Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Satu Kata Saja Dulu Tak Mengapa

Satu Kata Saja Dulu Tak Mengapa


"Bapak dan Ibu, hasil diagnosis putra Bapak dan Ibu, Saka autisme nonverbal," ujar dokter Ana.

Kalimat yang keluar dari bibir dokter Ana terdengar seperti gema yang berulang-ulang di telinga Ajeng. Dahi Ajeng mengernyit. Otaknya berusaha memahami istilah yang baru pertama kali didengarnya itu.

“Maksudnya bagaimana, Dok?” tanyan Ajeng pelan nyaris tak terdengar.

Dokter Ana menatap mereka dengan penuh empati, "Diagnosis tersebut kami simpulkan berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada Saka. Bapak, Ibu perlu diketahui bahwa autisme bukan kutukan seperti mitos yang berkembang di masyarakat. Kondisi ini memang tidak bisa disembuhkan, tetapi terapi yang tepat dapat membantu meningkatkan kemampuan dan kualitas hidup Saka."

Ajeng menggenggam tangan Rama yang berada di sampingnya. Jemarinya terasa dingin. Sunyi, tapi hatinya bergmuruh.

"Bapak dan Ibu tidak sendiri. Banyak anak dengan kondisi serupa yang mampu berkembang dengan baik ketika mendapatkan dukungan yang tepat."

Netra Ajeng beralih ke sudut ruangan. Saka sedang duduk di lantai sambil memainkan sebuah bus mainan. Bukan mendorongnya seperti anak-anak lain, melainkan memutar-mutar rodanya berulang kali dengan penuh ketekunan. Dunia kecilnya seolah hanya berisi roda yang berputar.

Ajeng menahan napas. Mendadak potongan-potongan kenangan muncul dalam pikirannya. Saat anak seusia Saka mulai memanggil "Mama" dan "Papa", Saka hanya diam. Saat anak lain berlarian mengejar teman-temannya, Saka lebih suka menyendiri. Saat namanya dipanggil berkali-kali, Saka sering kali tidak menoleh. Semua tanda itu kini seperti kepingan puzzle yang akhirnya tersusun.

Perjalanan pulang terasa sunyi. Saka duduk di kursi belakang sambil memegang bus kesayangannya. Ajeng memandang keluar jendela. Jalanan sore tampak sama seperti biasanya, tetapi hidupnya terasa berubah.

"Mas..." suara Ajeng bergetar.

"Hm?" jawab Rama.

"Kenapa harus Saka?" tanya Ajeng.

Rama menghela napas panjang. "Bukan kenapa harus Saka. Mungkin pertanyaannya, kenapa Allah mempercayakan Saka kepada kita," lanjut Rama.

Ajeng terdiam. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh perlahan.


Perjuangan Perempuan Hebat

Baca juga : Belajar Jatuh CInta

***


Hari-hari berlalu dengan berbagai penyesuaian. Terapi wicara. Terapi okupasi. Terapi perilaku. Belum lagi konsultasi rutin dan berbagai pemeriksaan lanjutan. Setiap kali melihat rincian biaya, dada Ajeng terasa sesak.

Penghasilan Rama sebagai karyawan swasta sebenarnya cukup untuk kebutuhan keluarga sehari-hari. Namun, biaya terapi yang harus dibayar setiap bulan membuat mereka harus mengencangkan ikat pinggang.

Ajeng mulai belajar berjualan kue secara daring. Ia menerima pesanan kecil-kecilan dari tetangga, teman sekolah, hingga kenalan lama. Lelah, tentu, dia mengerjakannya sendiri, belum sanggup membayar pegawai. Setiap kali lelah, ia mengingat satu hal. Saka membutuhkan mereka, maka ia terus melangkah.

Setiap anak membawa rezekinya sendiri, pesan almarhum ibu Ajeng yang selalu dikenangnya sekaligus menjadi penyemangatnya. Ajeng pun mengamini hal tersebut. Sejak Saka lahir, selalu saja ada jalan ketika mereka merasa buntu.

Ketika biaya terapi meningkat, pesanan kue bertambah. Ketika harus membeli obat yang tidak murah, Rama mendapatkan bonus tak terduga dari kantor. Ketika mereka khawatir soal sekolah, muncul rekomendasi sekolah inklusi yang ternyata sesuai dengan kebutuhan Saka. Seolah Allah selalu mengirimkan pertolongan tepat pada waktunya.


