Langkah Kecil dari Rumah untuk Mendukung Ekonomi Sirkular Indonesia
"Enak ya mbak bawa wadah gitu," celetuk seorang ibu saat saya menyodorkan wadah pada penjual ikan agar menempatkan ikan yang telah dibersihkannya ke wadah tersebut. Saya pun hanya tersenyum dan menjawab, "Iya Bu, tinggal cuci kemudian marinasi dan simpan di freezer." Saya mengabaikan nada nyinyirnya.
Sejak beberapa waktu saya sengaja membawa wadah dan menatanya di keranjang belanja. Sengaja saya membawa beberapa ukuran wadah kosong untuk berbelanja aneka bahan makanan. Ada ikan, ayam, daging, tahu. Bagi sebagian orang mungkin hal ini terlihat merepotkan. Namun, bagi saya membawa wadah sendiri sudah menjadi kebiasaan yang membuat belanja terlihat lebih praktis sekaligus mengurangi pemakaian kantong plastik sekali pakai dan mengurangi sampah plastik yang masuk ke rumah.
Kebiasaan tersebut tidak hanya saya lakukan saat berbelanja ke pasar, tetapi juga saat belanja ke minimarket hingga hipermarket. Namun, bukan wadah palstik yang saya bawa, tetapi kantong atau belanja. Beberapa tas belanja pun saya simpan di dalam jok motor, cadangan jika saya berbelanja sepulang kerja.
Ternyata kebiasaan yang saya lakukan ini merupakan bagian dari ekonomi sirkular Indonesia. Perubahan lingkungan tidak selalu dimulai dari proyek berskala besar, tetapi juga keputusan kecil yang kita lakukan setiap hari.
Ekonomi Sirkular Indonesia
Mungkin beberapa Sobat Dy belum mengetahui tentang ekonomi sirkular, hehehe saya juga baru saja mengetahuinya kok. Dari berbagai sumber yang saya pelajari, ekonomi sirkular merupakan salah satu model produksi dan konsumsi yang bertujuan untuk memperpanjang umur barang, mengurangi limbah serta memanfaatkan sumber daya lebih bijak.
Model ini merupakan perubahan dari model sebelumnya yang lebih dikenal dengan ekonomi linear, yaitu menggunakan sumber daya yang ada untuk memproduksi barang kemudian membuangnya menjadi sampah. Seolah-olah sumber daya dianggap tak terbatas.
Ekonomi sirkular semakin banyak dkenal seiring dengan semakin banyaknya pihak yang peduli dengan terbatasnya sumber daya alam, mengurangi pencemaran hingga membuka lapangan kerja hijau. Gerakan ini juga sedang dilakukan oleh Bank Sampah Induk Bersinar yang menargetkan pembentukan 1.000 Bank Sampah Unit (BSU) sebagai bagian dari Living Laboratory Ekonomi Sirkular di kawasan Oxbow, Kabupaten Bandung. Program tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Selama ini saya berpikir ekonomi sirkular itu merupakan konsep yang rumit dan hanya dapat diterapkan oleh perusahaan besar atau komunitas aktivis lingkungan. Namun, setelah mempelajarinya, ternyata prinsipnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan membawa wadah saat berbelanja ke pasar sehingga mengurangi sampah plastik.
Tak dapat dipungkiri kebiasaan tersebut masih jauh dari sempurna, tetapi saya percaya setiap langkah kecil tetap memiliki arti. Bukankah sebuah langkah besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten dilakukan?
Langkah Kecil dari Rumah yang Ternyata Mendukung Ekonomi Sirkular Indonesia
Jujurly saya bukan aktivis lingkungan, tetapi saya berusaha melakukan apa yang saya bisa dari rumah, di antaranya :
Membawa wadah saat berbelanja
Dengan membawa wadah belanja dan tas belanja setidaknya mengurangi jumlah plastik yang dibawa pulang. Bayangkan saat berbelanja ikan, penjual ikan akan memberikan kantong plastik kecil untuk tiap jenis ikan kemudian menggabungkannya ke dalam kantong plastik yang berukuran lebih besar. Jika Sobat Dy belanja satu jenis ikan tentunya akan mendapatkan dua kantong plastik, kantong plastik pertama sebagai pembungkus primer, kantong plastik kedua sebagai pembungkus sekunder dan berujung keduanya dibuang di tempat sampah.
Lain halnya jika membawa wadah, penjual ikan akan meletakkan ikan yang dibersihkan pada wadah tersebut. Sesampainya di rumah wadah tersebut dapat digunakan kembali untuk menyimpannya di lemari pendingin atau jika ikan langsung dimasak, wadahnya dapat dicuci dan disimpan untuk belanja berikutnya.
