hidup juga gitu. Di hari gini sebagai WNI rasa2nya tu udah kek bingung sama arah negara, tetapi yaaa gimanapun kita mesti semangat. Walau mungkin muak dengan banyak keburukan yang dipertontonkan, setidaknya kita bisa mengerem diri dan berusaha semangat senantiasa memperbaiki hidup dari waktu ke waktu.

    BalasHapus
  12. aku juga sudah baca novel ini, mbak. Ini sepertinya novel kisah hidup orang tua penulis yaa dan memang inspiratif banget mengingatkan kita bagaimana pentingnya memperjuangkan pendidikan agar bisa menaikkan derajat kehidupan

    BalasHapus
  13. Mba dyah maaf yaaaa, aku agak skip2 tulisannya Krn aku ada buku ini dan belum baca 😅😅. Jadi aku baca poin2nya dan penutup dulu.

    Buku ini aku tahu malah dari temen Malaysia yg memang suka beli novel tiap ke JKT . Dia yg nyaranin novel ini Krn katanya baguuuus dan bikin terharu.

    Makanya aku beli. Buku dari js khairen yg pertama aku beli ini. Kalau nanti ternyata cocok, aku mau beli buku lainnya.

    Kalau lihat poin2nya, memang yaaa utk sukses itu ga perlu kaya dulu, yg penting ulet, ga menyerah. Cobaan mah pasti adaaa aja. Justru biasanya orang yg berkali2 kena ujian hidup, dialah yg akan survive nantinya. Krn udah mengalami banyak rintangan dlm bentuk apapun. Ibarat kata udah tertempa yaa.

    Ga sabar mau baca bukunya. Aku lagi namatin buku lain dulu, baru nanti baca bukunya JS yg ini

    BalasHapus
  14. Novelnya JS Khairen memang keren banget sih dalam menyampaikan pesan tentang pengorbanan orang tua. jadi makin sadar pentingnya bersyukur dan menghargai setiap pengorbanan orang tua kita.
    novel karya JS Khairen menyajikan kisah yang menyentuh hati, dan mneginspirasiinspirasi para pembaca untuk lebih menghargai perjuangan orang tua dan menjalani hidup dengan penuh semangat.

    BalasHapus
  15. Poin-poin hikmah yang diambil bagus sekali, Mbak. Saya paling tersentuh dengan bagian 'Jangan melupakan orang yang berjuang bersama kita'. Kebetulan novel ini sudah masuk bucket list bacaan saya, dan setelah membaca ulasan lengkap di sini, rasanya harus segera saya selesaikan dibaca. Penasaran juga ingin lihat adaptasi filmnya nanti!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat Mbak Rella. Novel ini punya pesan yang bagus banget agar kita menjalani hidup dengan semangat dan senantiasa bersyukur dengan segala yang kita miliki sampai saat ini. InsyaAllah kalau terbiasa bersyukur, kelak dengan sadar atau tanpa kita sadari Tuhan selalu tambahkan karunia dan keberkahan dalam hidup kita

      Hapus
  16. Salah satu novel JS khairen yang belum daku baca ini, padahal sudah cetak berulang kali, huhu.
    Karakter Asrul dan Zenna seperti karakter yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, gimana perjuangan mereka biar ga nyerah padahal pastinya ga mudah, apalagi yang seperti Zenna bertubi-tubi ujian hidupnya huhu

    BalasHapus
  17. Semangat untuk hidup. Kalimat ini menjadi penyemangat bagi kita di tengah kesulitan ekonomi saat ini. Tetap bersyukur atas hidup kita skrg. Jgn pernah melihat ke atas sebagai perbandingan hidupmu. Tapi lihatlah ke bawah agar kita mengetahui bahwa lbh bnyk org yg lebih menderita drpd kita saat ini.

    Novel ini bakal jd pembelajaran setiap org. Bahwa utk hidup perlu perjuangan, meski jalannya terjal dan berliku. Apalagi ga ada privilege yg melenggangkan kita menuju jalan kesuksesan.

    BalasHapus
  18. Belum baca novel yang judul ini, aku bacanya judul yang lain. Novelnya selalu jd rekomendasi teratas buat tema novel ayah. Sempat lihat beberapa review yang sudah baca , komennya selalu melow jd suka agak deg-degan gitu kalau mau baca

    BalasHapus
  19. Pesan moralnya dapet banget, 'kita hanya perlu semangat untuk bertahan dan mencoba sekali lagi'. Tokoh Asrul dan Zenna bener-bener mengajarkan kalau kekayaan terbaik dalam hubungan itu semangat dan perjuangan bersama.

    BalasHapus
  20. Kalau baca resensinya buku J.S Kairen ini, jadi inget postingannya si penulis mbak. Which is dekat banget hidup-nya si JS kairen. Kalau nggak salah si penulis pernah cerita itu di IG-nya. Aku sampai sekarang masih belum baca bukunya JS Khairen, kayaknya nunggu mood dulu buat bacanya mbak. Mana reading list-ku makin banyakkkkk.. Huaaaa... :D

    BalasHapus
  21. Kebetulan banget, aku sudah baca bukunya. Beli buku novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya JS Khairen saat ada pameran OOTB.

    Novel yang sangat bagus, banyak pembelajaran baik dari kisah kedua insan ini. Bukan cinta yang menye-menye tetapi hidup yang penuh dengan perjuangan. Tidak mudah, namun diusahakan secara maksimal. Salut, makanya kalau lagi nggak semangat bisa baca ulang bukunya, ada transfer energi baik. Semoga sih di film kan ya.

    BalasHapus
  22. Saya sudah baca novel Dompet Ayah Sepatu Ibu. Suka, deh, novel-novel yang mengangkat tema mewujudkan impian melalui pendidikan. Anak-anak sekolah harus banyak baca cerita sejenis ini.

    BalasHapus
  23. Menarik sekali cerita dari Dompet Ayah Sepatu Ibu ini ya mbak
    Sebuah novel yang memberikan banyak insight
    Bagaimana sebuah proses perjuangan dilakukan dengan semangat dan kelapangan hati

    BalasHapus
  24. Saya abru selesai baca buku inui seminggu yang lalu, jujur malah tangisan hiks. Tapi banyak pesan positif salah satunya ngajak kita agar sesekali menunduk dan lihat ke bawah agar kita bisa lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

    BalasHapus
  25. Ini salah satu wishlist novel saya. Pengin baca tapi novel lain masih menanti. Jadi sabar dulu hehehe...

    Kisahnya menarik. Tentang perjuangan Asrul dan Zhena yang pantang menyerah dengan keadaan. Sungguh inspiratif.

    BalasHapus
  26. Buku ini banyak memberikan pelajaran hidup dan sangat bagus dibaca oleh para generasi muda. Agar mereka memiliki ketahanan mental saat menghadapi bergaia kesulitan dan cobaan di masa sekarang. JS. Khairen emang kereen yaa banyak menulis novel-novel inspiratif

    BalasHapus