Baca juga : Ada Apa Dengan Cinta dan Rasa?

***


Memasuki usia lima tahun, perkembangan Saka mulai terlihat. Ia sudah bisa mengikuti instruksi sederhana. Ia mulai mampu duduk lebih lama saat terapi. Tantrumnya berkurang. Kontak matanya semakin baik. Diet makanan yang dianjurkan dokter juga mereka jalankan dengan disiplin. Ajeng bahkan belajar membuat berbagai makanan bebas gluten dan kasein agar Saka tetap bisa menikmati camilan favoritnya.

Tidak mudah. Sering kali ia harus menjelaskan kepada keluarga besar mengapa Saka tidak boleh sembarangan makan.

"Pelit, anak enggak diberi jajan."

"Sedikit saja tidak apa-apa."

"Biarin aja, nanti juga sembuh sendiri."

Komentar-komentar itu kadang membuatnya lelah. Namun, Ajeng memilih diam daripada menanggapi satu persatu komentar itu. Orang lain mungkin tidak mengerti. Bagi Ajeng yang terpenting adalah perkembangan Saka.


***

Saat berusia enam tahun, Saka diterima di sekolah inklusi. Hari pertama sekolah menjadi momen yang tak pernah dilupakan Ajeng. Ia berdiri di balik pagar sambil memperhatikan putranya memasuki kelas. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana kalau Saka tidak bisa mengikuti pelajaran? Bagaimana kalau teman-temannya menolak kehadirannya? Bagaimana kalau ia menangis sepanjang hari?

Namun, kekhawatiran itu perlahan memudar. Guru-guru di sekolah tersebut menerima Saka dengan hangat. Teman-temannya juga mulai terbiasa dengan keunikannya. Meski masih berbeda, Saka tidak lagi sendirian.


***

Waktu berjalan. Perkembangan demi perkembangan datang. Saka mulai mengenal huruf. Kemudian membaca. Lalu menulis. Suatu sore, Ajeng hampir menangis ketika melihat tulisan tangan Saka memenuhi satu halaman buku.

Tulisan itu memang belum rapi. Beberapa huruf masih terbalik. Tetapi itu ditulis sendiri. Tanpa bantuan siapa pun. Tanpa tangannya harus dipegang seperti dulu.

"Mas!" Ajeng berlari membawa buku itu kepada Rama. "Lihat!"

Rama membaca tulisan sederhana yang memenuhi halaman tersebut. Matanya berkaca-kaca. "Anak kita hebat ya," tutur Rama.

Ajeng mengangguk. Sangat hebat. Saka bahkan mulai menyukai angka. Ia mampu mengerjakan soal hitungan yang membuat Ajeng sendiri harus berpikir lebih lama. Di sekolah, guru komputer mengatakan bahwa Saka memiliki ketertarikan luar biasa pada pola dan logika. Hal-hal yang dulu terasa mustahil kini perlahan menjadi kenyataan.

Namun ada satu hal yang masih belum berubah. Saka belum berbicara. Tidak satu kata pun.


Baca juga : Kutunggu Kau di Keabadian

***


Suatu malam, Ajeng duduk di samping tempat tidur Saka yang tertidur pulas.Wajahnya terlihat damai. Ajeng mengusap rambutnya perlahan. Tujuh tahun. Sudah hampir tujuh tahun ia menunggu. Menunggu satu kata sederhana. Apa saja. Satu kata pun cukup. Ia tidak membutuhkan kalimat panjang. Tidak perlu percakapan yang rumit. Satu kata saja. Air mata menetes tanpa suara.

"Ya Allah..." bisiknya. "Kalau memang belum waktunya, tidak apa-apa." Ajeng menggenggam tangan kecil Saka. "Satu kata saja dulu tak mengapa."


***


Di tengah penantiannya, Ajeng belajar banyak hal. Salah satunya dengan tidak membandingkan Saka dengan anak lain. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuannya masing-masing, termasuk Saka.

Suatu hari, saat mengikuti acara parenting di sekolah Saka. Pembicara tersebut sempat menyampaikan bahwa, "Anak-anak yang tidak dibebani taklif syariat tidak akan dihisab sebagaimana orang dewasa yang berakal sempurna. Justru orang tuanyalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan Allah."

Kalimat itu menancap kuat di hatinya. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus memikirkannya. Pikirannya berkecamuk, Apa yang akan kujawab kelak? Apakah aku sudah cukup sabar? Apakah aku sudah cukup lembut? Apakah aku sudah menerima?