Mungkin terlihat sederhana, tetapi dari kebiasaan inilah saya belajar bahwa mengurangi sampah bisa dimulai sebelum sampah itu tercipta.
Membawa wadah minum atau tumbler saat bepergian
Bukan karena ikut-ikutan membawa tumbler gegara viralnya tumbler yang ketinggalan di gerbong kereta lho. Namun, kami sudah lama membiasakan membawa tumbler saat bepergian. Selain lebih hemat, saya juga merasa lebih nyaman karena tidak menambah botol plastik sekali pakai setiap kali bepergian. Hal penting lainnya juga mengurangi minuman perasa yang saat ini semakin banyak varian yang menggoda indera perasa untuk mencobanya.
Memasak secukupnya
Saya bukan seseorang yang piawai memasak, tetapi saya berusaha menghidangkan masakan favorit untuk keluarga saya. Bukan berati saya juga suka bolak balik ke dapur lho. Setidaknya saya memasak sekali di pagi hari untuk dinikmati sejak sarapan hingga makan malam.
Bukan berarti saya memasak dalam jumlah besar juga karena untuk dikonsumsi hingga malam hari. Saya hanya memasak secukupnya yang kira-kira habis dikonsumsi anggota keluarga di hari itu. Walaupun beberapa makanan lebih nikmat jika baru dikonsumsi keesokan harinya. Namun, masakan yang dihangatkan berulang tentunya kandungan gizinya akan menurun. Selain itu, untuk menghindari membuang makanan yang tidak habis dikonsumsi di hari yang sama.
Saya pun akhirnya menyadari bahwa menghargai makanan juga merupakan bagian dari menghargai sumber daya yang telah digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut.
Memperbaiki barang yang rusak
Dengan memperbaiki barang yang rusak setidaknya dapat menambah umur pakai barang tersebut. Selain itu, dengan memperbaikinya Sobat Dy tidak perlu membeli barang baru untuk menggantikan barang yang rusak tersebut. Lebih hemat bukan.
Memanfaatkan barang bekas
Saat anak-anak masih kecil hingga TK saya beberapa kali menggunakan barang bekas untuk membuat mainan bersama anak-anak. Referensi yang saya peroleh ada yang bersumber dari buku Rumah Main Anak atau Instagram atau sumber lainnya. Salah satunya adalah membuat roket. Bahan yang saya gunakan karton bekas, tali rafia dan botol bekas.
Dengan memodihfikasi barang bekas menjadi barang lainnya tentunya dapat menambah umur pakai barang dan memberikan nilai tambah barang tersebut.
Langkah berikutnya yang ingin saya lakukan adalah belajar membuat kompos dengan lahan terbatas. Maklumlah rumah kami tidak mempunyai lahan kosong, semua lahan habis dipenuhi bangunan. Hanya menyisakan sebidang tanah kecil untuk menanam beberapa tanaman hias kesukaan ibu saya.
Ternyata Saya Tidak Berjalan Sendiri
Awalnya saya mengira kebiasaan-kebiasaan tersebut hanya memberikan dampak bagi keluarga kami. Rumah menjadi lebih minim sampah plastik, barang-barang bisa digunakan lebih lama, dan makanan tidak banyak terbuang. Namun setelah membaca tentang gerakan yang diinisiasi Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI), saya menyadari bahwa langkah kecil yang dilakukan setiap rumah tangga dapat menjadi bagian dari perubahan yang jauh lebih besar.
Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar. Dengan melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. YSBI ingin membangun ekosistem yang membuat kebiasaan baik masyarakat tidak berhenti pada tingkat individu, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama.
Penutup
Saya menyadari perjalanan saya masih panjang. Saya bahkan masih belajar memilah sampah organik dan anorganik agar suatu hari nanti bisa mengolah sampah organik menjadi kompos di rumah. Namun, saya percaya perubahan tidak menuntut kita menjadi sempurna sejak hari pertama.
Membawa wadah saat berbelanja, membawa tumbler ketika bepergian, memasak secukupnya, memperbaiki barang yang masih layak digunakan, hingga memanfaatkan barang bekas mungkin terlihat sebagai langkah kecil. Akan tetapi, jika dilakukan oleh semakin banyak orang, kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari perubahan besar.
Semoga semakin banyak keluarga yang berani memulai dari rumah masing-masing. Sebab, ekonomi sirkular Indonesia bukan hanya tentang teknologi atau kebijakan, tetapi juga tentang kebiasaan baik yang terus dilakukan, lalu diperkuat melalui kolaborasi seperti yang dibangun oleh Yayasan Solusi Bersinar Indonesia bersama Bank Sampah Induk Bersinar. Dari rumah, kita bisa ikut berkontribusi menciptakan Indonesia yang lebih bersih, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan.
