Stop Sepelein Gejala Mata SePeLe, Deadline dan Audit Tetap Harus Jalan!
'Tinggal beberapa dokumen lagi, tinggal dikit lagi.' Entah sudah berapa kali kalimat itu saya ucapkan dalam hati hari itu. Tetiba telepon berdering, "Dy, jangan lupa update evaluasi efisiensi mesin Y!" reminder pak Bos dari seberang.
Hiks mataku mulai terasa sepet, kemudian kok terasa perih ya. Lama-lama terasa lelah. Namun, jari masih harus terus bergerak di atas keyboard, mata masih harus membaca angka demi angka di layar komputer. Dan masih masih ada setumpuk dokumen yang perlu diperiksa. Sudah beberapa hari ini gantian dokumen yang perlu diperiksa menjelang audit sistem manajemen.
Saya menarik napas, berusaha menyemangati diri ini. 'Sebentar lagi selesai Dyah.' Tapi ternyata oh ternyata “sebentar lagi” tidak selalu sesederhana yang dibayangkan. Ada laporan produksi yang masih harus diinput dan dievaluasi. Ada data yang perlu dianalisis. Ada dokumen sistem manajemen yang harus diperiksa maupun ditandatangani sebelum audit yang tinggal beberapa hari lagi dilakukan.
Hari itu saya belajar satu hal bahwa gejala mata yang terlihat SePeLe ternyata bisa menjadi tidak sepele ketika datang di tengah deadline dan tanggung jawab pekerjaan.
Ketika Pekerjaan Tidak Sekadar Duduk di Depan Komputer
Sebagai seorang departemen head Quality Assurance, keseharian saya memang tidak bisa dilepaskan dari data dan dokumen. Bagi sebagian orang, melihat laporan mungkin hanya sekadar membaca angka. Bagi saya, setiap angka perlu diperiksa. Setiap informasi perlu dicermati. Data perlu dianalisis agar dapat menghasilkan laporan yang tepat.
Begitu pula dengan dokumen sistem manajemen baik mutu, keamanan pangan dan keamanan pakan. Beruntungnya saya memiliki tim yang solid dan saling mendukung yang banyak membantu saya. Namun, ada beberapa pekerjaan yang memang tidak bisa didelegasikan sehingga harus saya kerjakan sendiri.
Apalagi dua tahun terakhir entah mengapa beberapa departmen pemerintahan dan sistem standard update secara berjamaah, sehingga banyak penyesuaian yang perlu dilakukan pada dokumen. Oleh karena itu, ada banyak hal yang perlu diperiksa dengan teliti sebelum sebuah dokumen dinyatakan sesuai dan akhirnya ditandatangani ataupun disetujui oleh manajemen.
Pekerjaan membutuhkan konsentrasi dan konsentrasi membutuhkan mata yang nyaman, bukan? Masalahnya, ketika pekerjaan sedang menumpuk, saya sering kali terlalu fokus menyelesaikannya sampai lupa memberikan jeda kepada mata.
Hari itu pun begitu sama seperti hari-hari sebelumnya. Saya bekerja cukup lama di depan layar. Input data hingga menganalisa data yang masuk, memeriksa data, berpindah dari laporan produksi maupun laboratorium dan laporan lainnya, bergantian dari lembar kerja yang satu ke lembar kerja lainnya.
Sampai akhirnya mata mulai memberikan tanda, SePeLe.
SEpet.
PErih.
LElah.
Awalnya saya pikir, ah, paling cuma mata capek. Saya hampir saja mengabaikannya. Lagipula pekerjaan masih banyak yang perlu dikerjakan. Audit pun tetap harus berjalan sesuai jadwal yang telah disepakati sebelumnya.
Namun, justru di situlah saya sadar bahwa saya tidak seharusnya terus memaksa mata bekerja tanpa memberikan perhatian.
Ternyata Mata Juga Bisa “Protes”
Ternyata kejadian yang saya alami merupakan hal yang wajar dialami oleh seseorang yang banyak menghabiskan waktu di depan layar. Hal ini saya ketahui dari beberapa situs kesehatan, seperti National Hospital, Rumah Sakit Pondok Indah.
Umumnya seseorang yang bekerja di depan komputer lebih jarang berkedip karena terlalu fokus dengan apa yang dikerjakannya. Padahal, berkedip membantu menjaga permukaan mata agar tetap lembap. Berkurangnya frekuensi berkedip dapat meningkatkan penguapan air mata dan berkontribusi terhadap gejala mata kering. Udara kering maupun hembusan AC juga dapat memperburuk penguapan air mata.
Dan ternyata jika dipikir-pikir, aktivitas saya hari itu memang seperti sebuah “paket lengkap”, yaitu :
- Menatap monitor terlalu lama untuk input data dan menganalisa data
- Memeriksa dokumen.
- Menganalisis laporan.