Malam itu Ajeng menangis dalam sujudnya. Ia teringat saat-saat dirinya kehilangan kesabaran. Saat nada suaranya meninggi. Saat rasa lelah membuatnya ingin menyerah.

Sejak hari itu, ia berjanji pada dirinya sendiri. Saka bukan sedang membangkang. Saka bukan sengaja mempersulit. Saka hanya sedang berjuang dengan caranya sendiri. Dan sebagai ibu, tugasnya adalah menemani perjuangan itu. Bukan memarahinya. Bukan membentaknya.


***


Pagi itu matahari bersinar hangat. Saka duduk di meja belajar sambil menuliskan angka-angka pada buku latihan. Ajeng memperhatikannya dari dapur. Hatinya dipenuhi rasa syukur. Perjalanan mereka memang belum selesai. Masih panjang. Masih banyak tantangan yang menanti.

Namun, hari ini Saka bisa duduk tenang. Bisa belajar. Bisa menulis. Bisa berhitung. Bisa menunjukkan dunia yang luar biasa di dalam pikirannya. Bukankah itu juga sebuah keajaiban? Ajeng tersenyum. Ia tidak lagi terburu-buru meminta takdir bergerak lebih cepat.

Jika hari ini Saka belum berbicara, tidak apa-apa. Jika esok belumpun tak mengapa. Ajeng percaya  bahwa semua memiliki waktunya masing-masing. Dan ketika saat itu tiba, mungkin satu kata pertama akan keluar dari bibir putranya. Mungkin besok. Mungkin tahun depan. Atau entah kapan. Namun, hingga hari itu datang, Ajeng akan tetap menunggu. Dengan sabar. Dengan cinta. Dengan keyakinan yang tidak pernah padam. Satu kata saja dulu tak mengapa.


Antalogi Perjuangan Perempuan Hebat

Cerita pendek 'Satu Kata Saja Dulu Tak Mengapa' merupakan salah satu cerita yang saya buat untuk antologi  dengan tema perjuangan perempuan hebat. Cerita pendek tersebut bercerita tentang perjuangan ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Ada 15 cerita lainnya yang ditulis oleh teman-teman saya yang tergabung dalam proyek menulis bareng ini.

Perjuangan Perempuan Hebat


Wanita dianggap makhluk lemah, tetapi dibalik anggapan itu ada kekuatan luar biasa yang tidak disadari. Hal itulah yang menjadi alasan saya untuk mengusulkan tema ini pada penerbit.

Perjuangan perempuan hebat tidak hanya perempuan yang mengangkat senjata untuk berperang. Namun, setiap wanita mempunyai perjuangannya masing-masing dan memilih tetap bertahan untuk berjuang. Kumpulan cerita ini dikemas apik oleh teman-teman penulis lainnya.

Ada yang bercerita tentang perjuangan perempuan yang menjadi istri pertama dan berbagi cinta dengan madunya. Ada pula cerita tentang perjuangan perempuan yang mengalami anorexia demi mempertahankan suaminya dan kepopulerannya dulu. Perempuan yang berjuang sebagai single parent karena suaminya meninggal. Perempuan yang menjalani LDM dengan anak dan suaminya. Perempuan sebagai tulang punggung keluarga yang menjadi korban kecelakaan KRL di Bekasi. 

Masih banyak pula cerita menarik lainnya dan saat saya mengompilasinya beberapa kali saya meneteskan air mata karena terhanyut dalam ceritanya. Perempuan itu unik dengan segala kelembutan dan keindahannya, dia juga mempunyai kekuatan yang tak disangka. Kesabaran yang tak dapat dijelaskan dengan kata.

Jika Sobat Dy penasaran dengan cerita lainnya, sabar ya bukunya masih dalam proses editing. Namun, sebentar lagi sudah bisa dipesan kok.

Bagaimana menurut Sobat Dy tentang perjuangan seorang perempuan? Siapa sosok perempuan hebat menurut Sobat Dy? Yuk cerita di kolom komentar,

32 komentar untuk "Satu Kata Saja Dulu Tak Mengapa"

  1. salut sama wanita wanita kuat yang tetap berjuang untuk terus hidup :') semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget...nggak semua orang diberi ujian seperti ini. Hanya orang pilihan yang bisa melaluinya. Support semua orangtua dengan amanah luar biasa anak special ini.