#IndonesiaBersinar
#EkonomiSirkularIndonesia
#BankSampahIndukBersinar
#LivingLaboratory
#PentahelixIndonesia
#KelolaSampah



Konsep ekonomi sirkular terasa makin masuk akal kalau melihat banyak barang di sekitar kita yang sebenarnya masih bisa digunakan kembali. Kebiasaan membeli, memakai sebentar, lalu membuang memang sulit diputus kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Bahkan sekadar membawa tas belanja atau menggunakan botol minum berulang kali sudah bisa mengurangi barang sekali pakai. Kalau kebiasaan kecil seperti itu dilakukan terus-menerus, dampaknya tentu lebih besar
BalasHapusKonsep ekonomi sirkular memang menarik karena sampah nggak lagi dilihat sekadar sebagai sesuatu yang harus dibuang. Justru ada nilai yang masih bisa dimanfaatkan kembali. Kalau kebiasaan seperti ini dimulai dari rumah, dampaknya kalau dilakukan bersama pasti besar.
BalasHapuswih senangnya ada teman, perlahan saya juga sudah menerapkan kebiasaan membawa tas belanja, membawa tumbler isi air minum serta mengelola sendiri sampah organik yang ada di rumah.
BalasHapusSemoga langkah kecil yang kita lakukan ini sedikit banyak bisa membantu pemerintah dalam menerapkan sistem ekonomi sirkular di Indonesia.
Aku baru dengar ekonomi sirkular mba. Tapi kalo ternyata membawa wadah saat berbelanja itu salah satunya, aku juga sudah melakukannya. Saat berbelanja ke pasar ikan aku selalu bawa kotak untuk naruh itu ikan. Sampe rumah tinggal masukin kulkas. Jadi simpel. Untuk beberapa makanan juga aku sudah mulai pakai wadah sendiri untuk tempatnya. Emang lebih enak, meminimalisir sampah bungkusan
BalasHapusUntuk mendukung ekonomi sirkular dari rumah ternyata bisa dimulai dari hal-hal kecil yaa dan kalau sudah menjadi kebiasaan akan sangat berdampak pada lingkungan. Di tempat kerja saya juga sama mbak, sudah mulai membiasakan tidak menyediakan air mineral botol lagi tapi menyediakan galon minum untuk diisi air minum di tumbler. Penggunaan tumbler lumayan mengurangi sampah plastik.
BalasHapusSemakin banyak masyarakat paham konsep ekonomi sirkular, bakalan banyak sampah jadi barang ekonomis. Buibu jadi mikir mau buang sampah, mending dijadiin cuan. Hehe
BalasHapusSetuju banget, Mbak Dyah! Terkadang kita mikir kalau mau berkontribusi buat lingkungan harus yang besar-besar, padahal dimulai dari bawa wadah sendiri saja dampaknya udah kerasa banget ya.
BalasHapusAku sekarang kadang-kadang juga bawa kotak makan sendiri saat beli makanan di warteg. Walaupun sederhana, tapi cukup senang dapat mengurangi sampah yang dihasilkan saat membeli makan di warteg. Sudah banyak yang membahas gerakan dari Yayasan Solusi Bersinar Indonesia. Semoga kegiatan mulia mereka terus berkembang dan sukses.
BalasHapusAku baru tahu istilah ekonomi sirkular ini, tapi sudah melihat banyak orang menerapkannya. terutama ibu-ibu yang diantar suaminya berbelanja ke pasar dan suami nggak mau mobilnya bau ikan. Akhirnya ibu-ibu bawa wadah plastik. Berawal dari intimidasi prinsip, jadi kebiasaan, dan akhirnya bisa menjadi sebuah terobosan besar juga dalam keluarga.
BalasHapusContoh-contoh yang dilakukan Mbak Dyah sangat menginspirasi. Walaupun terlihat gerakan kecil, tapi jika kita semua melakukan hal serupa, ini akan jadi gerakan besar dan pastinya sampah akan semakin berkurang.
BalasHapusMudah-mudahan akan banyak juga lembaga seperti Yayasan Solusi Bersinar Indonesia yang berinisiasi untuk memberdayakan sampah dan berjalannya ekonomi sirkular. Mimpi besar ini bukan hal mustahil jika semua masyarakat memahami bahaya sampah dan ikut andil dalam melakukan hal-hal kecil dimulai dari sekarang untuk meminimalisasi sampah di sekitar kita