Mengenal Kuliner Khas Bojonegoro Lewat Serabi dan Asem-Asem Daging Daun Kedondong
"Pak, besok beli serabi ya," rajuk putri sulungku yang sangat menyukai serabi. Padahal kami baru saja sampai di Bojonegoro. Yup, hari itu kami berkunjung ke rumah adik saya yang tinggal di Bojonegoro sejak beberapa tahun silam.
Serabi, permintaan anak remaja ini umumnya dijual pagi hari, sejak subuh hingga menjelang pukul 9. Jarang ada yang berjualan di sore hingga malam hari. Sebetulnya tidak hanya putri saya yang menyukainya, saya, suami dan ibu saya pun menyukainya.
Serabi tak pernah kami lewatkan saat berkunjung ke Bojonegoro. Tak heran jika adik saya beberapa kali membawakannya sebagai buah tangan saat pulang ke Sidoarjo.
Saya mengenal serabi sejak kecil. Buyut saya selalu membelikan kmai cicit-cicitnya seporsi saat kami pulang ke Bojonegoro. Mangkok-mangkok tempat serabi sudah antri di penjual serabi yang berjualan tak jauh dari rumah kakek nenek. Kamipun antri menunggu serabinya matang sehingga kami dapat menikmatinya saat masih hangat.
Walaupun bahannya sederhana, hanya tepung beras dan santan yang diaduk rata kemudian dibakar menggunakan tungku tanah liat dan dimasak menggunakan kayu bakar. Namun, rasanya begitu nikmat. Uniknya hingga saat ini cara memasak menggunakkan kayu bakar tetap dipertahankan.
Selain serabi, kuliner lain yang tidak kami lewatkan saat berkunjung ke Bojonegoro adalah asem-asem daging daun kedondong. Baik membelinya atau dimasakkan adik ipar saya. Rasanya tak sama dengan asem-asem daging pada umumnya.
Tambahan daun kedondong yang membuat rasanya lebih segar dan potongan cabai atau cabai utuh yang ditambahkan membuatnya rasa pedas juga hadir dalamkuliner yang satu ini. Menu asem-asem daging daun kedondong juga selalu hadir saat pertemuan keluarga besar Bojonegoro.
Jika sebelumnya saya bercerita tentang sego buwuhan dalam antologi Tradisi Makan Siang Indonesia, maka kali ini saya akan bercerita tentang kederhanaan serabi dan segarnya asem-asem daging daun kedondong. Simak hingga akhir artikel ya!
Serabi, Jajanan Tradisional yang Dirindukan
Mungkin Sobat Dy telah mengetahui bahwa ada berbagai macam jenis serabi, ada serabi terigu dengan petulonya. Setap daerah mempunyai varasinya masing-masing baik bahan hingga penampakannya.
Serabi Bojonegoro dimasak dengan cara tradisional. Adonannya berasal dari tepung beras dan santan, lalu dimasak di atas tungku dengan bahan bakar kayu bakar menggunakan cetakan tanah liat. Cara memasak seperti ini menghasilkan aroma yang sulit ditiru oleh kompor modern. Tepung beras yang digunakan biasanya tepung beras yang dibuat sendiri bukan hasil produksi pabrik lo.
Saya pernah mengamati cara pembuatan adonannya yang ternyata mudah, tepung beras ditambah santan kemudian diaduk. Adonanpun siap dicetak. Setelah matang, serabi biasanya disajikan dengan santan atau ketan yang ditambah taburan kelapa parut dan bubuk kedelai yang menambah cita rasa gurih.
Saya sendiri lebih suka menikmatinya dengan kuah santan dibandingkan dengan ketan. Jika pengunjung menyantapnya di lokasi, biasanya ditemani dengan secangkir kopi hitam atau teh manis hangat. Harga per porsi kisaran 6 ribuan per porsi.