      Hapus
  2. Bagus sekali tema yang diusung oleh novel ini karena bisa memberikan sudut pandang yang banyak dan juga berbeda soal perempuan dengan segala cerita dan kisah yang dialami oleh mereka sehingga bisa menginspirasi para membaca supaya lebih menghargai diri sendiri, apabila dirinya perempuan dan kalau laki-laki bisa lebih mengapresiasi perempuan dan memperlakukan mereka dengan lebih baik.

    BalasHapus
  3. Ya Allah. Kenapa nyesek banget sih baca ini. Memang segala sesuatu yang berkaitan dengan anak kerap membuat emak-emak mewwek. Sampai nggak bisa ngetik dan komen apapun, ya.

    BalasHapus
  4. MashaAllah cerita yang menginspirasi sekali, banyak pelajaran yang bisa diambil.
    Garis besarnya adalah Allah memberikan cobaan kepada hamba-Nya bukan tanpa alasan atau semata-mata untuk menyusahkan melainkan kita diberi sesuatu yang lebih berharga kelak

    BalasHapus
  5. Ngena banget bacanya Mbak Dy. Saya sampai menurunkan intensitas bacanya untuk menikmati setiap diksi dan maknanya.
    Banyak pelajaran yang bisa diambil dari cerita fiksi ini, tentang belajar menerima dan berdamai dengan keadaan. InsyaAllah tak ada yang sia-sia dan pasti Allah sudah menyiapkan skenario terbaik untuk setiap kita

    BalasHapus
  6. Ya Allah, jadi gak kerasa ingin meneteskan air mata pas bacanya mbak.
    Aku sepakat si, memang tiap anak itu unik. Masing-masing akan membawa rezeki dan juga ujiannya tersendiri. karena memang pada dasarnya anak itu hanyalah titipan semata. Tinggal bagaimana kita memandangnya, juga menghadapinya.
    Putriku mungkin sejauh ini terlihat pintar. Tapi dia pun ada kekurangannya, dimana kalau menggambar atau tracing sesuatu tuh masih suka agak ngawur, gak bisa sesuai jalur.

    Tapi tak apa lah ya. Aku gak pernah pengen terlalu ngepush dia. Biarkan dia berkembang seiring waktu, sampai nanti akhirnya waktu yang akan menjawab :D

    BalasHapus
  7. Ya Allah. Ikut merasakan betapa berat perjuangan bunda Saka. Tapi, aku salut pada bunda-bunda di luar sana yang seperti bunda Saka. Bukan hal yang mudah memang. Tapi, bisa terus berjuang saja sudah hebat.

    BalasHapus
  8. Dari sekilas yang dikupas kak Dyah, terasa bahwa banyak hikmah yang tersirat dari antologi ini.
    Semoga proses terbit bukunya lancar dan banyak dibaca oleh siapa saja, agar banyak yang tahu juga bahwa anak istimewa itu memiliki hak yang sama dan perlunya dukungan semangat juga kepada orangtuanya baik ibu dan ayahnya dari lingkungan terdekat

    BalasHapus
  9. Baca cerpen ini tuh rasanya kayak lagi dipeluk erat banget. Dalem tapi dikemas dengan bahasa yang adem. Cerita ini juga ngingetin aku untuk sabar, nggak terburu-buru dalam kehidupan... Nggak usah langsung maksa melangkah jauh, pelan-pelan asal konsisten itu udah cukup. Sukses bikin merenung. Beautifully written, Mbak Dyah!

    BalasHapus
  10. Semua dikulik dengan jelas yah Kak Dyah.....sungguh... Penerimaan dan keikhlasan seorang ibu di tengah ujian yang begitu hebat adalah definisi nyata dari kekuatan perempuan yang sesungguhnya. Kadang, keajaiban tidak melulu soal kesembuhan instan, tapi bagaimana kita bisa bersyukur atas setiap proses kecil yang berhasil dilewati.
    Bagi saya, sosok perempuan hebat adalah mereka yang tetap memilih berjuang dan tersenyum, meski dunianya sedang runtuh.