Ketika sedang fokus, saya bahkan tidak sadar bahwa mata berkedip lebih jarang. Baru ketika mata terasa sepet dan perih, saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu sibuk menjaga agar pekerjaan selesai sampai lupa menjaga kenyamanan mata sendiri.
Saya Memilih Berhenti Sejenak
Daripada tersiksa, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti sejenak untuk meredakan ketidaknyamanan pada mata. Bukan berhenti bekerja untuk waktu yang lama, lo. Saya hanya memberi kesempatan kepada mata untuk beristirahat. Saya memejamkan mata beberapa saat dan menjauhkan pandangan dari layar. Ternyata sesederhana itu pun terasa membantu.
Mayo Clinic merekomendasikan mengambil jeda mata ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi visual dalam waktu lama. Menutup mata beberapa saat atau berkedip berulang kali dapat membantu menyebarkan air mata secara lebih merata pada permukaan mata.
Namun hari itu saya masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan sehingga saya membutuhkan bantuan tambahan. Insto Dry Eyes, pertolongan pertama pada mata saya yang SEpet, PErih da LElah.
Insto di Tengah Tumpukan Dokumen
Saya mencoba meneteskan Insto Dry Eyes, kemudian memejamkan mata sejenak. Rasa nyaman pun perlahan merambat. Insto Dry Eyes memang digunakan untuk membantu mengatasi gejala mata kering dan memberikan efek pelumas seperti air mata. Produk tersebut mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) 3,0 mg sebagai bahan aktifnya.
Saya tidak langsung kembali menatap layar komputer, melainkan memberi jeda sehingga mata bisa beristirahat. Setelah itu rasa nyaman pada mata terasa. Tak lama saya pun melanjutkan kembali memeriksa dokumen dan analisa data. Syukurlah pelan-pelan tumpukan dokumen berkurang. Selama ini saya sering menganggap istirahat sebagai sesuatu yang bisa dilakukan nanti. Padahal, mata sudah lebih dulu meminta perhatian.
Produktif Bukan Berarti Harus Terus Memaksa
Pengalaman tersebut membuat saya mulai mengubah kebiasaan ketika bekerja. Bukan berarti pekerjaan saya menjadi lebih sedikit. Bukan pula berarti saya bisa menghindari layar komputer. Saya tetap harus berhadapan dengan data, laporan, dan dokumen hampir setiap hari.
Namun, sekarang saya berusaha lebih sadar. Ketika bekerja dalam waktu lama, saya mencoba mengalihkan pandangan dari layar, berkedip lebih sering, dan memberikan jeda kepada mata. Posisi layar juga perlu diperhatikan.
Mayo Clinic menyarankan agar layar komputer berada sedikit di bawah level mata untuk membantu mengurangi penguapan air mata. Menghindari hembusan AC atau kipas yang langsung mengenai mata juga dapat membantu.
Ketika mata mulai terasa sepet atau perih, saya tidak lagi buru-buru mengatakan, “Ah, cuma sepele.” Karena saya sudah tahu bagaimana rasanya ketika gejala yang dianggap sepele muncul tepat di tengah pekerjaan penting.
Jangan Tunggu Mata Benar-Benar “Menyerah”
Pekerjaan saya membutuhkan ketelitian. Data harus dibaca dengan cermat. Dokumen harus diperiksa dengan teliti. Keputusan harus dibuat berdasarkan informasi yang benar. Semua itu tentu membutuhkan kondisi yang mendukung, termasuk mata yang nyaman.
Ketika audit sedang berjalan dan dokumen masih menumpuk membuat saya belajar untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh sendiri.
Ketika mata mulai terasa
SEpet.
PErih.
LElah.
Jangan disepelekan. Lakukan beberapa hal berikut, di antaranya:
- Berikan jeda.
- Alihkan pandangan dari layar.
- Berkediplah lebih sering.
- Atur lingkungan kerja agar lebih nyaman.
Dan bila diperlukan, gunakan tetes mata Insto Dry Eyes yang sesuai untuk membantu meredakan gejalanya. Bagi saya, pengalaman menemukan Insto Dry Eyes di tengah tumpukan dokumen bukan sekadar cerita tentang sebuah obat tetes mata. Ini adalah cerita tentang belajar mendengarkan tubuh di tengah kesibukan
Saya menyadari bahwa menyelesaikan pekerjaan memang penting, tetapi menjaga diri selama menjalankannya juga tidak kalah penting. Karena pada akhirnya, deadline bisa dikejar, dokumen bisa diperiksa kembali, tetapi mata jangan dipaksa sampai benar-benar “menyerah”.Sebab di balik mata yang nyaman, ada konsentrasi yang terjaga, pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan baik, dan tanggung jawab yang tetap berjalan.



Posting Komentar untuk "Stop Sepelein Gejala Mata SePeLe, Deadline dan Audit Tetap Harus Jalan!"
Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel hingga akhir. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Kritik dan saran membangun sangat dinanti.
Terima kasih