Di tengah menjamurnya makanan cepat saji, masih ada masyarakat yang rela mempertahankan cara memasak tradisional dan memperkenalkannya kepada generasi muda. Serabi akhirnya bukan hanya menjadi makanan khas, tetapi juga pengingat bahwa budaya akan tetap hidup selama masih ada orang-orang yang mau menjaganya.
JIka Sobat Dy berkunjung ke Bojonegoro, penjual serabi dapat dengan mudah ditemukan di beberapa ruas jalan besar. Di Google review juga sudah banyak kok yang mereview serabi Bojonegoro. Serabi mana yang enak, tergantung selera ya. Karena bagi saya rasanya tak jauh beda, enak-enak aja😅
Asem-asem Daging Daun Kedondong, Kuliner Favorit Kami
Kuliner khas Bojonegoro lain yang tak luput dari perhatian kami adalah asem-asem daging daun kedondong. Tante saya sampai menanam pohon kedondong demi mengobati rasa rindu menikmati asem-asem daun kedondong, sehingga tak harus pulang ke Bojonegoro jika ingin menikmatinya.
Jika di Sidoarjo atau daerah lain asem-asem daging menggunakan belimbing wuluh atau asam matang untuk memberikan cita rasa segar. Namun, rasa segar yang ditimbulkan berbeda, ada rasa segar tapi ringan. Daun kedondong muda memberikan rasa asam yang lembut sekaligus aroma yang khas. Dipadukan dengan daging sapi yang empuk, kuah bening yang gurih, dan sedikit rasa pedas dari cabai, lahirlah semangkuk hidangan yang sederhana tetapi mampu membuat siapa saja ingin menambah nasi.
Bagi saya yang tidak terlalu suka makanan pedas, biasanya saya singkirkan dulu cabainya kemudian menikmatinya dengan nasi hangat. Hmm nikmat dan otentik rasanya. Jujurly saya belum pernah memasaknya sendiri.
Ketika Kuliner Menjadi Penjaga Daerah
Belakangan ini saya sering berpikir, mengapa setiap kali berkunjung ke suatu daerah kita selalu mencari makanan khasnya? Padahal, mungkin saja makanan itu bisa kita buat sendiri di rumah.Jawabannya ternyata bukan semata-mata karena rasa.
Kuliner khas selalu membawa cerita tentang daerah asalnya. Cara memasaknya, bahan-bahan yang digunakan, hingga kebiasaan masyarakat yang melestarikannya menjadi bagian dari identitas sebuah tempat. Begitu pula dengan Bojonegoro.
Serabi mengajarkan bahwa tradisi dapat bertahan jika terus diwariskan. Sementara asem-asem daun kedondong menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitarnya.
Dua makanan yang berbeda, tetapi sama-sama menyimpan nilai yang patut dijaga. Saya merasa beruntung karena putri saya dapat mengenal kuliner-kuliner ini sejak kecil. Mungkin saat ini ia hanya tahu bahwa serabi adalah makanan favoritnya.
Namun, saya berharap suatu hari nanti ia juga memahami bahwa di balik setiap gigitan serabi terdapat cerita tentang keluarga, kampung halaman, dan budaya yang telah diwariskan selama puluhan bahkan ratusan tahun. Budaya tidak selalu diwariskan melaiui buku sejarah atau museum, Kadang budaya hadir dalam sepiring makanan hangat yang dnikmati.
Menjaga Warisan Rasa, Menjaga Cerita
Bojonegoro memiliki banyak kuliner khas yang patut dibanggakan. Namun, bagi keluarga kami, serabi dan asem-asem daun kedondong memiliki tempat yang istimewa. Serabi membawa saya kembali pada pelukan hangat seorang buyut yang selalu memikirkan kebahagiaan cicitnya lewat jajanan sederhana. I miss her much.
Sementara asem-asem daun kedondong mengingatkan saya bahwa kekayaan kuliner Indonesia lahir dari kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan alam sekaligus menjaga tradisi.
Mungkin inilah alasan saya selalu percaya bahwa makanan tidak pernah hanya soal rasa. Di balik setiap resep, selalu ada tangan-tangan yang mewariskan tradisi. Di balik setiap aroma yang menguar dari dapur, selalu ada kenangan yang ingin terus dikenang.