    BalasHapus
  11. Masya Allah mbaak Dy...makin keren aja nih, nulis buku terus. Pengen deh bisa terus berkarya kayak mbak Dy. Semoga proses editing bukunya lancar ya Dan jadi buku best seller. Amiin

    BalasHapus
  12. salut banget sama orang tua terutama para ibu yang dianugerahi anak-anak spesial. ujiannya bukan hanya dari anak namun juga dari lingkungan dan bahkan ekonomi. insyaAllah anak spesial ini juga bisa menjadi tabungan pahala bagi para orang tua yang merawat mereka dengan penuh cinta kasih ya, mbak

    BalasHapus
  13. Terharu bacanya mba. Punya anak berkebutuhan khusus memang ga mudah. Tp akb selalu yakin Allah tak salah memberi. Orangtua yg mempunyai anak spesial pastilah sudah dinilai istimewa oleh Allah juga.

    Menarik , jadi ini antalogy nantinya yaa ... Bagus2 pilihan ceritanya... Tertarik juga yg ttg wanita berbagi dengan madunya.

    Krn akupun ada teman yg hrs ikhlas saat suaminya minta izin utk menikah lagi. . sedih pas dia curhat di blog nya. Sakit tp menerima

    BalasHapus
  14. Kadang juga jengkel kalau ada orang yang suka njulid, "pelit, anak kok nggak boleh ....,"

    Padahal kita sebagai orang tua ya nggak mau ngelarang ini itu, tp kalau bukan karena keadaan ya begimana lagi... 🥲

    Perjuangan perempuan sejak ia lahir itu sudah banyak, mulai stigma sampai tuntutan. Mereka yg diberi anak² spesial bukan cuma hebat tapi luar biasa. Butuh kekuatan dan kesabaran ekstra menghadapi tekanan dari luar dan dalam. Peluk jauh untuk semua perempuan hebat ini.. 💪🏻😍

    BalasHapus
  15. Aku salut sama Ajeng dan segala upayanya dalam membesarkan Saka anaknya. Pasti hatinya campur aduk pas tau kenyataan anaknya alami sakit dan mesti terapi.

    Melalui cerita ini, aku merasakan betapa kuatnya kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya. Perkembangan karakter Ajeng berasa lebih berkembang juga.

    Judul cerita: Satu Kata Saja Dulu Tak Mengapa, memancing orang buat pengen tau gimana kisahnya.

    BalasHapus
  16. Ikut meneteskan air mata nih aku kak Dyah. Aku aja ga bakalan sanggup utk menerima amanah itu. Amanah mendidik anak ‘super’. Tetanggaku jg ada yg punya anak spt ini. Tapi berhubung menengah ke bawah, pendidikannya pun kurang. Beda dgn org kota yg pny akses pendidikan inklusif dan punya biaya utk merawatnya.

    Smg pemerintah ikut memikirkan orgtua yang punya anak berkebutuhan khusus spt ini biar pendidikan mereka bs berjalan optimal. Perkembangan motorik dan mentalnya bs berjalan seiringan dgn anak normal. Smoga ya.

    BalasHapus
  17. Masya Allah, inspiratif sekali. Ketika di luar sana masih banyak orang yang menganggap anak-anak istimewa ini sebagai bagian yang tidak boleh terlihat entah karena dianggap aib keluarga dan semisal, tapi Kakak berhasil mengubah sudut pandang sebagian masyarakat melalui cerita. Meskipun ini fiksi tapi semoga bisa menginspirasi orang tua yang diberikan amanah anak istimewa, supaya bisa berdamai dengan kenyataan, dan bisa memeluk anak-anak dengan sepenuh hati.

    BalasHapus
  18. Anak kedua saya itu nyaris dianggap bisu
    Malas ngomong waktu kecil
    Mungkin lahir pas pandemi
    Kemudian aku berusaha sabar aja sambil terus ajak ngomong
    Lalu sekarang cerewetnya minta ampun haha

    BalasHapus
  19. Kalau saya sih tak lain dna tak bukan pastinya ibu gang melahirkan saya ke dunia. Beliau hebat memiliki sebelas anak dan semua diasuhnya sendiri bersama dgn ayah. Semua sekolah semua semua dipenuhi kebutuhannya meskipun sederhana. Duh membaca tulisan mbak Dy...jadi makin kagum sama perempuan² hebat yang membersamai tumbuh kembang anaknya, bagaimana pun kondisi buah hatinya.

    BalasHapus
  20. Keren mbak ceritanya. Punya anak berkebutuhan khusus itu pasti tidak mudah. Perjuangannya nggak main-main.

    Di luar sana memang banyak wanita hebat dengan segala perjuangannya. Bagus sekali dijadikam tema Antologi.

    BalasHapus
  21. Cerita yang menarik mbak
    Merasakan bagaimana perjuangan Ajeng
    Bagaimana seorang ibu bisa dengan telaten dan sabar menemanu tumbuh kembang anak spesialnya

    BalasHapus
  22. Kebetulan sekolah anakku termasuk yang inklusif dna aku melihat perkembangan anak2 inklusi tu kek turut senang, dari yang dulu ada yang emang nggak bisa apa2 sampai akhirnya jadi anak yang bisa ngomong lancar dan mandiri. Aku yang bukan ortunya aja bangga, apalagi ortunya.
    Membaca kisah kyk gini pasti menyentuh emosi banyak orang terutama para orang tua.

    BalasHapus
  23. Nangiiiss bacanya ka Dy..
    Betapa sering kita mengaku beramal, padahal terhadap orang terdekat ((suami atau anak)) masih zalim dan kurang adab.

    Melalui kisah 'Satu Kata Saja Dulu Tak Mengapa', mari kita menjadi orangtua yang amanah. Dan jadikan setiap langkah kita mengabdi kepada keluarga adalah bentuk sebaik-baiknya ketaatan kepada Allah karena semua akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan amanah yang diberikan.

    Barakallahu fiik, ka Dy..
    Indah sekali..

    BalasHapus
  24. Membaca cerita ini rasanya terharu tetapi juga salut dengan perjuangan seorang ibu yang anaknya autis. Cerita-cerita lainnya sepertinya menarik. Saya mau pesan bukunya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat Mbak Wahyu. Alur ceritanya sederhana, tetapi tema yang diangkat sungguh luar biasa, karena memang perjuangan seorang ibu penuh dinamika, apalagi membersamai anak dengan kebutuhan khusus. Walaupun ini fiksi, tapi cerita yang relate di dunia nyata banyak yang serupa. Maka mudah-mudahan sehat-sehat selalu para ibu hebat

      Hapus
  25. Bagus banget ceritanya mba Dy, inspiratif untuk para orangtua agar menerima apapun kondisi anaknya, tetap bersyukur, sabar dan mendampingi sang anak semaksimal mungkin. Aku termasuk yg percaya bahwa semua anak ada rejekinya masing-masing, jd gak usah mengeluh ini itu, karena selalu ada jalan yg terbuka buat si anak.

    BalasHapus
  26. Ceritanya menarik dan membuat terharu pbaca. Salut dengan perempuan-perempuanhebat yg berjuang dengan masing-masing ujian hidupnya, termasuk yg punya anak istimewa.
    Bukunya bisa dipesan dimana kak?

    BalasHapus
  27. Hi mbak.. Jujur cerpen ini jadi pengingat buat aku karena saat ini aku sedang berusaha sabar sama anakku. Haha anak usia teens gitulah.. Sebenernya bukan hal besar dan hanya butuh masalah komunikasi. Nah kan dengan anak yang bisa berkomunikasi normal aja butuh telaten apalagi dengan anaak yg kemampuan komunikasinya berbeda. Thanks utk cerpen manisnya ya mbak..

    BalasHapus
  28. MasyaAllah ikut terharu membaca cerita ini. Mbak Dyah menceritakannya dengan begitu mengalir sampai-sampai saya tidak bisa membedakan, apakah ini fiksi atau kisah nyata yang diceritakan kembali,

    BalasHapus
  29. Masyaallah, anak-anak istimewa memang hanya dititipkan pada orang tua istimewa pula. Kesabaran seorang ibu yang membersamai anak surga insyaallah berada pada level yang berbeda. Semoga masyarakat kita makin teredukasi, ya, sehingga bisa menciptakan atmosfer yang aman dan menyenangkan bagi semua anak, tanpa terkecuali.

    BalasHapus
  30. Entah kenapa ketika membaca bagian Ajeng sadar akan Saka yang bergulat dengan dirinya atas menghadapi waktunya, rasaku lirih lalu berpikir, seberapa banyak di dunia ini seorang Ibu sadar akan itu ketika anak-anaknya memperlihatkan laku yang tidak sesuai.

    Kemudian tanya berlanjut, seberapa banyak Ibu mampu bersabar dengan keadaan ditengah dirinya-pun bergulat dengan banyak hal yang menuntut. Dari sini aku sungguh salut dan hormat dengan para orang tua, terlebih yang dititipkan buah hati yang punya karakter khusus.

    Banyak doa baik untuk mereka dan kiranya selalu diberi kekuatan dan kebaikan dalam hari-harinya.

    BalasHapus