Dan di balik setiap perjalanan pulang ke Bojonegoro, selalu ada kerinduan yang terobati melalui semangkuk asem-asem hangat dan seporsi serabi yang gurih. Karena pada akhirnya, warisan tidak selalu berbentuk rumah, sawah, atau harta benda.
Kadang, warisan paling berharga adalah rasa yang mampu membawa kita kembali pulang, siapa pun kita dan sejauh apa pun kita melangkah.
Apa kuliner favorit masa silam yang selalu Sobat Dy rindukan? Cerita di kolom komentar ya


Kalau saya rindu banget sama sego gandul, makanan khas Pati, Jawa Tengah. Semenjak lulus SD sampai sekarang sudah jadi mahasiswa semester akhir belum ada ke sana dan makan sego gandul. Itupun saya sebenarnya masih engga tahu cerita dibaliknya, tapi kalau ingat itu rasanya pengen makan karena rasanya enak.
BalasHapusWaah, Asem-asem daging favoritku. Biasanya selalu dimasakin sendiri sama ibuk. Btw kebetulan aku juga asli Bojonegoro loh mba.. hehehe
BalasHapusAsem Asem Daging Kedondong sepertinya perlu dicoba. Sayangnya saya belum pernah ke Bojonegoro, hanya sempat lewat saja saat naik kereta dari Surabaya ke Semarang tahun lalu. Serabinya juga saya suka. Di Mataram ada serabi jenis ini dan sangat laris. Kapan-kapan saya review ya!
BalasHapusNgiler banjir ini si, menyimak ulasan kuliner, keduanya favorit pula.
BalasHapusDi lidah, sudah ikutan menari dengan kelezatan Asem-Asem Daging daun Kedondong + serabi, padahal ya cuma dibaca dari ulasan di atas..
Wajib bangat diburu kalau pas melintas di Bojonegoro..
Serabi dan asem-asem daging daun kedondong, dua kuliner yang langsung bikin penasaran. Menarik banget karena bukan cuma memperkenalkan makanan khas Bojonegoro, tapi juga ikut mengenalkan cerita dan kekayaan kulinernya. Jadi pengin kulineran langsung ke Bojonegoro!
BalasHapusDaun kedondong memang enak banget dibikin asem-asem. Sayangnya di sini susah dicari. Makanya kalau di kampung sedang panen, saya suka pesan sekalian dibawain daun kedondong.
BalasHapusAku baru tau lho ada makanan asem-asem daging daun kedondong. Biasanya asem-asem daging yang aku makan sih pake belimbing wuluh soalnya. Jadi penasaran pengen cari dan icip, emang lebih mantep icip langsung di tempat asalnya sekalian liburan ya.
BalasHapusKalau serabi, salah satu camilan lawas yang sempat aku icip beberapa kali di kota berbeda. Salah satunya di Cirebon.
Menarik banget kalau ngomongin makanan Indonesia sangat banyak. Aku suka lumpia dan bakso tahu Semarang sih jujur.
Sebagai orang Solo, saya terbiasanya dengan serabi yang dimakan tanpa kuah. Ternyata selain surabi ala Jawa Barat, ada juga serabi khas Bojonegoro yang bahkan bisa dimakan dengan pelengkap ketan ya. Penasaran citarasanya bagaimana, mungkin cenderung ke gurih ya jadinya dengan taburan bubuk kedelai.
BalasHapusKalau serabi rasanya sudah umum ya, beberapa tempat juga ada kuliner serabinya. Nah saya penasaran sama kuliner asem-asem daging daun kedondongnya nih, sayangnya gak ada foto yang cukup jelas dari postingan ini, jadinya tadi saya Googling.
BalasHapusAku jadi penasaran deh dengan rasa dari Asem Asem Daun Kedondong. Beneran deh. Soalnya biasanya yang kutahu, tambahan biar rasanya segar tuh belimbing wuluh.
BalasHapusRupanya inilah ciri khas dari Asem Asem daerah Bojonegoro ya, Mba. Alih-alih pakai belimbing wuluh, malah memanfaatkan daun kedondong. Jadi penasaran sama sejarahnya. Apakah karena dulu pohon kedondong banyak ditanam di sana ya?
Waah ternyata di Bojonegoro ada juga yaa serabi....sama dnegan di daerah saya mbak Dy,,,di kota kelahiran saya Majalengka juga ada serabi. kalau di Sukabumi ada juga tapi tidak sebanyak di majalengka. Enaak banget serabi itu saya suka banget deh. Kalau Asem-asem saya belum pernah mencobanya. Pasti terbvayang deh seger dan enaak dimakan siang-siang yang panas.
BalasHapusUnik banget ide penggunaan daun kedondong untuk memberikan rasa segar yang khas pada kuah asem-asemnya, pasti beda dari versi pada umumnya yang biasa menggunakan belimbing wuluh. Jadi setuju sekali sama Mbak Dyah, bahwa makanan tidak pernah sekadar soal rasa, melainkan selalu menyimpan kenangan hangat, tradisi, dan cerita keluarga yang membuat rindu untuk pulang.
BalasHapusSerabi ini kalau di Sukabumi disebut dengan Surabi. Cara masaknya sama, masih menggunakan cara tradisional dan ini jadi keunikan dan ciri khasnya tersendiri, ya. Yang berbeda paling di toping nya aja, kalau di sini biasanya pakai toping oncom, yang versi kekinian bahkan ada yang menggunakan tambahan durian.
BalasHapusKalau asem-asem daging daun kedondong saya baru denger ini, dan jadinya penasaran pengen nyobain, kebayang sih segernya. Biasanya kan kalau bikin asem-asem daging itu pakai belimbing wuluh, ya. Nah, ini sih menurut saya unik kalau pake daun kedondong. Pengen recook, tapi di sini sudah sangat jarang pohon kedondong nya. Alamat harus jalan-jalan ke Bojonegoro sepertinya :)
asem-asem kedondong ini apa sama dengan garang asem ya mbak? di tempatku ada jual garang asem masakan khas Jawa Timur..itu kayaknya sama apa enggak ya. Masakannya memang pakai asem yang nggak biasa sih. Aku baru pertama kali nyobain soalnya.
BalasHapusKami di Garut menyebut serabi sebagai surabi, Mbak. Di sini juga biasanya serabi banyak ditemukan pada pagi hari. Sekarang toppingnya tersedia dalam banyak pilihan, tetapi yang ori berupa taburan oncom tetap jadi andalan. Btw, sebagai penggemar pedas, saya penasaran banget pengen cicip asem-asem daging daun kedondong.
BalasHapusSiapa yang orang Bojonegoro, ka Dy?
BalasHapusIbukku kampung halamannya Bojonegoro. Selalu mengabari sehari sebelum kepulangan kalau mau serabi, agar dapet yang enak.. Entah, aku juga ga tau yang mana tepatnya.. karena kabarnya pamanku yang memang warlok, si ibuk yang masak serabi ini cepet banget sold-out nyaa... buka shubuh, sebelum matahari terbit, uda gak ada. Huhuhu.. saking antrinyaa..
Tapiii..
Belum pernah makan Asem-asem Daging Daun Kedondong.
Ibukku masak asem-asem, iyaa.. bener ka Dy... pake blimbing wuluh. Enyaakk~
Jadi kangeenn Ibuukk
Bahkan serabi pun ternyata beda-beda yaa. Aku tahunya serabi yang pakai santan coklat itu deh, Mba. Hmmm, masih perlu eksplore kuliner lokal lebih banyak nih
BalasHapusSegar banget ya, KAk. Aku auto jadi nyari resepnya. Eh, btw... meskipun namanya sama, tapi Serabi ternyata bisa punya bentuk yang berbeda, ya.
BalasHapus